LombokPost- Program Nusa Tenggara Barat (NTB) Inklusif mulai diarahkan menjadi gerakan besar pembangunan sumber daya manusia di NTB. Tidak lagi sekadar menghadirkan akses pendidikan dasar bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), tetapi juga menyiapkan mereka menembus perguruan tinggi hingga menjadi profesor masa depan.
Saat ini, NTB memiliki 52 Sekolah Luar Biasa (SLB) tingkat menengah atas dengan total 4.106 siswa yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Angka tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan pendidikan inklusif di NTB. Melalui konsep NTB Inklusif, pemerintah daerah bersama perguruan tinggi mulai membangun jalur pendidikan berkelanjutan bagi siswa difabel.
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mataram (Unram) Prof. Dr. Sitti Hilyana menegaskan, NTB memiliki peluang besar menjadi pelopor pendidikan tinggi inklusif di Indonesia. Menurutnya, pendidikan bagi anak difabel tidak boleh berhenti di tingkat dasar dan menengah.
Baca Juga: Ekowisata Mangrove Paremas Disiapkan Jadi Ikon Baru Wisata NTB
“Negara harus memastikan mereka memiliki akses sampai perguruan tinggi, magister, doktor, bahkan profesor,” ujarnya.
Program NTB Inklusif dinilai penting karena masih banyak lulusan SLB yang kesulitan melanjutkan pendidikan. Persoalan ekonomi, keterbatasan akses kampus ramah difabel, hingga stigma sosial menjadi hambatan utama. Akibatnya, banyak potensi besar anak difabel belum berkembang optimal.
Padahal, kata Prof Hilyana, banyak penyandang disabilitas memiliki kemampuan akademik tinggi jika diberikan ruang dan dukungan yang tepat. Karena itu, Unram mengusulkan penyusunan NTB Inclusive Higher Education Roadmap 2026-2045 sebagai arah besar pengembangan pendidikan tinggi inklusif di NTB.
Baca Juga: Unram Klarifikasi Pembubaran Nobar Film Pesta Babi, Tegaskan Demi Ketertiban Kampus
Roadmap tersebut dirancang melibatkan Pemerintah Provinsi NTB, Dikpora, SLB negeri dan swasta, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga organisasi disabilitas. Fokusnya mencakup pendataan minat dan bakat siswa SLB, transisi menuju perguruan tinggi, pelatihan dosen inklusif, hingga pembangunan kampus ramah difabel.
Sebagai langkah konkret, Unram tengah menyiapkan diri menjadi pusat pengembangan kampus inklusif atau Inclusive University Hub di NTB. Salah satu program utama adalah pembentukan Pusat Layanan Disabilitas (PLD).
PLD tersebut nantinya menyediakan layanan asesmen kebutuhan belajar, pendamping akademik, interpreter bahasa isyarat, teknologi bantu, konseling, hingga career center inklusif bagi mahasiswa difabel.
Baca Juga: Prestasi Warnai Pisah Kenang MAN 1 Mataram, Lulusan Tembus FK hingga PTN Bergengsi
Selain itu, Unram juga menyiapkan jalur afirmasi penerimaan mahasiswa difabel melalui tes adaptif, kuota khusus, hingga subsidi dan pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Program matrikulasi transisi SLB ke perguruan tinggi juga mulai disiapkan agar siswa lebih siap menghadapi budaya akademik kampus.
“Program persiapan mahasiswa inklusif ini dirancang selama tiga sampai enam bulan,” jelas Prof Hilyana.
Beberapa daerah seperti Lombok Timur, Lombok Tengah, Kabupaten Bima, Dompu, dan Kota Mataram menjadi wilayah prioritas pengembangan program percontohan transisi SLB menuju perguruan tinggi.
Baca Juga: 124 Siswa MAN 2 Mataram Lulus Jalur Prestasi ke Kampus Favorit
Melalui program Sekolah Mitra Inklusif Unram, universitas akan melakukan pembinaan langsung kepada siswa SLB melalui talent scouting, pelatihan guru, pembinaan akademik, hingga orientasi kuliah bagi siswa difabel.
Di sisi lain, Unram juga mengusulkan program beasiswa “NTB Inklusif Cerdas”. Program ini melibatkan pemerintah daerah, dunia usaha, institusi, dan masyarakat untuk menjadi orang tua asuh bagi mahasiswa difabel.
Program NTB Inklusif tersebut tidak hanya berfokus pada biaya kuliah, tetapi juga dukungan laptop adaptif, subsidi transportasi, asrama inklusif, dan alat bantu belajar. Sebab, banyak siswa difabel gagal melanjutkan pendidikan bukan karena kurang kemampuan, melainkan keterbatasan ekonomi dan akses teknologi.
Baca Juga: Lorong Pendidikan SMAN 8 Mataram Disulap Jadi Galeri Seni Karya Siswa
Dalam pengembangan akademik, Unram mulai memetakan program studi yang potensial bagi mahasiswa difabel seperti teknologi informasi, pendidikan, sastra, hukum, ekonomi, pertanian presisi, hingga kewirausahaan digital.
Menurut Prof Hilyana, banyak penyandang disabilitas memiliki keunggulan pada fokus mendalam, ketelitian, kreativitas, dan kemampuan analitis yang sangat dibutuhkan di dunia akademik dan industri masa depan.
Seluruh upaya tersebut bermuara pada satu visi besar, yakni membangun ekosistem “Dari SLB ke Profesor”. Melalui program NTB Inklusif, anak-anak difabel di NTB diharapkan tidak hanya memperoleh akses pendidikan, tetapi juga kesempatan menjadi doktor, peneliti, guru besar, hingga pemimpin masa depan.
Baca Juga: Unram Luncurkan Hibah Top Tier 2026, Perkuat Riset Global Menuju World Class University
“Visi NTB harus lebih jauh, menghadirkan profesor-profesor penyandang disabilitas dari anak-anak SLB NTB,” tegasnya.
Editor : Redaksi Lombok Post