Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Yayasan Batu Emas dalam mengelola dua Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) di Desa Karang Bongkot (Kecamatan Labuapi) dan Desa Banyumulek (Kecamatan Kediri), Lombok Barat.
Demi menjaga selera para penerima manfaat, Yayasan Batu Emas menerapkan strategi menyajikan varian menu yang berganti setiap harinya.
Baca Juga: Sinergi Program Strategis Pangan, Presiden Prabowo Sebut MBG dan Infrastruktur Jadi Kunci Kedaulatan
Menariknya, ide variasi menu ini mayoritas lahir dari request atau permintaan langsung para anak sekolah dan penerima manfaat di lapangan.
Bagi pihak yayasan, melihat omperengan (wadah makanan) kembali dalam keadaan kosong melompong adalah indikator keberhasilan paling nyata.
"MBG ini dihajatkan untuk peningkatan kualitas SDM masyarakat Indonesia. Namun, jika makanan tidak disantap karena bosan atau tidak cocok selera, maka program ini menjadi sia-sia," ujar Pemimpin Yayasan Batu Emas, Muhazam, SP., Minggu (24/5/2026).
Baca Juga: Kepala BGN RI Resmikan SPPG 3T Lombok Utara
Meski harus memproduksi makanan dalam skala besar setiap harinya, Muhazam menegaskan bahwa kualitas rasa dan kandungan gizi sama sekali tidak boleh dikorbankan. Sebagai sarjana pertanian, ia menerapkan kontrol kualitas (quality control) yang ketat sejak dari hulu hingga hilir.
Misalnya dalam hal pemilihan bahan baku, ia mengutamakan bahan segar berstandar tinggi sekaligus menyerap hasil tani lokal Lombok Barat.
Baca Juga: Yayasan Batu Emas Mulai Operasikan SPPG Banyumulek, Layani 1.438 Penerima Manfaat
Lalu keseimbangan nutrisi, dimana setiap porsi dirancang presisi memenuhi kebutuhan harian anak sekolah, mencakup karbohidrat, protein hewani, sayur-sayuran, hingga buah-buahan.
Kehigienitas proses pengolahan makanan juga menjadi fokus Yayasan ini. Pengawasan ketat pada kebersihan juru masak, alat masak, hingga sterilisasi wadah untuk memastikan makanan bebas kuman penyakit.
Konsistensi menjaga mutu dan variasi menu ini diterapkan di dua titik pelayanan besar.
Pertama SPPG Desa Karang Bongkot yang melayani 2.615 penerima manfaat setiap hari yang tersebar di 22 institusi pendidikan (PAUD, TK, SD, SMPN 2 Labuapi, hingga tingkat SMA).
Kedua SPPG Desa Banyumulek, melayani 1.438 penerima manfaat di 7 sekolah serta kelompok B3 (Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita) di 4 dusun.
Dengan dedikasi pada kelezatan menu dan standar kesehatan yang tinggi, langkah yang diambil Yayasan Batu Emas ini tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memastikan intervensi gizi berjalan efektif demi mencerdaskan generasi masa depan di Nusa Tenggara Barat.
Editor : Siti Aeny Maryam