Universitas Brawijaya Gandeng FKIP Unram Cetak Petani Milenial Berbasis AI, Siapkan SDM Pertanian NTB

Jay • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 15:45 WIB
FOTO BERSAMA: Rektor Universitas Brawijaya Prof Widodo (baju putih) foto bersama kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB dan kepala SMKPPN Mataram usai membuka pelatihan pemanfaatan isolat bakteri loka potensial untuk formulasi eco-enzyme sebagai agen pemacu pertumbuhan tanaman di SMKPPN Mataram, Senin (20/7).
FOTO BERSAMA: Rektor Universitas Brawijaya Prof Widodo (baju putih) foto bersama kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB dan kepala SMKPPN Mataram usai membuka pelatihan pemanfaatan isolat bakteri loka potensial untuk formulasi eco-enzyme sebagai agen pemacu pertumbuhan tanaman di SMKPPN Mataram, Senin (20/7).

 

LombokPost- Universitas Brawijaya (UB) menggandeng Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram) untuk mempercepat lahirnya petani milenial berbasis teknologi di NTB.

Kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis membangun SDM pertanian NTB yang unggul melalui penguatan pendidikan vokasi, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta pengembangan pertanian modern guna menjaga ketahanan pangan nasional.

Kerja sama yang melibatkan SMKPPN Mataram dan Konsorsium Perguruan Tinggi (KPT) itu tidak hanya berfokus pada penyelarasan kurikulum vokasi pertanian.

Universitas Brawijaya juga membuka peluang lebih luas bagi lulusan SMK Pertanian di NTB untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1, S2 hingga S3 melalui berbagai jalur seleksi.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Universitas Brawijaya menjaring talenta terbaik dari kawasan Indonesia Timur dan daerah tertinggal, terdepan, serta terluar (3T). Sehingga lahir sumber daya manusia pertanian yang mampu bersaing di era digital.

Baca Juga: MPLS SMPN 17 Mataram Fokus Sekolah Bebas Perundungan, OSIS Hanya Jadi Pendamping

Rektor Universitas Brawijaya Prof Widodo mengatakan, tantangan terbesar sektor pertanian saat ini adalah rendahnya regenerasi petani.

Berdasarkan data yang dimilikinya, angkatan kerja muda di sektor pertanian baru mencapai sekitar 26 persen.

Jika kondisi tersebut tidak segera diantisipasi, Indonesia berpotensi mengalami krisis regenerasi petani yang berdampak pada kemandirian pangan nasional.

"Kita harus menyiapkan generasi muda agar melihat bahwa bidang pertanian itu menarik, baik dari segi penghasilan maupun teknologi. Tanpa sentuhan teknologi dan Artificial Intelligence (AI), sektor ini akan tetap ditinggalkan," ujarnya, Senin (20/7).

Sebagai bentuk transformasi, Universitas Brawijaya telah mengembangkan sistem pendidikan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Fakultas Pertanian kini bertransformasi menjadi Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan, sedangkan Fakultas Peternakan diperkuat menjadi Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan dengan pengembangan program Smart Farming.

Transformasi tersebut memastikan lulusan tidak hanya menguasai teknik budidaya konvensional.

Tetapi juga mampu mengoperasikan teknologi digital, otomatisasi, Internet of Things (IoT), hingga Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung pertanian modern yang lebih efisien dan produktif.

Baca Juga: Siswa SMKN 1 Lingsar Kembangkan Motor Listrik, Rancang Sendiri Rangka hingga Sistem Penggerak

Menurut Prof Widodo, NTB memiliki potensi strategis sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Karena itu, Universitas Brawijaya tengah membahas skema afirmasi khusus bagi putra-putri NTB agar percepatan peningkatan SDM pertanian NTB dapat dilakukan secara lebih masif.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Lalu Mirza Amir Hamzah menyambut baik kolaborasi tersebut.

Menurutnya, kehadiran Universitas Brawijaya menjadi momentum penting dalam mempercepat lahirnya petani milenial yang menguasai teknologi sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan pertanian di daerah.

Ia menjelaskan, minat siswa terhadap sekolah vokasi pertanian sejatinya masih cukup tinggi.

Tantangan berikutnya adalah memastikan lulusan mampu berkembang menjadi tenaga profesional yang siap menghadapi kebutuhan industri pertanian modern.

Baca Juga: Guru SDN 47 Ampenan Ciptakan Jejak Karyaku, Galeri Digital Karya Siswa Berbasis Web

"Kehadiran Rektor Universitas Brawijaya di NTB menjadi angin segar bagi para guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Agribisnis Pertanian se-NTB untuk meningkatkan kompetensi pengajaran sesuai standar pertanian modern," katanya.

Menurut Mirza, sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan sekolah vokasi harus terus diperkuat agar regenerasi petani tidak berhenti pada tataran wacana.

Melainkan benar-benar melahirkan SDM pertanian yang mampu menjaga ketahanan pangan nasional.

Kepala SMKPPN Mataram Sugiarta menambahkan, kerja sama Universitas Brawijaya bersama FKIP Unram membuka peluang lebih besar bagi lulusan SMK Pertanian NTB untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui jalur prestasi, termasuk Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

Baca Juga: 41 Jabatan Kepala SMA/SMK/SLB NTB Segera Diisi, Gubernur Iqbal Mulai Program Golden Ticket

Selain memperkuat kompetensi guru melalui MGMP Agribisnis Pertanian, pihak sekolah kini juga menyusun model pembelajaran yang diselaraskan dengan standar akademik Universitas Brawijaya. Upaya tersebut diharapkan meningkatkan daya saing lulusan vokasi pertanian dari NTB.

"Potensi anak-anak kita luar biasa. Selama ini sudah ada yang diterima di Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya. Kedepan kami ingin semakin banyak lulusan masuk program agronomi, agroteknologi hingga pengolahan hasil pertanian," ujarnya.

Menurut Sugiarta, terdapat sedikitnya 13 kompetensi keahlian bidang agribisnis dan agroteknologi di SMK Pertanian yang dapat disinkronkan dengan berbagai fakultas di Universitas Brawijaya.

Karena itu, pihaknya berharap tersedia jalur afirmasi atau kuota khusus bagi siswa berprestasi dari NTB.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
UB Gandeng FKIP Unram Petani Milenial NTB Universitas Brawijaya FKIP Unram petani milenial