SEAMEO Biotrop Cetak Guru Pelopor Konservasi Biodiversitas, Sekolah NTB Disiapkan Jadi Laboratorium Geopark

Jay • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 16:05 WIB
KONSERVASI BIODIVERSITAS: Para guru dan peserta didik saat praktik menanam sayur dan buah di SMAN 1 Sembalun, Kamis (30/7). SEAMEO Biotrop dorong sekolah jadi pusat konservasi biodiversitas.
KONSERVASI BIODIVERSITAS: Para guru dan peserta didik saat praktik menanam sayur dan buah di SMAN 1 Sembalun, Kamis (30/7). SEAMEO Biotrop dorong sekolah jadi pusat konservasi biodiversitas.

 

LombokPost- Program Geopark Educational Model for School (GEMS) yang digelar SEAMEO Biotrop di kawasan Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark mendapat sambutan positif dari para peserta. Melalui pelatihan ini, SEAMEO Biotrop mendorong sekolah menjadi pusat konservasi biodiversitas dengan memperkuat pembelajaran berbasis lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Kegiatan bertajuk Geoparks as Living Laboratories: Integrating Biodiversity Education, Agrobiodiversity, and Sustainable Community Development in Southeast Asia berlangsung pada 28-31 Juli. Sebanyak 37 guru dari 29 sekolah jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK di NTB mengikuti pelatihan intensif selama empat hari.

Program GEMS dirancang untuk meningkatkan kapasitas guru dalam mengintegrasikan konservasi biodiversitas ke dalam proses pembelajaran. Selain menerima materi di kelas, peserta juga mengikuti praktik lapangan agar mampu menerapkan konsep tersebut di sekolah masing-masing.

Baca Juga: Kwarcab Mataram Ajak Pembina Nonton Film Pramuka, Perkuat Karakter dan Dasa Dharma

Koordinator GEMS Dewi Suryani mengatakan, antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan. Para guru aktif berdiskusi, mengikuti praktik, hingga menyusun rencana aksi yang akan diterapkan setelah kembali ke sekolah.

Menurut Dewi, penguatan konservasi biodiversitas menjadi kebutuhan mendesak ditengah meningkatnya aktivitas pemanfaatan kawasan wisata yang berpotensi menimbulkan eksploitasi lingkungan.

"Aspek wisata yang kuat saat ini cenderung membawa dampak eksploitasi. Karena itu, aspek biodiversitas harus diperkuat agar eksploitasi dapat ditekan," ujarnya.

Baca Juga: Siswa MAN 1 Mataram Raih Medali Nasional, Riset Hukum Bersaing dengan Mahasiswa UGM dan UB

Salah satu materi yang menjadi perhatian peserta adalah persoalan tingginya penggunaan pupuk kimia yang berdampak pada penurunan kualitas tanah. Melalui program GEMS, guru dibekali pemahaman mengenai analisis tanah serta berbagai metode untuk mengembalikan kesuburan lahan secara alami.

Pelatihan tidak berhenti pada teori. Para peserta juga mempraktikkan budidaya tanaman sayuran khas kawasan Rinjani, tanaman buah, hingga tanaman obat keluarga (Toga) yang dapat dikembangkan di lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran sekaligus bentuk nyata konservasi biodiversitas.

Selain itu, SEAMEO Biotrop memperkenalkan pemanfaatan teknologi dalam menjaga lingkungan. Guru dilatih menggunakan pemetaan spasial dan teknologi drone berbasis aplikasi telepon pintar untuk memantau kondisi vegetasi di kawasan Geopark.

Baca Juga: Golden Tiket Kepala Sekolah Mulai Jalan, Sekolah Sepi Peminat Jadi Prioritas Transformasi

"Kami ingin para guru mendiseminasikan hasil pelatihan ini kepada rekan sejawat maupun peserta didik melalui kegiatan kokurikuler maupun muatan lokal di sekolah," kata Dewi.

Ia menegaskan, pengembangan kebun sekolah bukan sekadar aktivitas bercocok tanam, melainkan upaya membangun kesadaran bahwa alam merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga.

Menurutnya, secanggih apa pun perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), manusia tetap bergantung pada keberlanjutan alam.

Baca Juga: Dua Mahasiswi Kebidanan UMMAT Raih Juara III AIPKEMA 2026

Sebagai bentuk pendampingan berkelanjutan, setiap peserta telah menyusun action plan yang akan dievaluasi dalam tiga bulan kedepan. Implementasi program tersebut akan didukung oleh SMKPPN Mataram sebagai mitra strategis yang selama ini telah berkolaborasi dengan SEAMEO Biotrop dalam berbagai program pertanian hingga pengembangan pertanian perkotaan.

Melalui sinergi tersebut, sekolah-sekolah di NTB yang membutuhkan pendampingan dapat memperoleh dukungan langsung dari tenaga ahli SMKPPN Mataram dalam mengembangkan kebun sekolah, edukasi Geopark, dan konservasi biodiversitas.

“Kami berharap melalui program  GEMS sekolah menjadi pusat konservasi biodiversitas yang mendukung ketahanan pangan, pendidikan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan di NTB,” pungkasnya.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
GEMS Geopark Educational Model for School Konservasi biodiversitas Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark Seameo Biotrop