LombokPost--Persoalan sampah plastik di wilayah pesisir menjadi perhatian Universitas Mataram (Unram).
Melalui Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, tim pengabdian kepada masyarakat Unram menggelar edukasi pengelolaan sampah di SDN 02 Paremas, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Juli 2026.
Kegiatan yang diketuai Chandrika Eka Larasati, S.Pi, M.Si, itu menyasar siswa sekolah dasar untuk meningkatkan literasi lingkungan sekaligus membangun kebiasaan memilah sampah sejak dini.
Sebelumnya, pengelolaan sampah di sekolah masih dilakukan secara konvensional dan belum menerapkan pemilahan berdasarkan jenisnya.
“Edukasi tentang sampah perlu diberikan sejak usia sekolah karena kebiasaan yang dibangun sejak dini akan lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami tidak hanya memberikan materi, tetapi juga menyediakan fasilitas yang dapat langsung digunakan siswa,” kata Chandrika.
Sebagai bagian dari program, tim pengabdian Unram menyerahkan inovasi teknologi tepat guna berupa Tempat Sampah Botol Ergonomis.
Baca Juga: Peringatan Dini Tsunami Pasca Gempa M 7,7: NTT, Sulsel, Sultra, dan NTB Berstatus Siaga-Waspada
Fasilitas berkapasitas 350 liter itu menggunakan rangka besi hollow dan wiremesh galvanis yang dinilai sesuai dengan kondisi lingkungan pesisir.
Desain tempat sampah tersebut disesuaikan dengan jangkauan fisik anak usia 10–11 tahun.
Dengan begitu, siswa dapat membuang botol plastik secara lebih mudah dan nyaman tanpa harus melakukan gerakan tubuh yang berlebihan.
Anggota tim pengabdian, Rhojim Wahyudi, S.Kel, M.Si, menegaskan fasilitas pemilahan harus dibarengi pemahaman siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Anak-anak akan lebih mudah membangun kebiasaan ketika mereka tidak hanya diberi tahu apa yang harus dilakukan, tetapi juga memahami mengapa hal tersebut penting. Karena itu, fasilitas ini kami jadikan bagian dari proses edukasi,” jelas Rhojim.
Edukasi dikemas dengan pendekatan ramah anak dan interaktif. Bersama mahasiswa KKN Paremas 2, tim Unram mengajak siswa kelas V mengikuti ice breaking, menyaksikan video tentang dampak sampah plastik terhadap ekosistem laut, hingga melakukan simulasi pemilahan sampah secara berkelompok.
Anggota tim lainnya, Ir Saptono Waspodo, M.Si, mengatakan aspek kemudahan penggunaan, keamanan, jangkauan, serta ketahanan menjadi pertimbangan dalam merancang fasilitas tersebut.
“Fasilitas yang digunakan di sekolah perlu disesuaikan dengan penggunanya. Karena yang menggunakan tempat sampah ini adalah anak-anak, aspek kemudahan penggunaan, jangkauan, keamanan, dan daya tahan menjadi pertimbangan dalam desain,” ujarnya.
Hasil evaluasi menunjukkan program tersebut memberikan dampak terhadap pemahaman dan keterampilan siswa.
Baca Juga: FPRB dan Pemda KLU Tuntaskan Penyusunan Bahan Ajar Kebencanaan. Susun Buku Cerita Bergambar
Pemahaman kognitif meningkat dari 38,5 persen menjadi 88 persen. Sementara keterampilan psikomotorik dalam memilah botol plastik naik dari 42 persen menjadi 92,5 persen.
Kesadaran siswa untuk membuang sampah pada tempatnya juga mencapai 95 persen setelah kegiatan.
Capaian tersebut menunjukkan pendekatan edukasi yang dipadukan dengan fasilitas praktik mampu mendorong perubahan perilaku siswa.
Kepala SDN 02 Paremas Marjun, S.Pd menyambut positif program pengabdian tersebut.
Menurutnya, fasilitas yang diberikan menjadi sarana pendukung bagi sekolah dalam membangun kebiasaan membuang dan memilah sampah.
“Kami sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. Anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang sampah, tetapi juga langsung memiliki tempat untuk mempraktikkan kebiasaan membuang sampah dengan benar,” kata Marjun.
Chandrika menilai keberadaan fasilitas tidak cukup jika tidak diikuti pembiasaan secara konsisten. Karena itu, sekolah didorong menjadikan kebersihan dan pemilahan sampah sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari siswa.
“Harapannya, tempat sampah ini tidak hanya menjadi fasilitas, tetapi juga menjadi pengingat visual bagi siswa bahwa setiap botol plastik yang mereka gunakan memiliki tempat yang semestinya,” ujarnya.
Untuk menjaga keberlanjutan program, pihak sekolah berencana mengintegrasikan kegiatan kebersihan dan pemilahan sampah ke dalam tata tertib serta jadwal piket harian siswa.
Langkah tersebut diharapkan dapat membentuk budaya menjaga kebersihan lingkungan sekolah secara berkelanjutan.
Program pengabdian ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 14 tentang ekosistem laut.
Edukasi pengurangan sampah plastik sejak dari lingkungan sekolah dinilai penting untuk mencegah sampah daratan mencemari laut dan mengganggu keberlanjutan ekosistem pesisir.
Editor : Kimda FaridaSumber : siaran pers