LombokPost- Program budi daya cabai mulai masuk ke lingkungan sekolah di NTB. Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menginisiasi program itu untuk mengajarkan siswa bercocok tanam. Program itu juga menjadi strategi mencetak generasi muda berjiwa wirausaha sekaligus membantu menekan inflasi daerah.
Melalui gerakan ”Goes to School Budi Daya Cabe”, ribuan pelajar SMA, SMK, dan SLB di NTB akan belajar mengembangkan cabai sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Program itu diharapkan menjadi pintu masuk lahirnya pengusaha muda sektor agribisnis. Mereka diharapkan mampu memanfaatkan potensi pertanian daerah.
Pada tahap awal, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB. Kedua instansi memberikan pelatihan kepada 61 guru SMA, SMK, dan SLB se-Pulau Lombok.
Baca Juga: Siswi SMKN 1 Lingsar Raih Juara II LKS SMK NTB Bidang Beauty Therapy
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Lalu Mirza Amir Hamzah mengatakan, program budi daya cabai lahir dari gagasan Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal. Gagasan itu ingin menghubungkan dunia pendidikan dengan sektor pertanian dan kewirausahaan.
Menurutnya, cabai dipilih karena menjadi salah satu komoditas pemicu inflasi. Kondisi itu terjadi di tingkat daerah maupun nasional. Di sisi lain, cabai memiliki nilai ekonomi tinggi. Komoditas itu sangat potensial dikenalkan kepada pelajar sejak dini.
”Ketika lulus sekolah, mereka sudah mempunyai ilmu, pengalaman, sekaligus peluang usaha sehingga tidak hanya bergantung mencari pekerjaan,” ujarnya usai membuka Pelatihan Budi Daya Cabai bagi Guru SMA, SMK, dan SLB se-Pulau Lombok di SMKPPN Mataram, Senin (13/7).
Baca Juga: SMPN 6 Mataram Bagikan Seragam Gratis untuk 99 Siswa Jalur Afirmasi
Melalui praktik langsung, siswa tidak hanya memahami teknik budi daya cabai. Mereka juga dikenalkan pada pengelolaan usaha pertanian yang berorientasi keuntungan dan ketahanan pangan.
Kepala SMKPPN Mataram Sugiarta mengatakan, pihaknya mendapat tugas khusus sebagai pusat pembibitan dalam program pertanian masuk sekolah. Pembibitan berlangsung secara masif di tiga lokasi. Lokasinya berada di Kota Mataram, Narmada, Lombok Barat, dan wilayah Lombok Timur.
Distribusi bibit tidak hanya menyasar sekolah di Pulau Lombok. Bibit juga dikirim hingga Pulau Sumbawa dengan titik distribusi di Bima. ”Bibit mulai didistribusikan pada minggu kedua ini. Setelah para guru mengikuti pelatihan, mereka membawa bibit ke sekolah masing-masing untuk ditanam bersama siswa saat kegiatan MPLS,” jelasnya.
Menurut Sugiarta, integrasi budi daya cabai dalam MPLS menjadi langkah strategis. Program itu menanamkan kesadaran mengenai ketahanan pangan sejak awal siswa memasuki lingkungan sekolah.
Program juga menyasar pondok pesantren dan sekolah luar biasa (SLB). Sementara sekolah di kawasan perkotaan dengan keterbatasan lahan diarahkan menerapkan konsep urban farming menggunakan polibag. Dengan begitu, seluruh sekolah tetap dapat berpartisipasi.
”Harapan kami program ini terus berjalan. Setelah panen, kita benihkan lagi sehingga siklusnya terus berlanjut,” katanya.
Editor : Rury Anjas AnditaSumber : Lombok Post