LombokPost - SMPN 10 Mataram memulai tahun ajaran baru dengan cara berbeda. Sekolah di Jalan Adi Sucipto, Ampenan, menempatkan sinergi orang tua dan sekolah sebagai fondasi utama dalam membangun karakter serta mengembangkan potensi siswa sejak hari pertama masuk sekolah.
Komitmen membangun sinergi itu diawali melalui kegiatan Pra-Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PMPLS). Ratusan calon siswa baru hadir bersama orang tua mengikuti rangkaian kegiatan 7K, yakni keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kekeluargaan, kerindangan, dan kesehatan. Kegiatan dilanjutkan dengan Senam Anak Indonesia Ceria.
Kepala SMPN 10 Mataram Chamim Tohari menegaskan, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembelajaran di sekolah. Tetapi juga dukungan penuh dari keluarga. Karena itu, sekolah sengaja melibatkan orang tua sejak awal agar memiliki komitmen yang sama dalam mendampingi perkembangan anak.
Baca Juga: SMKN 1 Lingsar Beri Reward Siswa Berprestasi, Dorong Semangat Raih Prestasi Akademik dan Nonakademik
"Kami ingin membangun sinergi orang tua yang serius. Untuk mengembangkan potensi anak, guru-guru kami terus meng-update diri, namun dukungan penuh dari rumah adalah energi utamanya," ujar Chamim, Kamis (9/7).
Pada kegiatan itu, sekolah juga membentuk 10 gugus yang akan menjadi cikal bakal kelas permanen setelah MPLS berakhir. Selain pengenalan lingkungan belajar, siswa baru diberikan motivasi untuk menanamkan niat yang kuat agar siap berprestasi selama menempuh pendidikan di SMPN 10 Mataram.
Langkah unik lainnya akan digelar pada Senin (13/7). SMPN 10 Mataram menyiapkan prosesi simbolis menyerupai ijab kabul sebagai bentuk penguatan sinergi orang tua dan sekolah. Dalam prosesi itu, orang tua akan menyerahkan secara resmi anak-anak mereka kepada wali kelas sebagai bentuk kepercayaan sekaligus komitmen bersama dalam mendidik dan membina karakter siswa.
Baca Juga: Kuota SMPN 15 Mataram Belum Terpenuhi, Daftar Ulang Jalur Domisili Masih Rendah
Menurut Chamim, prosesi itu bukan sekadar seremoni. Tetapi ikrar moral antara keluarga dan sekolah agar seluruh proses pendidikan berjalan selaras sesuai aturan yang berlaku.
"Ini adalah akad atau ikrar. Ada penyerahan dari orang tua dan penerimaan dari pihak sekolah. Dengan sinergi orang tua dan sekolah yang kuat di awal, kami optimis proses pembinaan karakter dan prestasi siswa baru akan berjalan luar biasa," katanya.
Editor : Marthadi