LombokPost- Upaya mencegah pernikahan dini di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) kini mendapat amunisi baru. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Mataram menggandeng Puskesmas Lingsar dan Pemerintah Desa Batu Kumbung menghadirkan platform digital Lombok Anti Pernikahan Dini.
Platform tersebut dirancang menjadi ruang edukasi kesehatan reproduksi remaja yang bisa diakses dengan cepat dan fleksibel. Sasaran edukasinya bukan hanya remaja, tetapi juga orang tua, kader kesehatan, perangkat desa, hingga para edukator di tengah masyarakat.
Inovasi ini menjadi salah satu langkah untuk memperkuat literasi masyarakat mengenai bahaya pernikahan dini. Terlebih, persoalan pernikahan anak tidak hanya berkaitan dengan persoalan sosial, tetapi juga memiliki dampak terhadap kesehatan reproduksi, pendidikan, hingga masa depan remaja.
Baca Juga: Dua Siswa MTsN 3 Mataram Melaju ke Jambore Nasional XII 2026
Ketua Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Mataram Eka Rudy Purwana SST., M.Kes mengatakan, platform Lombok Anti Pernikahan Dini dikembangkan agar masyarakat mendapatkan sumber edukasi yang mudah dipahami dan dapat diakses kapan saja.
"Platform website ini kami rancang agar ramah pengguna dan dapat diakses kapan saja. Didalamnya sudah siap pakai berbagai media edukatif seperti buku panduan ber-ISBN, komik interaktif, hingga video animasi untuk memudahkan pemahaman warga," ujarnya.
Berbeda dengan edukasi konvensional, Lombok Anti Pernikahan Dini menghadirkan materi dalam berbagai format. Mulai dua buku panduan ber-ISBN, komik interaktif, novel tematik, video animasi, hingga video edukasi kesehatan.
Baca Juga: Daun Kelor Montong Are Naik Kelas Jadi Sabun Herbal, Dimulai dari MTsN 2 Lombok Barat
Kemasan tersebut diharapkan membuat informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja lebih mudah diterima. Terutama bagi generasi muda yang sehari-hari tidak lepas dari perangkat digital.Sebelum platform diperluas kepada masyarakat, tim Pengabmas lebih dulu melakukan sosialisasi dan pendampingan bersama stakeholder Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar.
Kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas kader kesehatan dan perangkat desa. Mereka diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi sekaligus mendorong pencegahan pernikahan dini di tingkat komunitas. Sebanyak 28 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari 11 kader kesehatan, 11 kepala dusun (kadus), serta delapan perangkat desa.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pencegahan pernikahan dini tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau keluarga. Peran desa, tenaga kesehatan, kader, dan lingkungan sosial juga sangat penting. Materi yang diberikan tidak berhenti pada persoalan usia perkawinan. Tim juga mengajak peserta membahas berbagai persoalan kesehatan yang ditemui masyarakat sehari-hari.
Baca Juga: SMKPPN Mataram dan SMKN 1 Tarano Kolaborasi Perkuat Vokasi Agribisnis NTB
Tim Pengabmas yang beranggotakan Rusdianah Jafar SKM., M.Kes dan Saskianti Ari Andini, Ners, M.Kep menghadirkan sejumlah narasumber untuk memperkaya pembahasan.
Tuti Hartiani, S.Keb selaku ketua Bidan Koordinator (Bikor) sekaligus ketua Unit KTPA Puskesmas Lingsar memaparkan materi tentang kesehatan reproduksi remaja. Sementara Husna Eka Ningsih, S.Kep., Ns membedah berbagai bahaya pernikahan dini. Eka Rudy Purwana kemudian memperkenalkan pemanfaatan aplikasi Bookchapter kesehatan reproduksi sebagai bagian dari penguatan literasi digital. Sesi diskusi pun berlangsung cukup hidup. Para kader dan kepala dusun menyampaikan berbagai persoalan yang mereka temukan di lapangan. Diantaranya mengenai pemilihan pembalut yang aman dan terjangkau, risiko kehamilan pada usia terlalu muda, kaitan pernikahan dini dengan persoalan stunting, hingga upaya meningkatkan partisipasi remaja dalam Posyandu Remaja.
Pembahasan juga menyentuh pencegahan perilaku berisiko di lingkungan masyarakat serta kepastian jaminan kesehatan bagi pekerja migran yang kembali ke desa. Beragam persoalan tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan reproduksi remaja perlu dilakukan secara berkelanjutan. Informasi yang benar harus tersedia dan mudah diakses sebelum remaja mengambil keputusan yang berdampak panjang terhadap masa depannya.
Baca Juga: Cegah Perundungan, SMPN 15 Mataram Perkuat Budaya Positif Siswa
Program Lombok Anti Pernikahan Dini juga tidak dirancang berhenti setelah kegiatan sosialisasi selesai. Pendampingan akan dilanjutkan agar platform digital tersebut benar-benar dimanfaatkan masyarakat. Kedepan, pemanfaatan portal lombokantipernikahandini.com akan diperluas kepada tiga kelompok utama, yakni ibu-ibu PKK, kader Posyandu, dan remaja Karang Taruna.
Langkah ini diharapkan membuat edukasi kesehatan reproduksi remaja semakin dekat dengan masyarakat. Informasi mengenai bahaya pernikahan dini pun tidak hanya tersimpan dalam kegiatan tatap muka, tetapi dapat diakses kembali melalui platform digital.
Eka Rudy menegaskan, keberadaan platform tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam mencegah pernikahan dini. Kolaborasi antara perguruan tinggi, Puskesmas Lingsar, dan Pemerintah Desa Batu Kumbung menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan program.
Baca Juga: UMMAT Jadi Mitra Kemendiktisaintek, 74 Dosen Ikuti Workshop Artikel Ilmiah
“Dengan menggabungkan ilmu akademis, layanan kesehatan, dan teknologi digital, Lombok Anti Pernikahan Dini diharapkan menjadi benteng edukasi bagi masyarakat. Tujuannya, menciptakan generasi muda NTB yang lebih sehat, memiliki literasi kesehatan reproduksi yang baik, serta mampu menata masa depan tanpa terjebak pernikahan dini,” pungkasnya.
Kepala Desa Batu Kumbung Wirya Hadi Saputra menyambut positif kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa tersebut. Menurutnya, kehadiran akademisi memberikan perspektif baru sekaligus solusi yang bisa langsung dimanfaatkan masyarakat.
"Kami mengucapkan banyak terima kasih karena desa kami dijadikan lokasi pengabdian. Kami menyambut sangat baik para akademisi yang membawa solusi nyata berbasis digital bagi warga kami," katanya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post