Tim PKM UMMAT Olah Limbah Tempe Jadi Pakan Probiotik

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 14:29 WIB
Tim PkM UMMAT.
Tim PkM UMMAT.

 

 

LombokPost-Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) mengembangkan pemanfaatan limbah produksi tempe. Limbah itu diolah menjadi pakan ternak fermentasi yang diperkaya probiotik.

Program dilaksanakan di Penaban, Aik Mual, Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Rabu, 12 Agustus 2026. Kegiatan melibatkan dosen, mahasiswa, UMKM Tempe De Batur, kelompok Ternak De Solah, serta sekitar 20 anggota mitra.

Kegiatan mengangkat tema “Inovasi Fermentasi Limbah Tempe sebagai Probiotic-Enriched Feed dalam Model Pemberdayaan UMKM Tempe dan Peternak Berbasis Keberlanjutan Usaha”.

Baca Juga: Diktilitbang PP Muhammadiyah dan UMMAT Perkuat Riset Dosen

Program diarahkan untuk memanfaatkan limbah produksi tempe menjadi pakan alternatif. Inovasi itu juga diharapkan memberikan nilai tambah ekonomi serta mendukung keberlanjutan usaha masyarakat.

Tim PkM UMMAT diketuai Ahadiah Agustina, S.E.Sy., M.E. Anggota tim terdiri atas Dr. H. Abdul Wahab, M.A. dan Suhairin, M.Si.

Mahasiswa juga dilibatkan dalam pelaksanaan program dan pendampingan kepada mitra.

Program berangkat dari dua persoalan yang saling berkaitan. Pertama, produksi tempe menghasilkan limbah atau residu kedelai dalam jumlah cukup besar.

Baca Juga: HMTA UMMAT Raih Juara 1 Permata Mining & Explore 2026

Selama ini, limbah itu belum dimanfaatkan secara optimal. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.

Pada saat yang sama, sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi menjadi terbuang.

Persoalan kedua berkaitan dengan kebutuhan pakan kelompok peternak. Pakan menjadi salah satu komponen penting dalam biaya produksi peternakan.

Ketergantungan pada pakan komersial maupun bahan dari luar wilayah dapat meningkatkan pengeluaran. Kondisi itu dapat memengaruhi efisiensi dan keberlanjutan usaha peternakan.

Tim UMMAT kemudian memperkenalkan teknologi fermentasi limbah tempe. Teknologi itu menghasilkan Probiotic-Enriched Feed atau pakan fermentasi yang diperkaya probiotik.

Baca Juga: Dosen UMMAT Ikuti Pelatihan Analisis Data dengan JASP dan AI

Pengolahan menggunakan starter probiotik. Salah satunya Lactiplantibacillus plantarum (L. plantarum).

Pemanfaatan teknologi itu memungkinkan limbah produksi diarahkan menjadi bahan pakan alternatif. Produk juga diharapkan memiliki nilai lebih dan dapat dimanfaatkan peternak.

Ketua Tim PkM UMMAT Ahadiah Agustina mengatakan, program tidak hanya diarahkan menyelesaikan persoalan limbah produksi tempe. Kegiatan juga membangun keterhubungan antara kebutuhan UMKM dan peternak melalui sumber daya lokal.

Menurutnya, limbah tempe yang belum dimanfaatkan secara optimal memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Teknologi fermentasi berbasis probiotik memungkinkan limbah diarahkan menjadi alternatif pakan ternak. Pemanfaatannya sekaligus dapat mendukung pengembangan usaha masyarakat.

Baca Juga: Mahasiswa PBSI UMMAT Raih Juara II Film Pendek Tingkat Nasional

Ahadiah menegaskan keberlanjutan program menjadi perhatian penting tim. Karena itu, kegiatan tidak berhenti pada sosialisasi teknologi.

Tim juga memberikan praktik langsung dan pendampingan. Langkah itu dilakukan agar mitra mampu menerapkan inovasi secara mandiri.

Pengembangan inovasi turut mendorong penerapan ekonomi sirkular. Limbah dari satu aktivitas usaha diubah menjadi sumber daya produktif bagi usaha lainnya.

Pola itu menghubungkan UMKM tempe dengan kelompok peternak. Keduanya berada dalam rantai pemanfaatan sumber daya lokal yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.

Pelaksanaan program menggunakan pendekatan partisipatif. Masyarakat dilibatkan dalam setiap tahapan kegiatan.

Program dimulai dengan koordinasi dan identifikasi kondisi usaha mitra. Tim memetakan ketersediaan limbah tempe, kebutuhan pakan ternak, serta kendala dalam menjalankan usaha.

Baca Juga: Tim PKM Unram Salurkan Teknologi Pascapanen Cabai ke Poktan Desa Jurit

Selanjutnya, peserta mendapatkan sosialisasi mengenai potensi limbah tempe sebagai bahan pakan alternatif. Materi juga mencakup konsep ekonomi sirkular dan manfaat teknologi fermentasi.

Peserta tidak hanya menerima materi. Mereka mengikuti demonstrasi dan praktik langsung menggunakan metode learning by doing.

