LombokPost - Penerapan uji coba sistem lima hari sekolah atau Full Day School (FDS) di Kota Mataram mulai memicu diskusi hangat di kalangan siswa dan orang tua.
Di satu sisi, sistem ini menjanjikan akhir pekan yang lebih panjang, namun di sisi lain, beban fisik dan mental siswa menjadi taruhan utama.
Suara Siswa: Antara Libur Panjang dan Jadwal Padat Respon beragam datang dari para pelajar.
Baca Juga: Uji Coba Full Day School Jenjang SD dan SMP di Mataram Dimulai 12 Januari, Ini Syaratnya
Putri Anggraini, siswi di Kota Mataram, mengaku antusias karena bisa menikmati libur Sabtu dan Minggu bersama keluarga. Namun, bagi Aisyah, sistem ini adalah tantangan manajemen waktu.
"Biasanya pulang sekolah bisa istirahat dulu baru latihan renang dan mengaji. Sekarang, pulang sekolah harus langsung latihan. Jadwal jadi jauh lebih padat," curhat Aisyah.
Apa Itu Full Day School? Sesuai Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017, FDS bukan berarti belajar nonstop hingga malam, melainkan KBM selama 8 jam per hari (Senin-Jumat).
Tujuannya adalah penguatan karakter dan pendalaman materi melalui kegiatan yang lebih interaktif dan menyenangkan.
Sisi Medis: Manfaat vs Risiko Kesehatan Meski bertujuan meningkatkan mutu pendidikan, sistem ini membawa konsekuensi serius dari sisi kesehatan yang sering terlupakan:
Gangguan Nutrisi dan Tidur: Masuk sekolah lebih pagi (pukul 06.45) berisiko membuat anak melewatkan sarapan.
Selain itu, pulang sore yang dilanjutkan dengan les tambahan membuat anak kehilangan waktu istirahat. Kurang tidur terbukti menghambat kemampuan otak menyimpan memori jangka panjang.
Ancaman Stres dan Depresi: Durasi sekolah yang panjang tanpa jeda bermain yang cukup dapat memicu kelelahan mental.
Studi menunjukkan anak yang tidur kurang dari 6 jam sehari tiga kali lebih rentan terkena depresi.
Risiko Penyakit Fisik: Jadwal makan yang berantakan dan minimnya aktivitas fisik di luar kelas meningkatkan risiko sakit maag, flu, hingga masalah jangka panjang seperti obesitas.
Prestasi Tak Selalu Sebanding dengan Durasi Menariknya, durasi sekolah yang lama belum tentu menjamin prestasi selangit. Data menunjukkan bahwa pelajar di negara seperti Singapura, yang jam belajarnya lebih singkat, seringkali memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan pelajar Indonesia yang belajar hingga 8 jam lebih.
Kesimpulan Sistem Full Day School di Mataram adalah pisau bermata dua. Ia memberikan ketenangan bagi orang tua yang bekerja dan waktu keluarga di akhir pekan, namun menuntut ketahanan fisik dan mental ekstra dari siswa. Sekolah diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang benar-benar menyenangkan agar durasi panjang tidak berakhir menjadi beban kesehatan bagi generasi muda.
Editor : Jelo Sangaji