Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Borong Medali di China! Kakak Beradik Sky-Hope Asal Mataram Sabet 'Legend Award' dan Emas di Olimpiade Matematika Dunia

Nurul Hidayati • Rabu, 14 Januari 2026 | 12:52 WIB
Leon Sky Sutrisno Tjiang dan adiknya, Winston Hope Sutrisno, sukses membawa pulang sederet penghargaan bergengsi dari ajang World International Mathematics Olympiad (WIMO) 2026 berlangsung di China.
Leon Sky Sutrisno Tjiang dan adiknya, Winston Hope Sutrisno, sukses membawa pulang sederet penghargaan bergengsi dari ajang World International Mathematics Olympiad (WIMO) 2026 berlangsung di China.

LombokPost - Prestasi membanggakan kembali diukir oleh putra-putri asal Kota Mataram di kancah internasional.

Leon Sky Sutrisno Tjiang dan adiknya, Winston Hope Sutrisno, sukses membawa pulang sederet penghargaan bergengsi dari ajang World International Mathematics Olympiad (WIMO) 2026 yang berlangsung di Shenzhen, China.

Kabar membanggakan datang dari ajang bergengsi World International Mathematics Olympiad (WIMO) yang digelar di Shenzhen, China, pada 3 Januari 2026.

Salah satu putra terbaik NTB dan Indonesia, Leon Sky Sutrisno Tjiang, berhasil menyabet medali emas dan masuk dalam jajaran lima besar dunia di kategori usianya.

Perjalanan Sky sapaan akrabnya menuju puncak tidaklah instan.

Ia harus melewati tiga babak kualifikasi ketat yaitu Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO), Hong Kong International Mathematical Olympiad (HKIMO), dan Big Bay Bei (BBB), dengan syarat minimal meraih dua medali emas untuk bisa terbang ke babak final di Shenzhen.

Taklukkan Soal Level SMA Meski secara administratif terdaftar di kategori kelas 6, Sky harus menghadapi tantangan luar biasa.

Menurut mentornya, tingkat kesulitan soal yang dikerjakan Sky setara dengan materi pelajaran siswa kelas 10 hingga 11 SMA.

Dalam waktu hanya 2 jam, Sky harus menyelesaikan 30 soal rumit yang mencakup lima bidang utama: Logical Thinking, Arithmetic, Number Theory, Geometry, dan Combinatorics.

"Kesulitannya materi yang dikerjakan itu tinggi-tinggi. Kata guru mentor, rata-rata itu soal kelas 10 dan 11 kalau di sekolah biasa. Paling sulit kemarin justru di bagian Logical Thinking," ujar Sky menceritakan pengalamannya.

Dominasi Indonesia di Kancah Dunia Prestasi Sky ini menempatkannya di posisi ke-4 dari sekitar 100 peserta terbaik di levelnya dari berbagai negara.

Hebatnya, dari daftar lima besar pemenang, dua di antaranya berasal dari Indonesia, sementara sisanya berasal dari India dan Thailand.

"Total peserta dari Indonesia ada sekitar 80 orang dari jenjang TK sampai SMA. Di kelompok umur saya, yang masuk lima besar dari Indonesia ada dua orang, saya dan Matthew Elson Morris," tambahnya.

Target Masa Depan Keberhasilan meraih emas tidak membuat Sky cepat puas.

Bocah yang memiliki inisiatif tinggi bersama orang tuanya untuk ikut lomba ini sudah memasang target lebih tinggi di kompetisi berikutnya.

"Ke depannya Sky berharap bisa lebih bagus lagi. Mungkin sekarang emas, target berikutnya bisa masuk tiga besar. Selama Sky bisa, Sky akan ikut terus untuk berprestasi," pungkasnya dengan optimis.

Cerita saudaranya Sky lainnya di balik gemerlap medali dan prestasi internasional, tersimpan kisah perjuangan mental yang luar biasa.

