LombokPost- Perjalanan Renita Syafitri di ajang Seni Membaca Puisi Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) belum berakhir dengan tiket menuju tingkat nasional. Siswi kelas XII SMAN 1 Labuapi itu belum berhasil meraih hasil terbaik pada seleksi tingkat NTB tahun ini.
Namun, hasil itu tidak menghapus perjuangan Renita dalam menekuni Seni Membaca Puisi. Di balik penampilannya, ada proses latihan panjang, diskusi naskah, hingga evaluasi yang menjadi pengalaman berharga untuk mengembangkan bakatnya.
Renita menjalani persiapan bersama guru pembimbing dengan suasana santai, tetapi tetap intens. Latihan tidak hanya berlangsung di aula atau ruang Bimbingan Konseling (BK). Bahkan, tempat nongkrong guru pembimbing ikut berubah menjadi ruang belajar seni.
Baca Juga: 6.665 Mahasiswa Baru Unram Turun ke Masyarakat, Bawa Bibit hingga Edukasi Sampah
Di tempat itu, Renita bersama peserta cabang lomba lainnya berdiskusi mengenai naskah, saling menyimak pembacaan puisi, serta memberikan masukan satu sama lain. Cara itu membuat persiapan Seni Membaca Puisi terasa lebih cair sekaligus membantu mereka memperkuat penampilan.
Bagi Renita, proses latihan justru menjadi bagian paling berkesan dalam perjalanannya mengikuti FLS3N Seni Membaca Puisi. Proses belajar tidak harus selalu berlangsung di ruang formal. Selama ada kemauan untuk berlatih, proses belajar bisa dilakukan di berbagai tempat.
Namun, pengalaman di tingkat Provinsi NTB juga memberikan sejumlah catatan. Renita mengaku sempat terburu-buru ketika membawakan puisi yang dianggap cukup sulit. Pengaturan jeda dan napas menjadi salah satu tantangan yang harus dievaluasi.
Baca Juga: 1.800 Pemilih Tentukan Presiden Prismada MAN 2 Mataram, Dikemas Layaknya Pemilu
Selain itu, sistem perlombaan yang dilakukan secara daring membuat tantangan Seni Membaca Puisi FLS3N semakin berbeda. Menurut Renita, menyampaikan ekspresi puisi di depan kamera terasa lebih sulit dibandingkan tampil langsung di hadapan dewan juri.
Tantangan itu bahkan sudah dirasakan sejak seleksi tingkat kabupaten. Renita membutuhkan waktu hingga empat hari untuk menyelesaikan proses perekaman video. Beberapa kendala teknis membuatnya harus mengulang pengambilan gambar.
Situasi itu menjadi pengalaman tersendiri bagi Renita. Ia belajar bahwa Seni Membaca Puisi FLS3N bukan hanya soal kemampuan menghayati puisi, tetapi juga kesiapan teknis, penguasaan panggung, pengaturan napas, dan kemampuan mengelola tekanan saat kompetisi.
Baca Juga: PKKMB Unram 2026 Dimulai, Mahasiswa Baru Didorong Tak Sekadar Kejar Nilai
Hasil seleksi tingkat provinsi memang membuat Renita kecewa. Apalagi, ia sempat menyimpan harapan untuk melaju hingga tingkat nasional melalui FLS3N Seni Membaca Puisi.
“Rasa sedih tentu ada, terutama karena impian saya bisa ke tingkat nasional tahun ini,” ujarnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Lombok Post