Profesor Berdampak Unram Sulap Potensi Alam Taman Ayu Jadi Kampung Trigona

Jay • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:49 WIB
BUDIDAYA MADU TRIGONA: Tim Profesor Berdampak Unram, kades Taman Ayu, Pokdarwis, kadus, dan warga foto bersama di sela sela pelatihan Budidaya Madu Trigona di Kantor Desa Taman Ayu, Selasa (11/8). Profesor Berdampak Unram sulap potensi alam Taman Ayu jadi Kampung Trigona.
BUDIDAYA MADU TRIGONA: Tim Profesor Berdampak Unram, kades Taman Ayu, Pokdarwis, kadus, dan warga foto bersama di sela sela pelatihan Budidaya Madu Trigona di Kantor Desa Taman Ayu, Selasa (11/8). Profesor Berdampak Unram sulap potensi alam Taman Ayu jadi Kampung Trigona.

 

LombokPost- Potensi alam Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat mulai dilirik sebagai sumber ekonomi baru. Melalui program Profesor Berdampak Universitas Mataram (Unram), para akademisi turun langsung ke desa untuk merintis Kampung Trigona sebagai sentra budidaya madu trigona berkelanjutan.

Program Kampung Trigona Desa Taman Ayu tidak sekadar mengejar produksi madu. Lebih jauh, pengembangan tersebut dirancang untuk memadukan pertanian, agrowisata, pemberdayaan masyarakat, sekaligus pelestarian lingkungan.

Ketua Tim Profesor Berdampak Unram Prof Erwan mengatakan, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun demplot Kampung Trigona.

Baca Juga: SMKPPN Mataram dan SMKN 1 Tarano Kolaborasi Perkuat Vokasi Agribisnis NTB

“Ada sharing pendanaan dan komitmen luar biasa dari petani yang rela melepaskan lahannya demi pengembangan trigona ini. Lokasi tersebut nantinya akan kami tata sebagai demplot Kampung Trigona," ujar Prof Erwan yang juga akademisi Fakultas Peternakan Unram, Selasa (11/8).

Demplot tersebut nantinya menjadi lokasi pembelajaran sekaligus praktik langsung masyarakat. Petani akan mendapatkan pendampingan mulai dari budidaya hingga pengembangan produk madu trigona.

Pengembangan Kampung Trigona tidak hanya menyasar petani. Program ini dirancang dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat agar keberlanjutannya tidak bergantung pada tim akademisi.

Sebanyak sepuluh anggota kelompok tani menjadi penerima manfaat langsung pelatihan. Mereka akan dibekali pengetahuan mengenai budidaya lebah trigona dan peluang pengembangan usaha berbasis madu.

Baca Juga: Daun Kelor Montong Are Naik Kelas Jadi Sabun Herbal, Dimulai dari MTsN 2 Lombok Barat

Sebanyak sepuluh anak muda yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Taman Ayu juga dilibatkan. Keterlibatan pemuda membuka peluang agar Kampung Trigona Taman Ayu tidak hanya berkembang sebagai sentra produksi madu.

Kawasan tersebut juga diarahkan menjadi bagian dari wisata agro yang menawarkan pengalaman berbasis pertanian, lingkungan, dan budidaya lebah.

Tiga kepala dusun turut dilibatkan dalam sosialisasi. Mereka diharapkan menjadi penghubung program dengan masyarakat di wilayah masing-masing.

Mahasiswa dan alumni Unram juga diterjunkan untuk mendukung riset berbasis potensi lokal Desa Taman Ayu. Riset tersebut diharapkan menjadi dasar pengembangan Kampung Trigona dalam jangka panjang.

Konsep madu trigona yang dikembangkan di Taman Ayu juga memiliki manfaat langsung bagi sektor pertanian.

Lebah trigona membantu proses penyerbukan berbagai tanaman buah milik warga, seperti belimbing dan kelengkeng. Dengan penyerbukan yang lebih baik, produktivitas tanaman diharapkan ikut meningkat.

Baca Juga: Cegah Pernikahan Dini, Poltekkes Mataram Hadirkan Edukasi Digital di Lobar

Sebaliknya, tanaman berbunga menjadi sumber nektar bagi lebah. Hubungan tersebut membentuk simbiosis yang saling menguntungkan antara budidaya lebah dan pertanian warga.

Karena itu, Kampung Trigona dirancang sebagai kawasan yang memadukan produksi madu dengan pertanian ramah lingkungan. Konsep tersebut sekaligus memperkuat gagasan ekonomi hijau yang menjadi salah satu tujuan utama program Profesor Berdampak Unram.