Winston Hope Sutrisno, salah satu delegasi Indonesia di ajang World International Mathematics Olympiad (WIMO) 2026, membagikan pengalaman jujurnya saat harus berhadapan dengan soal-soal yang jauh di luar prediksinya.

Meski telah melakukan persiapan matang, Hope mengaku sempat dilanda rasa gugup dan panik yang luar biasa ketika melihat lembar soal di hadapannya.

Soal yang Berbeda dari Silabus Hope mengungkapkan bahwa tantangan terbesar di Shenzhen tahun ini adalah perubahan silabus yang cukup drastis. Materi yang ia pelajari bersama mentor sebelumnya ternyata sangat berbeda dengan apa yang tersaji di atas meja lomba.

"Padahal pertama Hope pikir bisa, tapi pas di tengah-tengah periksa, banyak yang belum diketahui. Semuanya beda, banyak sekali yang belum tahu," kenang Hope sambil tertawa menceritakan momen tersebut.

Berusaha Fokus di Tengah Tekanan Rasa panik sempat menghampiri Hope ketika menyadari banyak instruksi dan tipe soal yang "agak lain" dari kompetisi sebelumnya.

Namun, di tengah situasi yang menekan tersebut, ia mencoba menunjukkan kualitas mental seorang juara dengan tetap berusaha fokus hingga waktu berakhir.

"Ada panik sih, banyak sekali (soal) yang nggak tahu. Tapi ya berusaha tetap fokus," tambahnya.
Pelajaran Berharga untuk Masa Depan Meskipun sempat merasa "blank" setelah menyelesaikan ujian, kejujuran Hope dalam mengakui kesulitannya justru menunjukkan kedewasaan seorang atlet intelektual.

Pengalaman menghadapi ketidapastian silabus ini menjadi pelajaran berharga bagi Hope dan tim pendamping untuk mempersiapkan strategi yang lebih luas di ajang internasional berikutnya.

Kisah Hope menjadi pengingat bahwa dalam olimpiade matematika tingkat dunia, bukan hanya kecerdasan numerik yang diuji, melainkan juga ketenangan dalam menghadapi hal-hal yang tidak terduga di medan laga.

Leon Sky Sutrisno Tjiang dan adiknya, Winston Hope Sutrisno, sukses membawa pulang sederet penghargaan bergengsi dari ajang World International Mathematics Olympiad (WIMO) 2026 berlangsung di China.
Leon Sky Sutrisno Tjiang dan adiknya, Winston Hope Sutrisno, sukses membawa pulang sederet penghargaan bergengsi dari ajang World International Mathematics Olympiad (WIMO) 2026 berlangsung di China.

Ibu kandung keduanya, Melita Silvia, membagikan kisah di balik layar perjuangan anak-anaknya yang berkompetisi dengan sekitar 900 peserta dari 14 negara.

Hope Raih 'Legend Award' yang Langka Si bungsu Hope berhasil mencuri perhatian dengan menyabet Legend Award.

Penghargaan ini merupakan predikat prestisius yang hanya diberikan kepada peserta yang mampu menyapu bersih medali emas (Gold) di tiga ajang final berbeda, yaitu Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO), Big Bay Bei (BBB), dan Hong Kong International Mathematical Olympiad (HKIMO).

Hope dapat tiga emas di final lomba-lomba itu, jadi dia layak dapat Legend Award. Sedangkan untuk lomba WIMO-nya kemarin, Hope berhasil membawa pulang medali perunggu (Bronze Medal)," jelas Melita Silvia.

Sky Sabet Emas WIMO, Balas Kekalahan Sebelumnya Berbeda dengan sang adik, Sky justru menunjukkan performa puncak di babak final WIMO Shenzhen dengan meraih Medali Emas.

Sang ibu menceritakan bahwa Sky sebelumnya sempat "meleset" di salah satu babak kualifikasi, namun ia berhasil membalasnya dengan hasil maksimal di ajang dunia ini.