Dalam praktik itu, peserta diperkenalkan dengan bahan yang digunakan dan bahan pakan pendukung. Mereka juga mengenal starter probiotik dan proses pencampuran.

Tahapan lainnya meliputi pemberian starter, fermentasi, pengemasan, hingga penyimpanan produk.

Melalui praktik tersebut, mitra diharapkan memahami konsep pengolahan pakan fermentasi. Mereka juga diarahkan memiliki keterampilan untuk menerapkannya secara mandiri.

Peserta turut mendapatkan pendampingan mengenai pemanfaatan hasil fermentasi sebagai pakan ternak. Materi mencakup proses penyimpanan dan penggunaan produk.

Selain teknologi, program PkM UMMAT memberikan perhatian pada penguatan manajemen usaha. Mitra mendapatkan pendampingan mengenai pencatatan biaya produksi dan pembukuan sederhana.

Pendampingan juga mencakup pengemasan, pelabelan, branding, dan pemasaran digital.

Penguatan aspek usaha dinilai penting karena keberhasilan inovasi tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan produk. Masyarakat juga perlu mampu mengelola dan mengembangkan produk agar memiliki nilai ekonomi berkelanjutan.

Baca Juga: PKM Kemendiktisaintek Bekali Kelompok Tani dan Mahasiswa KKN dengan Teknologi Organik Berbasis Limbah Rumput Laut dan Umbi Gadung

Peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan media sosial dan media digital untuk memperluas pemasaran. Dengan demikian, hasil fermentasi tidak hanya berpotensi memenuhi kebutuhan pakan peternak.

Produk itu juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha baru.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Mitra aktif berdiskusi mengenai proses fermentasi, penggunaan starter probiotik, dan kualitas hasil fermentasi.

Diskusi juga membahas metode penyimpanan hingga pemanfaatannya sebagai pakan ternak. Praktik langsung mendapat respons positif karena peserta dapat melihat dan mencoba setiap tahapan pengolahan.

Ketua Mitra Ternak Durrahman mengapresiasi program yang dilaksanakan UMMAT. Menurutnya, kegiatan memberikan pengetahuan dan keterampilan baru kepada masyarakat.

Baca Juga: Melihat Cara TIM PKM Hamzanwadi Berdayakan dan Lestarikan Tenun Pringgasela, Berikan Workshop Pemasaran dan Pendampingan Produksi, Hingga Bantuan

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami karena limbah dari produksi tempe yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal dapat diolah menjadi pakan fermentasi untuk ternak. Kami juga mendapatkan pengetahuan baru tentang cara pengolahan limbah, penggunaan probiotik, serta pengelolaan dan pemasaran produk. Kami berharap pendampingan seperti ini dapat terus dilanjutkan agar usaha UMKM dan peternakan masyarakat semakin berkembang,” ungkapnya.

Melalui program itu, limbah produksi tempe yang sebelumnya belum termanfaatkan optimal memiliki peluang dikembangkan menjadi sumber daya baru. Limbah juga dapat diarahkan menjadi produk yang lebih produktif dan bernilai ekonomi.

Bagi UMKM Tempe De Batur, inovasi membuka peluang meningkatkan nilai ekonomi limbah produksi. Pemanfaatannya juga berpotensi mengurangi persoalan lingkungan.

Sementara bagi kelompok Ternak De Solah, teknologi fermentasi memberikan alternatif bahan lokal untuk mendukung kebutuhan pakan ternak.

Dalam jangka panjang, pemanfaatan sumber daya lokal diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap bahan pakan dari luar wilayah. Langkah itu juga diharapkan membantu meningkatkan efisiensi usaha.

Baca Juga: PKM Universitas Hamzanwadi Perkuat Ekosistem Songket Pringgasela

Program turut diarahkan memperkuat keberlanjutan ekonomi masyarakat.

Inovasi juga berpotensi menjadi model pemberdayaan berbasis potensi lokal. Model itu mengintegrasikan UMKM, peternakan, pengelolaan lingkungan, teknologi tepat guna, dan digitalisasi usaha.

Secara keseluruhan, program diarahkan menghasilkan lima dampak utama. Pertama, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat.

Kedua, meningkatkan nilai ekonomi limbah tempe. Ketiga, mendorong efisiensi dan diversifikasi pakan ternak.

Keempat, memperkuat manajemen dan pemasaran UMKM. Kelima, mengurangi dampak lingkungan melalui penerapan ekonomi sirkular.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat itu mendapatkan dukungan pendanaan dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Ditjen Risbang Diktisaintek).

Dukungan diberikan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026.

Melalui sinergi perguruan tinggi, UMKM, kelompok peternak, mahasiswa, dan masyarakat, UMMAT berharap inovasi tidak berhenti pada sosialisasi. Program diharapkan terus diterapkan dan dikembangkan secara mandiri.

Inovasi itu diharapkan memberikan dampak terhadap peningkatan nilai ekonomi sumber daya lokal. Program juga diarahkan meningkatkan efisiensi usaha peternakan, memperkuat UMKM, serta mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan di Kabupaten Lombok Tengah.

Editor : Akbar Sirinawa
limbah tempe pakan probiotik peternak Lombok Tengah ummat ekonomi sirkular