Prof Erwan juga menyiapkan skema hilirisasi. Tujuannya agar petani tidak hanya mampu menghasilkan madu trigona, tetapi juga memperoleh nilai tambah dari produk turunannya. Program ini menggandeng Direktur UMKM Lumbung Madu Hasanah yang siap menyerap hasil madu petani. Sementara Direktur UD Lombok Shop akan membantu pengembangan diversifikasi produk non-madu.

Selain madu, petani nantinya diarahkan mengembangkan propolis dan polen sebagai sumber pendapatan tambahan.

Baca Juga: MTsN 3 Mataram Perkuat Pendidikan Karakter Lewat Budaya Religius dan Sasak

"Skema ini memungkinkan petani meraup tiga sumber pendapatan sekaligus dalam sekali panen," jelas Prof Erwan.

Pada tahun pertama, tim juga menargetkan pengembangan inovasi permen madu. Produk tersebut diharapkan menjadi salah satu bentuk diversifikasi agar madu dapat dikonsumsi dengan cara yang lebih menarik.Pendampingan juga akan dilanjutkan dengan pelatihan pemanenan higienis, pengemasan, pelabelan, hingga pemasaran digital. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi produsen bahan mentah. Mereka secara bertahap diarahkan menjadi pelaku usaha yang mampu mengelola produksi, mengembangkan produk, dan mencari pasar secara mandiri.

Keberlanjutan menjadi kunci utama pengembangan Kampung Trigona. Sejak awal, program dirancang dengan melibatkan petani, pemuda, pemerintah desa, pelaku usaha, dan masyarakat.

Pola tersebut diharapkan membuat warga memiliki kemampuan untuk melanjutkan program ketika masa pendampingan dari akademisi Unram berakhir.

Baca Juga: Cegah Perundungan, SMPN 15 Mataram Perkuat Budaya Positif Siswa

Kepala Desa Taman Ayu M Tajudin menambahkan, masyarakat berharap pendampingan Profesor Berdampak Unram tidak berhenti pada tahap budidaya. Pendampingan diharapkan berlanjut hingga pengemasan dan pemasaran.

Menurutnya, pengembangan madu trigona memiliki prospek pasar yang menjanjikan apabila produksi dilakukan secara konsisten dan kualitasnya terjaga. Bagi Desa Taman Ayu, Profesor Berdampak Unram bukan sekadar program pelatihan.

Kehadiran para profesor diharapkan menjadi pemantik lahirnya usaha baru berbasis potensi alam desa. Jika dikelola secara konsisten, Kampung Trigona dapat berkembang menjadi sentra madu trigona sekaligus kawasan wisata agro yang memberi manfaat ekonomi bagi warga.

"Jika komoditas ini berhasil dikembangkan secara konsisten, pasarnya sangat jelas karena sangat sejalan dengan program nasional kita," tambahnya.

Baca Juga: Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Fondasi Madrasah, Kemenag Mataram: Guru Harus Mengajar dengan Ketelada

Selain teknik budidaya, aspek manajemen usaha menjadi perhatian dalam program Kampung Trigona. Warga akan dibekali pengetahuan mengenai inklusi keuangan, pencatatan transaksi, hingga penyusunan laporan usaha secara berkala.

Langkah ini dinilai penting agar usaha madu trigona tidak berjalan secara tradisional tanpa pencatatan. Dengan administrasi yang tertib, kelompok tani dapat mengetahui perkembangan usaha sekaligus melakukan evaluasi berdasarkan data.

Tajudin mengatakan, kehadiran para akademisi diharapkan mampu memberikan daya ungkit terhadap perekonomian masyarakat melalui pengembangan potensi lokal. Menurutnya, para profesor kini mulai "turun gunung" untuk membantu desa merancang kebijakan strategis berbasis potensi masyarakat.

Baca Juga: Unram Tetapkan 29 Penerima Hibah Penelitian Talenta Muda 2026, Bidik Publikasi Scopus Q2

Salah satu yang dipilih adalah budidaya madu trigona. Komoditas tersebut dinilai sangat cocok dikembangkan di Taman Ayu karena didukung bentang alam dan vegetasi yang potensial.

"Di sini banyak warga Hindu yang menanam bunga di kebun mereka. Jika budidaya madu trigona ini dibangun di sana, tentu sangat terhubung dan saling mendukung dengan keberadaan bunga-bunga tersebut," ujar Tajudin.

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Profesor Berdampak Unram Kampung Trigona Kampung Trigona Taman Ayu Desa Taman Ayu Madu Trigona