Daun Kelor Montong Are Naik Kelas Jadi Sabun Herbal, Dimulai dari MTsN 2 Lombok Barat

Jay • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:54 WIB
INOVASI: Ketua Tim Profesor Berdampak Unram Prof Agus Ramdani (pegang mik) bersama Kepala MTsN 2 Lobar H Abdul Azis Faradi (pakai peci) pada pelatihan proses pembuatan sabun dari daun kelor di MTsN 2 Lobar, Sabtu (8/8).
INOVASI: Ketua Tim Profesor Berdampak Unram Prof Agus Ramdani (pegang mik) bersama Kepala MTsN 2 Lobar H Abdul Azis Faradi (pakai peci) pada pelatihan proses pembuatan sabun dari daun kelor di MTsN 2 Lobar, Sabtu (8/8).

 

LombokPost- Daun kelor di Desa Montong Are, Kecamatan Kediri, Lombok Barat (Lobar) mulai naik kelas. Tanaman yang selama ini identik dengan sayur rumahan itu diolah menjadi sabun herbal melalui program Profesor Berdampak Universitas Mataram (Unram). Inovasi daun kelor Montong Are ini diharapkan membuka peluang usaha sekaligus menambah nilai ekonomi komoditas lokal.

Potensi daun kelor Montong Are memang cukup besar. Tanaman tersebut mudah tumbuh dan banyak ditemukan di lingkungan warga. Namun, pemanfaatannya selama ini masih sebatas untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Kondisi tersebut kemudian mendorong tim akademisi Unram menghadirkan inovasi sabun daun kelor. Pengembangan produk tidak berhenti pada proses pembuatan sabun, tetapi dilanjutkan dengan pengujian, pengemasan, branding, hingga strategi pemasaran.

Baca Juga: Teknologi Tepat Guna KKN UMMAT Permudah Pemupukan Lahan Pertanian Petani di Lendang Nangka Utara

Ketua Tim Profesor Berdampak Unram Prof Agus Ramdani mengatakan, Desa Montong Are dipilih karena memiliki potensi kelor yang melimpah. Pengembangan potensi tersebut juga dinilai selaras dengan arah pembangunan daerah.

"Selama ini daun kelor itu hanya digunakan oleh ibu-ibu untuk sayur, konsumsi biasa saja. Supaya punya nilai tambah, kelompok kami yang memiliki pengetahuan tentang pemanfaatan kelor ini menginisiasi pembuatan produk sabun berbasis daun kelor," ujarnya.

Sebelum diterapkan secara luas kepada masyarakat, program Profesor Berdampak Unram terlebih dahulu dimulai di MTsN 2 Lombok Barat. Langkah tersebut berkaitan dengan latar belakang tim yang berasal dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unram.

Baca Juga: Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Fondasi Madrasah, Kemenag Mataram: Guru Harus Mengajar dengan Ketelada

Pemanfaatan daun kelor Montong Are tidak hanya diarahkan menjadi produk bernilai ekonomi. Tanaman lokal tersebut juga dijadikan media pembelajaran sains atau IPA yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.

Tim yang terdiri atas lima profesor, dua doktor, dan satu mahasiswa itu membawa konsep pembelajaran berbasis proyek. Siswa dan guru diajak melihat bahwa bahan yang ada di sekitar lingkungan dapat dikembangkan menjadi sumber pembelajaran sekaligus produk yang memiliki nilai tambah.

Warga nantinya tidak hanya belajar membuat sabun daun kelor dari formula purwarupa yang telah disiapkan. Mereka juga akan mendapatkan pendampingan dalam uji coba produk, pengemasan, branding, hingga pemasaran.

Baca Juga: Siswi SMAN 1 Labuapi Juara I Mandalika Championship, Latihan Disiplin Antar Siska ke Podium

Menurut Agus, kemampuan pemasaran menjadi bagian penting dalam program tersebut. Sebab, inovasi daun kelor Montong Are diharapkan tidak berhenti sebagai hasil pelatihan.

"Kami ingin mereka tidak hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan produksi, tetapi juga tahu bagaimana cara memasarkannya," ujarnya.

