LombokPost- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Barat (Lobar) meluncurkan gerakan “Satu Guru, Satu Anak Tidak Sekolah” sebagai langkah percepatan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS). Program itu juga menjadi upaya meningkatkan rata-rata lama sekolah (RLS) dan kualitas sumber daya manusia di daerah.
Peluncuran gerakan penanganan ATS di Lobar dibahas dalam rapat koordinasi bersama kepala SMP, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), dan pengawas sekolah. Pemkab Lobar menilai persoalan ATS harus ditangani serius karena berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan dan masa depan generasi muda.
Kepala Dikbud Lobar Lalu Najamuddin mengatakan, gerakan tersebut menjadi strategi utama menekan angka ATS di Lobar yang saat ini mencapai 7.336 anak berdasarkan data tahun 2026.
Baca Juga: FLS3N Kota Mataram 2026 Resmi Dibuka, Jadi Ajang Bentuk Karakter dan Talenta Seni Siswa
“Setiap guru diharapkan mendampingi minimal satu anak tidak sekolah atau anak putus sekolah agar kembali memperoleh layanan pendidikan,” ujarnya.
Ia menegaskan, penanganan ATS di Lobar tidak bisa hanya mengandalkan sekolah. Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, keluarga, hingga masyarakat agar anak-anak dapat kembali mengakses pendidikan.
Najamuddin berharap program itu mampu menekan angka anak putus sekolah sekaligus meningkatkan partisipasi pendidikan masyarakat di Lobar. “Setiap anak memiliki hak memperoleh pendidikan yang layak. Karena itu, semua pihak harus ikut bertanggung jawab,” katanya.
Baca Juga: SMAN 7 Mataram Pulihkan Trauma Siswa Pascaatap Ambruk, Terapkan Double Shift dan Trauma Healing
Sementara itu, Sekretaris Dikbud Lobar Khairudin meminta kepala sekolah dan guru menunjukkan komitmen nyata dalam menjalankan program penanganan ATS di Lobar.
Menurutnya, langkah di lapangan menjadi faktor penting keberhasilan program. Mulai dari pendampingan langsung, pendekatan persuasif kepada keluarga, hingga penguatan kolaborasi lintas pihak.
“Dibutuhkan aksi nyata agar anak-anak yang putus sekolah bisa kembali belajar dan melanjutkan pendidikan,” tegasnya.
Baca Juga: TC Jamnas XII 2026 Digelar, Pramuka Kota Mataram Matangkan Persiapan ke Cibubur
Dalam rapat koordinasi itu disepakati pembentukan kelompok kerja (Pokja) di setiap wilayah. Pokja nantinya bertugas melakukan pendataan, verifikasi lapangan, pendampingan anak dan orang tua, hingga monitoring berkala terhadap perkembangan program ATS di Lobar.
Tahapan program dimulai dari penguatan persepsi dan pembentukan Pokja pada Mei 2026. Selanjutnya dilakukan verifikasi dan validasi data ATS, analisis faktor penyebab anak tidak sekolah, advokasi pengembalian anak ke sekolah, hingga monitoring dan evaluasi berkala.
Berdasarkan data Dikbud Lobar tahun 2026, Kecamatan Sekotong menjadi wilayah dengan jumlah ATS tertinggi, yakni 1.159 anak. Disusul Kecamatan Narmada sebanyak 1.033 anak dan Kecamatan Gunungsari sebanyak 796 anak.
Baca Juga: Bedah Buku Babad Alas di Unram, Bima Arya Motivasi Mahasiswa soal Kepemimpinan
Data itu juga menunjukkan sebagian besar ATS di Lobar berasal dari kategori belum pernah sekolah sebanyak 3.799 anak atau 51,79 persen. Kemudian kategori putus sekolah sebanyak 1.799 anak atau 24,52 persen, serta kategori lulus tidak melanjutkan sebanyak 1.738 anak atau 23,69 persen.
Editor : Redaksi Lombok Post