Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Inspiratif: Sempat Kuliah di Fakultas Kedokteran UNAIR, Kini Jadi Praja IPDN yang Tembus Jurnal Sinta 2 dan Presenter ICONPO 2026

Kimda Farida • Rabu, 8 Juli 2026 | 15:11 WIB
Briyan Nanda Ivansyach saat menjadi presenter pada International Conference on Public Organization (ICONPO) 2026. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)
Briyan Nanda Ivansyach saat menjadi presenter pada International Conference on Public Organization (ICONPO) 2026. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

LombokPost--Tidak banyak orang yang berani melepaskan sesuatu yang telah diraih demi mengejar mimpi yang lebih dulu tumbuh di hati.

Kisah inspiratif itu datang dari Briyan Nanda Ivansyach, pemuda asal Bojonegoro, Jawa Timur, yang akrab disapa Kange Briyan. 

Ia sempat menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) sebelum akhirnya memilih jalan lain yang telah lama ia impikan, yaitu mengabdi sebagai Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Nama Kange Briyan sempat dikenal publik ketika terpilih sebagai Kange Favorit dalam ajang Duta Wisata Kabupaten Bojonegoro pada 2023.

Lulus dari SMAN 1 Bojonegoro pada 2024, Briyan berada di persimpangan yang menentukan arah masa depannya.

Di hadapannya terbentang dua pilihan, yaitu mengikuti Seleksi Penerimaan Calon Praja (SPCP) IPDN yang menjadi cita-citanya, atau seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

Karena jadwal seleksi IPDN belum pasti saat itu, ia memutuskan mengikuti seleksi Fakultas Kedokteran UNAIR sebagai rencana cadangan.

Di luar dugaannya, ia justru dinyatakan lolos di jurusan yang banyak diimpikan orang tersebut.

Tidak lama berselang, pendaftaran SPCP IPDN 2024 dibuka. Dengan semangat yang masih menyala, Briyan turut mengikutinya.

Baca Juga: Bantuan Sosial di Lombok Utara Sasar 560 Lansia dan Disabilitas

Namun, harapan itu belum berpihak kepadanya. Ia belum berhasil melewati tahap Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dengan skor 417, sebuah kegagalan yang sempat menguji ketabahannya.

Alih-alih larut dalam kekecewaan, ia menjadikan pengalaman itu sebagai pelajaran untuk bangkit. 

Ia pun menjalani perkuliahan di FK UNAIR, mengikuti masa pengenalan kampus, serta bergabung dengan sejumlah organisasi seperti AMSA dan CIMSA.

Dari kegiatan itulah ia mulai mengenal dunia publikasi karya ilmiah dan prinsip belajar sepanjang hayat yang lekat dengan bidang kesehatan.

Menempuh pendidikan kedokteran bukan tanpa tantangan. Beban akademik mulai terasa berat pada semester dua, sebuah pengalaman yang umum dihadapi mahasiswa kedokteran.

Di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar padam dalam dirinya, yaitu keinginan untuk menjadi seorang Praja.

Baginya, mimpi yang tertunda bukan berarti mimpi yang harus dilupakan. Ketika sebagian rekannya memilih beristirahat pada masa libur semester, Briyan justru mempersiapkan diri untuk kembali mengikuti SPCP IPDN 2025.

Ia memperdalam strategi mengerjakan SKD melalui bimbingan belajar, dan kerja kerasnya membuahkan hasil dengan skor SKD meningkat menjadi 476.

Malam pengumuman menjadi momen yang tidak akan ia lupakan.

Setelah melewati rangkaian tahapan seleksi yang panjang, Briyan akhirnya dinyatakan memenuhi syarat dan lolos kuota Jawa Timur.

Baca Juga: Kanwil Kemenkum NTB Rampungkan Harmonisasi Rapergub Posyandu, Perkuat Kepastian Hukum Layanan Masyarakat

Perasaan lega bercampur haru menyelimuti dirinya, mengingat perjalanan panjang dan pilihan berat yang telah ia ambil.

Bagi keluarga, kabar itu menjadi buah dari kesabaran dan dukungan yang selama ini menyertainya. 

Ia kemudian menjalani Pendidikan Dasar (Diksar) Angkatan XXXVI yang dikukuhkan sebagai Angkatan Harsha Ksatriya, dan resmi menyandang status Praja IPDN.

Menjadi Praja tidak membuat semangat belajarnya surut. Di sela kegiatan pengasuhan yang padat, Briyan justru menekuni penyusunan karya ilmiah.

Ketekunannya berbuah publikasi jurnal terindeks Sinta 3, yang kemudian disusul publikasi terindeks Sinta 2 dengan naskah berbeda.

Ia juga lolos sebagai presenter pada International Conference on Public Organization (ICONPO) 2026 dengan paper berjudul “Green Skills for Environmental Awareness: A Challenge of Indonesia as The Emerald of The Equator”.

Paper yang mengangkat isu keterampilan hijau dan kesadaran lingkungan itu dinilai relevan dengan tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia, dan saat ini sedang dalam proses publikasi pada jurnal terindeks Scopus melalui IOP Publishing.

Bagi seorang Praja tingkat awal, tampil sebagai presenter pada forum internasional merupakan pencapaian yang tidak mudah diraih.

Rekam jejak publikasi ilmiahnya dapat ditelusuri melalui profil Google Scholar miliknya.

Capaian itu terasa istimewa karena diraih pada masa Tingkat I (Pratama), fase yang dikenal dengan jadwal pengasuhan padat.

Baca Juga: Muhsinin Beri Diskon 500 Dolar untuk Pendaftar Haji Khusus, Berlaku Hanya di Acara 11 Juli

IPDN menyediakan jalur nonskripsi melalui publikasi jurnal dengan syarat tertentu, antara lain karya minimal terindeks Sinta 2 dan berstatus penulis pertama.

Kebijakan ini sejalan dengan arah pengembangan IPDN untuk mendorong budaya akademik serta menghasilkan aparatur sipil negara yang cerdas dan berintegritas.

Bagi Briyan, waktu luang adalah kesempatan untuk terus belajar. Kebiasaan itu ia jaga bukan untuk menonjolkan diri, melainkan sebagai cara menjaga konsistensi di tengah rutinitas yang menuntut.

Ia percaya bahwa memberi kemudahan dan manfaat bagi orang lain pada akhirnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Prinsip itu ia yakini sebagai bekal untuk terus melangkah, sekecil apa pun kesempatan yang ada.

Perjalanan Briyan menjadi pengingat bahwa keberanian mengambil keputusan sulit dan kemauan untuk terus belajar dapat membuka jalan yang tidak terduga.

Ia menilai kemampuan akademik dan daya saing menjadi bekal penting untuk tetap relevan di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan yang berlangsung cepat. 

Melalui kisahnya, ia berharap dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tidak takut bermimpi dan berjuang mewujudkannya.

Editor : Kimda Farida
#Briyan Nanda Ivansyach #FK UNAIR #institut pemerintahan dalam negeri #universitas airlangga #ipdn