LombokPost – Tumpukan limbah rumput laut yang selama ini mencemari pesisir Desa Pandan Wangi, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, segera memiliki nilai ekonomi baru. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), tim dosen Universitas Hamzanwadi bersama mahasiswa mengembangkan teknologi pengolahan limbah rumput laut menjadi Pupuk Organik Cair (POC) serta umbi gadung menjadi insektisida hayati ramah lingkungan.
Program ini diharapkan mampu menekan biaya produksi petani sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan di kawasan pesisir. Kegiatan tersebut bermitra dengan Pemerintah Desa Pandan Wangi, Kelompok Tani Patuh Angen, Kelompok Tani Sari Tani, serta Kelompok Remaja Masjid Temorok yang akan berperan sebagai agen transfer teknologi sekaligus penggerak pertanian organik berbasis potensi lokal.
Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini merupakan bagian dari hibah Kemendiktisaintek yang melibatkan 23 mahasiswa lintas disiplin ilmu, mulai dari Statistika, Biologi, hingga Informatika.
Baca Juga: Mahasiswa KKN Universitas Hamzanwadi Rampungkan Pengabdian, Tinggalkan Program Berkelanjutan
Ketua pelaksana program, Zaotul Wardi, menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari dua persoalan utama yang dihadapi masyarakat Desa Pandan Wangi.
Di satu sisi, petani masih bergantung pada pupuk kimia sehingga biaya produksi mencapai Rp600 ribu hingga Rp800 ribu setiap musim tanam. Di sisi lain, limbah rumput laut yang mencapai 1–2 ton setiap musim hanya menjadi sampah yang mencemari kawasan pantai.
"Program ini tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi membangun sistem pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi tepat guna. Limbah pesisir yang sebelumnya menjadi sumber pencemaran kami ubah menjadi sumber nutrisi tanaman, sedangkan umbi gadung diolah menjadi insektisida hayati yang aman bagi lingkungan," ujarnya.
Melalui metode learning by doing, mahasiswa akan mendampingi masyarakat mulai dari pengumpulan limbah rumput laut, proses fermentasi POC, teknik detoksifikasi umbi gadung, pengemasan produk, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), hingga pengelolaan unit produksi kelompok tani secara mandiri.
Sebagai bagian dari program, tim PKM juga membangun demonstration plot (demplot) pertanian organik yang akan digunakan sebagai laboratorium lapangan untuk membandingkan efektivitas penggunaan pupuk organik dengan sistem budidaya konvensional.
Tidak hanya fokus pada transfer teknologi, program ini juga memperkuat kelembagaan kelompok tani melalui pembentukan unit produksi dan sistem manajemen stok pupuk organik cair serta insektisida hayati agar kegiatan tetap berlanjut setelah program selesai.
Tim pengabdian menargetkan pemanfaatan produk organik hasil produksi sendiri mampu menekan biaya input pertanian sekitar 30 hingga 40 persen setiap musim tanam.
Selain itu, tingkat keberdayaan kelompok tani pada aspek produksi diproyeksikan meningkat dari sekitar 10 persen menjadi 75–80 persen, sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan petani melalui efisiensi biaya produksi.
Program ini juga akan menghasilkan modul pelatihan masyarakat, SOP produksi, dan sistem pendampingan berbasis mahasiswa sehingga teknologi yang dikembangkan dapat direplikasi oleh kelompok tani lain di berbagai wilayah Lombok Timur.
Kepala Desa Pandan Wangi, Saipul Rizal, menyambut positif program tersebut. Menurutnya, inovasi pengolahan limbah rumput laut menjadi produk pertanian organik menjadi solusi yang mampu menghubungkan pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Baca Juga: Unram-Universitas Hamzanwadi Bersinergi, Percepat Pemenuhan Dokter di NTB
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sari Tani, Masturiadi, mengaku antusias dengan program tersebut. "Selama ini rumput laut yang rusak atau sisa panen hanya kami buang. Sekarang bisa kami olah menjadi pupuk. Ini sangat membantu meringankan biaya produksi kami," katanya.
Program PKM Universitas Hamzanwadi ini juga sejalan dengan agenda pembangunan nasional melalui penguatan ekonomi hijau, ekonomi biru, swasembada pangan, serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta pengembangan pertanian berkelanjutan.
Editor : Rury Anjas Andita