LombokPost-Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menyiapkan Sukarara Digital Knowledge Hub (SDKH). Platform berbasis web itu akan menjadi pusat dokumentasi pengetahuan lokal Tenun Sukarara.
Program itu menjadi bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendanai kegiatan melalui Program BIMA.
Tim pengabdian menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama kelompok penenun Desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah. Kegiatan dilanjutkan dengan dokumentasi proses pewarnaan alami dan wawancara bersama maestro tenun.
Baca Juga: Rizki Azis Wakili UMMAT di Summer School Internasional UGM
Dosen Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UMMAT Hirma Susilawati SIIP MA memimpin kegiatan bersama tim pengabdian. Program berfokus pada penguatan pengelolaan pengetahuan atau knowledge management.
Langkah itu menjadi upaya melestarikan pengetahuan lokal Tenun Sukarara melalui teknologi digital.
FGD menjadi ruang dialog antara tim pengabdian dan kelompok penenun. Mereka mengidentifikasi berbagai tantangan dalam pelestarian Tenun Sukarara.
Diskusi membahas dokumentasi teknik menenun dan filosofi motif. Tim juga membicarakan strategi pengembangan sistem pengelolaan pengetahuan berbasis digital.
Upaya itu penting karena pengetahuan menenun selama ini diwariskan secara lisan. Sementara jumlah penenun senior terus berkurang.
Tim pengabdian juga mengamati proses pewarnaan alami yang masih dipertahankan para maestro. Dokumentasi mencakup bahan alami, tahapan pewarnaan, serta pengetahuan tradisional para penenun.
Baca Juga: Mahasiswi UMMAT Mayzatul Husni Raih Emas dan Perak di Porprov NTB 2026
Seluruh proses direkam melalui foto, video, dan wawancara. Dokumentasi itu mengubah pengetahuan berbasis pengalaman menjadi bahan digital yang dapat dipelajari generasi berikutnya.
Menurut Hirma, pelestarian budaya tidak cukup hanya menjaga produk tenun. Pengetahuan di balik proses pembuatannya juga perlu dipertahankan.
Filosofi motif, teknik menenun, dan pewarnaan alami perlu didokumentasikan secara sistematis. Pengetahuan itu kemudian dapat diwariskan kepada generasi muda dan dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran.
Seluruh hasil dokumentasi akan dikembangkan dalam SDKH. Platform itu memuat informasi mengenai motif tenun, filosofi, proses produksi, dokumentasi visual, katalog digital, serta informasi produk.
Masyarakat, peneliti, wisatawan, dan generasi muda dapat mengakses informasi dalam platform itu.
Program diharapkan mendukung pelestarian warisan budaya Sasak. Kegiatan itu juga diharapkan meningkatkan nilai tambah produk Tenun Sukarara melalui informasi yang lengkap, terstruktur, dan mudah diakses.
Dengan begitu, Tenun Sukarara tidak hanya dikenal sebagai produk kerajinan. Tenun itu juga menjadi warisan pengetahuan lokal dengan nilai budaya, sejarah, dan ekonomi.
UMMAT menjalankan program melalui kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah desa. Digitalisasi pengetahuan itu diharapkan menjadi model pelestarian budaya berbasis teknologi yang berkelanjutan.
Program juga diharapkan memperkuat posisi Tenun Sukarara sebagai salah satu identitas budaya unggulan Lombok Tengah.
Editor : Akbar Sirinawa