Konferensi Internasional UMMAT Libatkan Peneliti dari Pakistan dan Australia

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 07:13 WIB
ICMRI 2026 di UMMAT menghimpun 78 pemakalah dari 35 perguruan tinggi.
ICMRI 2026 di UMMAT menghimpun 78 pemakalah dari 35 perguruan tinggi.

 

LombokPost-Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Penelitian, Publikasi, dan Kompetisi Transformatif (UKM SPEKTRA) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menggelar Spektra International Conference on Multidisciplinary Research and Innovation (ICMRI) 2026. Konferensi berlangsung di Aula Lantai III Gedung Rektorat UMMAT, Rabu (5/8/2026).

ICMRI 2026 mengusung tema “Empowering Young Researchers Through Multidisciplinary Innovation for a Sustainable and Digital Future”. Kegiatan menghimpun 78 pemakalah dari 35 perguruan tinggi di Indonesia.

Forum ilmiah itu menjadi ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk mempresentasikan hasil penelitian. Peserta juga bertukar gagasan inovatif dan membangun jejaring akademik lintas disiplin.

Sekretaris Rektor I UMMAT Syafril membuka konferensi secara resmi. Kegiatan turut dihadiri Amil, para wakil dekan, dosen pembimbing, pengurus UKM SPEKTRA, dan peserta dari berbagai perguruan tinggi.

ICMRI 2026 menghadirkan akademisi dari dalam dan luar negeri sebagai pembicara utama. Dua pembicara internasional berasal dari Pakistan dan Australia.

Baca Juga: FH UMMAT Kupas Masa Depan Keadilan dalam Masyarakat Multikultural

Rubab Manzoor dari University of Management and Technology, Pakistan, menjadi salah satu pembicara. Hadir pula Lalu Irfan Hadimi dari Deakin University, Australia.

Keduanya membahas kolaborasi riset internasional, inovasi multidisipliner, dan publikasi ilmiah. Ketiga unsur itu dinilai menjadi tolok ukur daya saing perguruan tinggi pada tingkat global.

Pendekatan lintas disiplin juga semakin dibutuhkan untuk menghasilkan solusi yang relevan. Terutama dalam menjawab tantangan sosial, ekonomi, lingkungan, dan perkembangan teknologi digital.

ICMRI 2026 juga melibatkan mahasiswa sebagai pembicara utama. Tiga mahasiswa terpilih dipercaya menjadi keynote speaker mahasiswa.

Mereka adalah Putri Hindun dan Sri Rahmi Salsabila dari UMMAT. Gregoria Wiwin dari Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng turut menjadi pembicara.

Ketiganya mempresentasikan hasil penelitian, pengalaman akademik, dan gagasan inovatif. Keterlibatan itu menunjukkan mahasiswa dapat berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Forum ilmiah internasional juga menjadi ruang aktualisasi dan kaderisasi peneliti muda.

Ketua Panitia ICMRI 2026 Hanik mengatakan, konferensi dirancang sebagai ruang kolaborasi mahasiswa dan dosen. Forum itu diharapkan memperkuat tradisi penelitian, penulisan ilmiah, dan publikasi hasil riset.

“Kami berharap ICMRI menjadi ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk terus berkolaborasi dalam meneliti, menulis, dan memublikasikan hasil-hasil penelitian. Melalui tulisan, gagasan dan kontribusi seseorang akan tetap hidup serta dikenang sepanjang masa,” ujarnya.

Baca Juga: Festival Sangiang Api Kembali Digelar Akhir Agustus, Angkat Sejarah Letusan, Budaya Maritim, dan Jejak Islam di Bima

Menurut Hanik, ICMRI tidak hanya menjadi agenda ilmiah tahunan. Kegiatan itu juga menjadi bagian dari kaderisasi peneliti muda berdaya saing global.