Konsep tersebut diharapkan membuat masyarakat memiliki kemampuan dari hulu hingga hilir. Mulai dari memanfaatkan bahan baku lokal, mengolahnya menjadi sabun herbal kelor, membuat kemasan yang menarik, hingga memperkenalkannya kepada konsumen.

Baca Juga: Dua Siswa MTsN 2 Lombok Barat Lolos Jamnas Pramuka 2026, Siap Harumkan Nama NTB

Program Profesor Berdampak Unram juga dirancang untuk memiliki keberlanjutan. Tim menargetkan terbentuknya Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Desa Montong Are yang nantinya dapat menjadi wadah pengembangan bisnis sabun daun kelor.

Pendampingan dilakukan secara bertahap. Meliputi pengenalan konsep, demonstrasi, penguatan keterampilan produksi, pengembangan produk, branding, hingga strategi pemasaran.

“Dalam tiga tahun kedepan, unit bisnis sabun herbal kelor Montong Are diharapkan dapat berkembang dan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat,” harap Prof Agus.

Baca Juga: Unram Tetapkan 29 Penerima Hibah Penelitian Talenta Muda 2026, Bidik Publikasi Scopus Q2

Setelah tahap awal di madrasah lanjutnya, pengembangan sabun herbal kelor akan dilanjutkan ketengah masyarakat Desa Montong Are. Tiga kelompok utama menjadi sasaran program yakni ibu-ibu PKK, kader Posyandu, dan remaja yang tergabung dalam Karang Taruna.

Kepala MTsN 2 Lombok Barat H Abdul Azis Faradi menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, selama ini masyarakat lebih banyak mengenal daun kelor sebagai bahan pangan. Kehadiran Profesor Berdampak memberikan perspektif baru tentang pemanfaatan tanaman lokal.

"Dengan kehadiran Profesor Berdampak ini, kita mendapatkan pengetahuan baru yang bisa langsung terimplementasi dalam demonstrasi dan praktik baik di madrasah," katanya.

Baca Juga: SMA Baru di Rarang Segera Dibangun, Solusi Atasi Kepadatan Siswa di Lombok Timur

Di MTsN 2 Lombok Barat lanjut Azis, inovasi daun kelor Montong Are juga dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran. Para guru didorong menerapkan pembelajaran berbasis proyek dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar.

Program ini tidak hanya menyasar guru rumpun MIPA. Seluruh tenaga pendidik di madrasah akan mendapat penguatan kapasitas agar mampu mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual.

Azis mengatakan, posisi MTsN 2 Lombok Barat yang berdampingan dengan masyarakat Desa Montong Are membuat kolaborasi tersebut semakin strategis. Pembelajaran dapat dikembangkan dari ruang kelas hingga lingkungan masyarakat.

Baca Juga: Sampah Jadi Sumber Ekonomi, Warga Tanak Beak Dilatih Terapkan 3R

Kedepan, guru juga akan mendapatkan pelatihan berkala mengenai strategi pemasaran dan teknik presentasi produk. Dengan demikian, inovasi pembelajaran sains berbasis sabun daun kelor tidak berhenti sebagai proyek pendidikan.

Melalui program tersebut, Unram dan MTsN 2 Lombok Barat ingin mempertemukan pendidikan, potensi alam, dan pemberdayaan masyarakat. Daun kelor Montong Are yang selama ini tumbuh melimpah di sekitar rumah warga diharapkan mampu menjadi produk lokal yang memiliki nilai tambah.

Pada prinsipnya, sabun herbal kelor bukan sekadar inovasi dari bahan tanaman lokal. Produk tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat Desa Montong Are lebih mandiri dalam mengolah potensi desa. Pendampingan Profesor Berdampak Unram pun diharapkan mampu membawa sabun daun kelor dari tahap purwarupa menuju produk yang memiliki daya saing dan memberi dampak ekonomi bagi warga Lobar.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
daun kelor Montong Are sabun herbal kelor sabun daun kelor Profesor Berdampak Unram Universitas Mataram