Motivasi Unik: Antara Jalan-Jalan dan Top-Up Game Melita mengungkapkan bahwa menjaga mental anak-anak agar tetap semangat berkompetisi di level dunia bukanlah perkara mudah. Ia memiliki strategi khusus untuk memotivasi kedua putranya yang masih duduk di bangku SD tersebut.
"Motivasi utamanya biasanya jalan-jalan. Tapi kadang ada iming-iming lain, seperti beli sesuatu di game Roblox. Saya bilang, kalau menang nanti dibelikan. Itu cara saya menyemangati karena saya lihat mereka punya potensi besar," ungkap Ibu Melita sembari tersenyum.

Selain motivasi hadiah, Melita juga memastikan anak-anaknya mendapatkan dukungan teknis melalui mentor khusus dan latihan soal agar mental mereka tidak jatuh saat menghadapi soal-soal sulit.

Informasi lomba ini awalnya ia peroleh dari lingkungan sekolah di Mataram, yang kemudian berlanjut melalui komunitas olimpiade hingga sekarang.

Keberhasilan Sky dan Hope membuktikan bahwa dukungan keluarga yang tepat, ditambah dengan pembinaan sejak dini, mampu mengantarkan talenta lokal Mataram bersaing dan diakui di panggung pendidikan dunia.

Keberhasilan Leon Sky Sutrisno Tjiang dan Winston Hope Sutrisno meraih medali di ajang olimpiade matematika dunia di Shenzhen tidak lepas dari peran serta sekolah tempat mereka bernaung.

Kepala Sekolah Nusa Alam, Erma Retnowati, menegaskan komitmen sekolah dalam memfasilitasi potensi setiap siswanya hingga ke kancah internasional.

Sekolah memberikan fleksibilitas bagi siswa berprestasi untuk mengikuti ajang perlombaan, termasuk memberikan izin meninggalkan jam pelajaran sekolah demi kompetisi di luar negeri.

Namun, Erma menekankan bahwa prestasi di luar tidak boleh mengabaikan kewajiban utama sebagai pelajar.

Dispensasi yang Bertanggung Jawab Erma menjelaskan bahwa sekolah menerapkan sistem yang disiplin meski memberikan dukungan penuh.

Siswa yang pergi berlomba dalam waktu lama tetap wajib memenuhi tugas-tugas sekolah secara daring.

"Jadi dobel, bukan hanya jalan-jalan saja. Tugas-tugas sekolah tetap harus dipenuhi melalui sistem online. Ini syarat wajib bagi anak agar penilaian akademik mereka tetap terjaga," ungkap Erma Retnowati.

Sinergi Sekolah dan Orang Tua Erma juga memuji peran aktif orang tua yang menyediakan tutor khusus bagi Sky dan Hope.

Karena sekolah memiliki keterbatasan dalam menyediakan tutor olimpiade spesifik, pihak sekolah mengambil peran dengan memberikan ruang dan waktu luang bagi siswa untuk mendalami materi di luar kurikulum reguler.

Bukan Sekadar Pintar, Tapi Juga Perilaku Selain bangga karena nama sekolah ikut harum di level dunia, Erma merasa senang karena Sky dan Hope mampu menjadi role model bagi siswa lainnya di Sekolah Nusa Alam.

Menurutnya, kepintaran akademik harus berjalan beriringan dengan karakter yang baik.

"Kita senang banget punya keluarga yang membuat nama sekolah tambah bagus. Mereka punya komitmen belajar yang bisa menjadi teladan. Dengan ilmu yang bagus, perilaku juga pasti dijaga. Tidak hanya pandai, tapi perilaku juga bagus," tambahnya.

Pihak sekolah berharap prestasi kakak beradik ini dapat terus berkembang dan menginspirasi siswa lain untuk berani mengeksplorasi kemampuan mereka, baik di bidang akademik maupun non-akademik, dengan tetap menjunjung tinggi integritas sebagai pelajar.

Editor : Kimda Farida
#Indonesia #Mathematics #Mataram #medali #lomba