“Kami berharap ICMRI menjadi pintu gerbang lahirnya mahasiswa-mahasiswa berbakat yang terus mengembangkan kapasitas riset, publikasi ilmiah, dan diseminasi hasil penelitian hingga mampu bersaing dalam berbagai forum internasional,” tambahnya.

Pembina UKM SPEKTRA UMMAT Syaharuddin mengapresiasi dukungan seluruh lembaga dan mitra. Sinergi berbagai pihak dinilai penting dalam membangun ekosistem riset yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.

“Atas nama Pembina UKM SPEKTRA, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh lembaga dan mitra yang telah memberikan dukungan sehingga ICMRI dapat terselenggara dengan baik. Dukungan ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam membangun iklim riset, publikasi ilmiah, dan inovasi yang positif di lingkungan UMMAT,” ungkapnya.

Syaharuddin mengatakan, penguatan budaya penelitian dan publikasi mulai memberikan dampak positif bagi perkembangan institusi.

“Alhamdulillah, berbagai upaya tersebut mulai menunjukkan hasil dengan semakin meningkatnya reputasi dan peringkat Universitas Muhammadiyah Mataram, baik pada tingkat nasional maupun internasional,” lanjutnya.

Mewakili Rektor UMMAT, Syafril menegaskan tantangan global pada era digital tidak dapat diselesaikan melalui satu disiplin ilmu. Pendekatan multidisipliner menjadi kunci untuk melahirkan inovasi yang mampu menjawab persoalan masyarakat secara tepat dan berkelanjutan.

Menurutnya, perguruan tinggi bertanggung jawab membangun lingkungan akademik yang produktif. Mahasiswa tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga produsen gagasan, penelitian, dan inovasi.

Wakil Rektor III UMMAT Erwin turut menyampaikan apresiasi melalui pesan WhatsApp. Ia menilai keberhasilan ICMRI 2026 membuktikan organisasi kemahasiswaan dapat mendukung internasionalisasi perguruan tinggi.

“ICMRI menunjukkan bahwa organisasi kemahasiswaan tidak hanya menjadi ruang pengembangan minat dan bakat, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak budaya riset, publikasi ilmiah, dan kolaborasi akademik pada tingkat internasional. Ini merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem akademik yang produktif, inovatif, dan berdaya saing global,” ujarnya.

Baca Juga: SENASTIF 2026 Digelar Fatek UMMAT, Bahas AI dan Transformasi Digital

Erwin berharap ICMRI berkembang menjadi gerakan akademik berkelanjutan. Kegiatan itu tidak diharapkan berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.

Hasil penelitian yang dipresentasikan diharapkan dapat dikembangkan menjadi publikasi pada jurnal bereputasi. Penelitian juga didorong menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ia turut mendorong perluasan kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia industri, pemerintah, dan mitra internasional. Kolaborasi dibutuhkan untuk memperkuat dampak setiap penelitian.

“Ke depan, kami berharap ICMRI mampu melahirkan lebih banyak peneliti muda yang memiliki integritas, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian menghasilkan inovasi yang berdampak. Forum seperti ini harus menjadi inkubator lahirnya generasi akademisi yang tidak hanya unggul dalam penelitian, tetapi juga mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa,” tegasnya.

Menurut Erwin, peneliti muda juga perlu berkomitmen mendukung pembangunan berkelanjutan. Komitmen itu semakin penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan transformasi digital.

Melalui ICMRI 2026, UMMAT memperkuat budaya akademik berbasis riset. Kampus juga memperluas kolaborasi nasional dan internasional serta mendorong lahirnya peneliti muda yang adaptif.

Konferensi itu diharapkan terus menjadi agenda strategis untuk meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah. ICMRI juga diarahkan untuk memperkuat inovasi multidisipliner serta reputasi akademik UMMAT pada tingkat nasional dan global. 

Editor : Akbar Sirinawa
ICMRI 2026 UKM SPEKTRA UMMAT peneliti muda riset multidisipliner konferensi internasional