Profesor Berdampak Unram Bangkitkan Kembali Kopi Arabika Sembalun

Jay • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:48 WIB
FOTO BERSAMA: Tim Profesor Berdampak Unram Universitas Hamzanwadi, Universitas 45 Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram, SMKPPN Mataram di sela-sela pendampingan  untuk membangun pertanian terpadu berkelanjutan di kawasan Agrowisata, Sembalun, belum lama ini.
FOTO BERSAMA: Tim Profesor Berdampak Unram Universitas Hamzanwadi, Universitas 45 Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram, SMKPPN Mataram di sela-sela pendampingan untuk membangun pertanian terpadu berkelanjutan di kawasan Agrowisata, Sembalun, belum lama ini.

 

LombokPost- Upaya mengembalikan kejayaan kopi Arabika Sembalun mulai mendapat perhatian serius. Program Profesor Berdampak Universitas Mataram (Unram) bersama sejumlah perguruan tinggi dan mitra pendidikan memperkuat pendampingan petani untuk membangun pertanian terpadu berkelanjutan di kawasan Agrowisata Sembalun.

Penguatan tersebut dilakukan melalui kegiatan lanjutan ketiga dan keempat Program Profesor Berdampak pada 8 dan 9 Agustus. Mengusung tema “Melalui Program Profesor Berdampak Kita Tingkatkan Sinergitas untuk Membangun Pertanian Terpadu Berkelanjutan di Kawasan Agrowisata Sembalun”, kegiatan ini mempertemukan akademisi dengan petani senior, petani muda, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan pemuda lokal.

Tim yang diketuai Prof M Sarjan melibatkan Universitas Hamzanwadi, Universitas 45 Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram, SMKPPN Mataram, serta Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN).

Baca Juga: Tim PKM Unram Salurkan Teknologi Pascapanen Cabai ke Poktan Desa Jurit

Para profesor tidak hanya datang membawa teori. Mereka memilih mendengar langsung persoalan petani. Mulai dari budidaya kopi Arabika Sembalun, kebutuhan input pertanian, pengolahan hasil, pemasaran, hingga keamanan pangan komoditas segar.

"Yang merasakan dan mengetahui masalah yang dihadapi selama budidaya dan usaha tani adalah petani itu sendiri. Kami dari berbagai bidang datang untuk mendengarkan dan bersama-sama mencari solusi terbaik yang bisa dilakukan bersama," kata Prof. Sarjan.

Diutarakan, program Profesor Berdampak Unram di Sembalun tidak diarahkan sekadar meningkatkan produksi pertanian. Petani didorong membangun sistem usaha tani yang sehat, aman, efisien, memiliki nilai tambah, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga: Nayla Putria Nanda Lolos OSN NTB, Siswi SMPN 15 Mataram Siap Beradu di Bidang IPA

Khusus kopi Arabika Sembalun, pendampingan diharapkan mampu menghidupkan kembali potensi komoditas tersebut. Mulai dari pembibitan, penerapan GAP, penyediaan input mandiri, pengolahan, hingga pemasaran.Di sisi lain, pengembangan komoditas segar seperti strawberry juga diarahkan pada budidaya sehat dan keamanan pangan. Semua upaya tersebut bermuara pada penguatan pertanian terpadu berkelanjutan. Petani tidak hanya menjadi penerima program, tetapi menjadi bagian utama dalam menentukan solusi atas persoalan pertanian mereka sendiri.

Dengan dukungan akademisi, perguruan tinggi, komunitas, dan mitra pendidikan, kopi Arabika Sembalun diharapkan kembali menjadi salah satu kekuatan pertanian sekaligus penggerak ekonomi masyarakat di kawasan Agrowisata Sembalun.

Diskusi menjadi ruang bagi petani menyampaikan persoalan sekaligus harapan. Salah satunya disampaikan H Ruspaini. Dia berharap Program Profesor Berdampak Unram dapat membantu petani Sembalun mengembangkan pertanian berbasis budidaya tanaman sehat. Perhatian khusus diarahkan pada kopi Arabika Sembalun yang selama ini menjadi salah satu identitas pertanian kawasan tersebut.

Baca Juga: SMKPPN Mataram Cetak Petani Milenial NTB, Kuasai Teknologi hingga Agribisnis

Menurutnya, program Unram terkait perkopian harus dimanfaatkan untuk kembali membibitkan kopi Arabika asli Sembalun. Harapan itu mulai mendapat tindak lanjut.

Ustaz Qudus mengungkapkan, bersama mahasiswa KKN Unram, pihaknya telah berinisiatif membibitkan sekitar 20 ribu pohon kopi untuk persiapan penanaman pada musim hujan berikutnya. Dia juga mengajak petani Sembalun terlibat aktif dalam program tersebut. Menurutnya, kesempatan berdialog langsung dengan profesor menjadi momentum penting untuk mencari solusi atas persoalan pertanian yang dihadapi petani.

