LombokPost – Fakultas Kedokteran Universitas Bumigora (UBG) Mataram, menggelar kegiatan Open House yang dihadiri para calon Mahasiswa dari Pelajar SMA/Ma dari berbagai daerah di NTB, pada Sabtu (13/6). Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan lingkungan akademik, fasilitas pendidikan, serta prospek karier lulusan Fakultas Kedokteran kepada masyarakat.
Ketua Panitia Open House, dr. I Made Bayu Sanjaya, MPH (extn) MHLM, FisQua, mengatakan, bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang digelar demi menjaring bakal calon dokter yang memiliki standar kompetensi yang memadai.
Melalui kegiatan ini, kata dr.Bayu, sapaannya, ditujukan untuk memberikan gambaran yang jelas kepada calon mahasiswa mengenai proses pendidikan kedokteran, mulai dari perkuliahan, praktikum laboratorium, hingga praktik di klinik.
Baca Juga: Dari Kampus ke Arena Juara, 9 Mahasiswa UBG Tunjukkan Dominasi di Kejuaraan Taekwondo.
“Mereka Calon Mahasiswa ini diajak ntuk merasakan bagaimana menjadi mahasiswa kedokteran selama satu hari,” tuturnya.
“Jadi mereka tidak hanya akan merasakan bagaimana kuliah di kedokteran, tapi juga bagaimana sesi keterampilan medik atau clinical skills lab, juga bagaimana tutorialnya, dan bagaimana praktikum di laboratorium-laboratorium yang Kita miliki di Fakultas Kedokteran Universitas Bumigora,” paparnya. (13/06/2026).
Dekan Fakultas Kedoketran UBG, dr. Karina Anindita SP.PD, M.Biomed, FINASIM, yang didapuk menjadi pembuka acara open house tersebut, mengungkapkan adanya penciri khas atau keunggulan yang dimiliki Fakultas Kedokteran UBG dibandingkan pada Fakultas sejenis di Perguruan Tinggi lainnya.
Salah satunya yakni, dengan menghadirkan visi ;menghasilkan dokter yang berdaya saing dalam mengemagkan Iptek di bidang kedokteran. Dan memiliki keunggulan di bidang preventif penyakit infeksi paru yang terkait dengan masalah gizi pada anak, dengan mengedepankan profesionalitas , inovatif dan integritas.
“Keunggulan itu terintegrasi di dalam kurikulum yang telah mengikuti SKDI. Jadi di luar apa yang menjadi standar itu, Kita masukkan poin-poin keunggulan itu di kurikulum kita. Jadi itu, yang membedakan FK diUBG dengan lainnya,” terang dr. Karina, sapaannya.
Baca Juga: UBG Cup 2026 Pecah! Ratusan Pelajar Lombok Adu Skill Futsal, Hadiah Jutaan Jadi Rebutan
Lebih lanjut, menanggapi terkait dengan maraknya pemanaatan teknologi AI khususnya di bidang kesehatan, dr.Karina menegaskan, bahwa perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di bidang kesehatan harus disikapi secara bijaksana dan tetap mengacu pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI).
Menurutnya, AI merupakan teknologi yang dapat membantu Mahasiswa dan tenaga kesehatan dalam mengolah data, menganalisis informasi medis, serta mendukung pengambilan keputusan klinis berbasis bukti.
Dia melihat AI sebagai alat bantu yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pelayanan kesehatan. Namun dalam proses pendidikan kedokteran, penggunaannya tetap harus diberikan batasan yang jelas agar tidak mengurangi kemampuan berpikir kritis, penalaran klinis, dan keterampilan dasar yang wajib dikuasai mahasiswa sesuai SKDI.
“Penggunaan AI dalam kegiatan akademik, dibolehkan, asalkan mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi tersebut secara bertanggung jawab tanpa bergantung sepenuhnya pada sistem otomatis. Namun, kompetensi dokter tetap harus dibangun melalui proses belajar, praktik klinik, dan interaksi langsung dengan pasien,” tekan dr. Karina.
Sejalan dengan hal tersebut, Rektor UBG,Prof.Dr.Ir.Anthony Anggrawan,M.T, Ph.D, beranggapan untuk tidak menafikan pentingnya peran data dan teknologi AI dalam dunia kesehatan modern.
Dia menilai bahwa kemampuan AI dalam mengolah data kesehatan dalam jumlah besar dapat membantu tenaga medis menyusun kriteria penilaian kondisi pasien secara lebih cepat dan komprehensif.
"Data merupakan fondasi penting dalam pengambilan keputusan medis. AI dapat membantu mengidentifikasi pola dan memberikan informasi pendukung bagi dokter. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan tenaga medis yang mempertimbangkan kondisi klinis pasien secara menyeluruh serta menjunjung tinggi etika profesi dan kerahasiaan pasien," jelas Rektor Prof. Anthony, secara terpisah saat ditemui lombok Post di ruang kerjanya, usai acara tersebut.(13/6).
Lebih lanjut, dirinya menekankan, bahwapemanfaatan AI tidak boleh bertentangan dengan kode etik kedokteran, prinsip keselamatan pasien, maupun regulasi perlindungan data kesehatan.
Oleh karena itu, integrasi teknologi dalam pendidikan kedokteran harus dilakukan secara proporsional agar menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki empati, profesionalisme, dan kemampuan klinis yang kuat sesuai tuntutan SKDI.
"Teknologi akan terus berkembang, tetapi nilai-nilai dasar profesi dokter tidak boleh berubah. AI harus menjadi instrumen pendukung yang memperkuat kualitas pelayanan kesehatan, bukan menggantikan peran dan tanggung jawab dokter kepada pasien. Dan kompetensi itulah yang kami kembangkan dan lakukan di UBG," pungkasnya. (*)
Editor : Galih Mega Putra S