LombokPost- SMAN 1 Labuapi kembali membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih cita-cita. Selama dua tahun berturut-turut, SMAN 1 Labuapi sukses mengantarkan siswa kurang mampu lolos kedokteran, sekaligus menegaskan bahwa sekolah di pelosok mampu bersaing dengan sekolah-sekolah favorit melalui inovasi pembelajaran berbasis share leadership.
Keberhasilan SMAN 1 Labuapi tersebut menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas maupun latar belakang ekonomi siswa. Dengan strategi pembelajaran yang tepat serta komitmen kuat para guru, impian menembus fakultas kedokteran kini menjadi kenyataan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Kepala SMAN 1 Labuapi Jupri mengatakan, keberhasilan tersebut lahir dari tekad seluruh warga sekolah yang sejak awal memiliki target jelas agar alumninya mampu diterima di fakultas kedokteran.
Baca Juga: SMKN 4 Mataram Bentuk LSP P1, Sertifikasi Kompetensi Siswa Dimulai 2026
"Kami bertekad alumni harus masuk kedokteran," tegas Jupri, Rabu (5/8).
Untuk mewujudkan target tersebut, sekolah membentuk komunitas belajar guru bertajuk Combel Share Leadership. Melalui forum ini, para guru secara rutin mempresentasikan metode pembelajaran, saling mengevaluasi proses belajar mengajar, hingga mencari solusi atas berbagai tantangan di kelas.
Model pembelajaran tersebut tidak hanya mendorong siswa memahami materi pelajaran, tetapi juga melatih kemampuan komunikasi. Siswa dibiasakan mempresentasikan materi secara lisan tanpa membaca teks, layaknya seorang jurnalis yang mampu menyampaikan informasi secara runtut dan percaya diri.
Baca Juga: Kemenag Kota Mataram Perkuat Satgas Perlindungan Anak, Cegah Perundungan di Madrasah
Keberhasilan SMAN 1 Labuapi juga tidak lepas dari dedikasi para guru. Mereka secara sukarela memberikan bimbingan belajar tambahan tanpa menerima honor. Les gratis tersebut difokuskan untuk persiapan olimpiade sains maupun seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Menurut Jupri, pengabdian itu lahir karena tingginya kepedulian para guru terhadap kondisi ekonomi siswa yang sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu.
"Hal ini dilakukan karena tingginya empati guru terhadap kondisi ekonomi siswa yang mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu," ujarnya.
Baca Juga: Marsha Nouvalia Putri Raih Emas Indonesia World Field Archery 2026, Harumkan MAN 2 Mataram
Data sekolah menunjukkan sekitar 80 persen siswa SMAN 1 Labuapi berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal maupun keluarga pekerja migran di Malaysia dan Arab Saudi. Kondisi tersebut membuat sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang pendampingan bagi para siswa.
Guru-guru secara rutin melakukan home visit untuk memastikan siswa tetap termotivasi menyelesaikan pendidikan. Bahkan sekolah menyediakan kesempatan bekerja paruh waktu di kantin maupun angkringan sekolah agar siswa memperoleh tambahan uang saku tanpa mengganggu aktivitas belajar.
Menurut Jupri, salah satu lulusan yang berhasil diterima di fakultas kedokteran berasal dari keluarga miskin, bukan dari kalangan berada.
Baca Juga: Sekolah Rakyat di Jawa Tengah Tampung 2.692 Siswa, Taj Yasin: Jalan Putus Rantai Kemiskinan
"Itulah anak-anak yang bisa masuk kedokteran, bukan anak orang kaya, tapi siswa miskin," katanya.
Kini, model pembelajaran share leadership SMAN 1 Labuapi telah mendapat pengakuan dari kementerian sebagai model guru belajar. Sekolah tersebut juga kerap menjadi lokasi penelitian dosen Universitas Mataram (Unram). Selain fakultas kedokteran, alumninya berhasil diterima di berbagai program studi bergengsi seperti Farmasi, Teknik, Ekonomi, Pertanian hingga Hukum.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMAN 1 Labuapi Ayu Nurmalayani menambahkan, kondisi ekonomi bukan penentu keberhasilan siswa untuk lolos ke perguruan tinggi negeri. Sekitar 35 persen lulusan SMAN 1 Labuapi setiap tahun berhasil diterima di PTN meski mayoritas berasal dari keluarga penerima Program Keluarga Harapan (PKH).
Baca Juga: Polda NTB Matangkan Pengamanan MotoGP 2026, Antisipasi Kemacetan hingga Aksi Unjuk Rasa di Mandalika
Salah satu kisah yang paling menginspirasi datang dari anak seorang sopir yang berhasil diterima di fakultas kedokteran. Awalnya ia sempat pesimis karena besarnya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Namun berkat kemampuan komunikasi dan negosiasi yang diasah melalui kegiatan jurnalistik sekolah, ia berhasil memperoleh keringanan biaya kuliah.
"Ini bukti nyata bahwa siswa kurang mampu tetap memiliki peluang yang sama untuk sukses," ujar Ayu.
Ia mengungkapkan tantangan terbesar siswa bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga minimnya dukungan keluarga. Banyak siswa berasal dari keluarga broken home, sehingga sekolah mengambil peran penting dalam membangun motivasi dan kepercayaan diri mereka.
Baca Juga: Sekolah Gratis Bikin SMAN 1 Sembalun Diserbu, Pendaftar Melampaui Kuota
Meski demikian, SMAN 1 Labuapi terus membuktikan bahwa sekolah dengan jumlah siswa relatif sedikit mampu melahirkan lulusan berkualitas. Delapan siswa berhasil diterima di Universitas Mataram melalui jalur SNBP maupun SNBT, sementara alumni lainnya tersebar di berbagai perguruan tinggi negeri hingga berhasil melanjutkan studi S2 di Belanda.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post