Pembibitan 20 ribu pohon tersebut diharapkan menjadi langkah awal mengembangkan kembali kopi Arabika Sembalun. Bukan sekadar mengejar produksi, tetapi membangun sistem budidaya yang sehat dan berkelanjutan.

Baca Juga: Siswi MAN 2 Mataram Bawa Rimpu Bima ke Panggung Dunia

Petani milenial Akbar menyoroti penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dalam pengembangan kopi Sembalun. Menurutnya, GAP perlu dilengkapi standar operasional prosedur (SOP) yang sederhana dan mudah diterapkan petani. Panduan tersebut penting agar petani memiliki acuan jelas dalam mengelola tanaman kopi. Namun, pendampingan Profesor Berdampak Unram diharapkan tidak berhenti pada sektor hulu.

Persoalan hilir seperti processing dan pemasaran juga perlu mendapat perhatian. Petani membutuhkan panduan sederhana agar hasil kopi Arabika Sembalun tidak hanya berkualitas saat dibudidayakan, tetapi juga memiliki nilai tambah ketika masuk pasar.

"Kami berharap program ini tidak hanya pada kegiatan di hulu, tetapi juga membantu bagaimana masalah di hilir seperti processing dan pemasaran," ujarnya.

Baca Juga: Cegah Pernikahan Dini, Poltekkes Mataram Hadirkan Edukasi Digital di Lobar

Dengan demikian, pengembangan kopi Arabika Sembalun diharapkan berjalan dari hulu hingga hilir. Petani tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memiliki kemampuan mengolah dan memasarkan hasil pertanian.

Pembahasan dalam forum tersebut tidak hanya mengenai kopi. Perwakilan BPAN, Endo, menyampaikan gagasan mengenai budidaya sehat komoditas strawberry. Sebagai kawasan agrowisata, strawberry menjadi salah satu komoditas yang diminati wisatawan. Konsep petik sendiri dan makan di tempat membuat aspek keamanan pangan menjadi perhatian penting.

Endo berharap ada inovasi penggunaan input nonkimia, baik pupuk maupun pestisida, dalam budidaya strawberry. Menurutnya, produk yang dikonsumsi langsung dalam kondisi segar harus memiliki jaminan keamanan. Karena itu, konsep pertanian terpadu berkelanjutan di Sembalun dinilai perlu diterapkan pada berbagai komoditas unggulan, bukan hanya kopi Arabika Sembalun.

Baca Juga: Dua Siswa MTsN 3 Mataram Melaju ke Jambore Nasional XII 2026

Berbagai aspirasi petani mendapat respons dari tim akademisi Unram. Prof. Taufik Fauzi, Prof. Ruth Stella, Prof. Aluh Nikmatullah, Prof. Yusron Saadi, Prof. Sulhaeni, dan Ir. Hery Haryanto, M.Si sepakat melanjutkan pendampingan. Pendampingan diarahkan untuk mewujudkan pertanian terpadu berkelanjutan, terutama melalui penerapan GAP pada budidaya kopi dan budidaya sehat pada komoditas unggulan lainnya.

Limbah pertanian dan peternakan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik. Petani juga didorong membuat dekomposer secara mandiri. Dengan begitu, ketergantungan terhadap input dari luar dapat ditekan. Pada saat bersamaan, limbah pertanian dan peternakan dapat dimanfaatkan secara produktif.

Konsep tersebut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 12 atau Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah dan prinsip ekonomi sirkular. Sistem produksi pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan juga mendukung SDGs 2 atau Tanpa Kelaparan.

Baca Juga: Daun Kelor Montong Are Naik Kelas Jadi Sabun Herbal, Dimulai dari MTsN 2 Lombok Barat

Keamanan pangan menjadi perhatian lain dalam pendampingan petani. Khusus komoditas segar, petani didorong mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikasi Prima 3. Sertifikasi tersebut diharapkan menjadi jaminan bahwa produk segar menerapkan praktik budidaya yang baik dan memenuhi aspek keamanan pangan.Label Prima 3 juga dinilai dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus nilai jual produk. Hal ini penting bagi petani yang mengembangkan komoditas segar untuk pasar maupun sektor pariwisata.

Upaya tersebut sejalan dengan SDGs 3 atau Kehidupan Sehat dan Sejahtera, terutama melalui penyediaan pangan yang lebih aman. Sementara peningkatan kualitas dan nilai tambah produk pertanian diharapkan mendukung SDGs 8 atau Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
kopi sembalun Profesor Berdampak Unram kopi Arabika Sembalun budidaya kopi Arabika Sembalun kopi Arabika Lombok Timur