LombokPost- Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Ekoteologi mulai diperkuat di lingkungan madrasah. Sebanyak 45 guru MIN 2 Mataram mengikuti pelatihan dan pendidikan KBC yang dirangkai dengan penguatan wawasan ekoteologi sebagai upaya membentuk karakter siswa yang humanis, toleran, dan peduli lingkungan.
Pelatihan KBC MIN 2 Mataram ini berlangsung sejak 29–31 Januari dan dilanjutkan pada 6–7 Februari 2026. Program tersebut merupakan bagian dari kebijakan Kementerian Agama (Kemenag) dalam mendorong transformasi pendidikan madrasah berbasis nilai kasih sayang dan kepedulian sosial.
Kegiatan pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi ini dibuka Kepala Kantor Kemenag Kota Mataram H Hamdun pada 29 Januari. Kepala MIN 2 Mataram, Ramli, menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi langkah strategis madrasah dalam menyikapi kebijakan pemerintah.
“Pelatihan KBC ini merupakan program Kementerian Agama yang langsung kami respons dengan menggelar diklat bagi seluruh guru. Tujuannya agar nilai cinta benar-benar hadir dalam proses pembelajaran,” ujar Ramli.
Dalam implementasinya, para guru MIN 2 Mataram didampingi oleh Pengawas Pembina Madrasah Kemenag Kota Mataram Zainudin bersama rekan sejawat sebagai fasilitator. Fokus utama pelatihan KBC dan Ekoteologi adalah bagaimana guru mampu mentransfer nilai kasih sayang kepada siswa, mulai dari mencintai diri sendiri, sesama manusia, hingga lingkungan sekitar.
Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah diharapkan mampu mencetak generasi yang memiliki toleransi tinggi. Hal ini sejalan dengan penguatan moderasi beragama yang menjadi ruh utama pendidikan madrasah melalui pendekatan KBC dan ekoteologi.
Sebagai bagian dari penguatan praktik lapangan, para guru MIN 2 Mataram dijadwalkan melakukan observasi langsung di Pondok Pesantren Nurul Haramain NWDI Narmada. Kegiatan ini menjadi bentuk implementasi nyata dari teori KBC dan Ekoteologi yang telah dipelajari.
“Harapan kami, pembelajaran di kelas benar-benar humanis. Guru mengajar dengan cinta, siswa tumbuh dengan toleransi, serta memiliki kepedulian sosial dan lingkungan,” tegas Ramli.
Sementara itu, Pengawas Madrasah Kemenag Kota Mataram Zainudin menilai implementasi KBC dan Ekoteologi menandai babak baru transformasi pendidikan madrasah. Menurutnya, siswa kini tidak hanya ditempa secara akademik, tetapi juga dibekali nilai kepedulian terhadap sesama dan alam.
Zainudin menjelaskan, Kurikulum Berbasis Cinta merupakan bagian integral dari Kurikulum Merdeka versi Kementerian Agama. Intinya adalah penerapan nilai Panca Cinta, meliputi cinta kepada Tuhan, ilmu pengetahuan, sesama manusia, lingkungan, dan tanah air.
“Melalui Panca Cinta, anak-anak diajak mencintai Allah dan Rasul melalui ibadah, mencintai ilmu, peduli sosial, menjaga lingkungan, serta memiliki nasionalisme yang kuat,” jelas Zainudin.
Konsep Ekoteologi dalam KBC juga menjawab tantangan keterbatasan lahan madrasah di perkotaan seperti Mataram. Meski lahan sempit, nilai cinta lingkungan tetap diterapkan melalui penataan ruang kelas, halaman sekolah, hingga integrasi ke seluruh mata pelajaran.
Aspek sosial dalam KBC MIN 2 Mataram juga ditekankan kuat. Siswa diajarkan budaya berbagi, empati, serta kepedulian terhadap sesama, termasuk saat terjadi bencana.
“Anak-anak tidak boleh egois. Harus tumbuh dengan rasa peduli dan suka berbagi,” tegas Zainudin.
Tak hanya sebatas teori, peserta pelatihan juga diajak mempraktikkan konsep Ekoteologi melalui pembelajaran sensorik di alam terbuka. Di Pondok Pesantren Nurul Haramain NWDI Narmada, guru belajar bagaimana siswa dapat merasakan langsung alam sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Melalui penguatan Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sejak dini, diharapkan lahir generasi masa depan yang cerdas secara akademik, santun dalam perilaku, serta memiliki kesadaran menjaga lingkungan dan budaya lokal.
Editor : Marthadi