UMMAT Maknai Kemerdekaan dengan Pendidikan, Inovasi, dan Pengabdian

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:06 WIB
Upacara perayaraan HUT ke-81 RI di UMMAT.
Upacara perayaraan HUT ke-81 RI di UMMAT.

 

 

LombokPost-Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui upacara bendera, Senin (17/8/2026). Upacara berlangsung khidmat dengan diikuti pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta seluruh sivitas akademika.

Peringatan tahun ini mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Momentum kemerdekaan tidak hanya digunakan untuk mengenang perjuangan para pahlawan.

Keluarga besar UMMAT juga diajak merefleksikan tanggung jawab generasi sekarang dalam melanjutkan perjuangan. Tanggung jawab itu diwujudkan melalui pendidikan, penelitian, inovasi, pengabdian, dan karya nyata bagi masyarakat.

Rektor UMMAT Dr. H. Abdul Wahab, MA., menegaskan kemerdekaan yang dinikmati bangsa Indonesia bukan sebuah hadiah. Kemerdekaan lahir dari pengorbanan, persatuan, keberanian, ilmu pengetahuan, keimanan, dan keteguhan hati para pendahulu.

Menurutnya, setelah Indonesia merdeka selama 81 tahun, pertanyaan penting tidak lagi hanya mengenai usia kemerdekaan. Generasi sekarang perlu melihat apa yang sudah dilakukan untuk menjaga, mengisi, dan meneruskan kemerdekaan.

“Kemerdekaan tidak boleh berhenti menjadi sebuah peristiwa sejarah. Kemerdekaan harus menjadi kesadaran, tanggung jawab, etos kerja, keberanian untuk berkarya, dan diwujudkan melalui kebermanfaatan kita bagi sesama,” tegasnya.

Abdul Wahab mengatakan, medan perjuangan generasi sekarang berbeda dengan para pendiri bangsa. Jika dahulu masyarakat menghadapi kolonialisme, tantangan saat ini semakin kompleks.

Bangsa Indonesia menghadapi kemiskinan, kesenjangan pendidikan, pengangguran, kerusakan lingkungan, hingga perubahan iklim. Tantangan lainnya berupa disinformasi, persaingan global, serta perkembangan kecerdasan buatan yang mengubah cara manusia belajar dan bekerja.

Selain itu, persoalan karakter, integritas, keteladanan, dan kepedulian juga perlu menjadi perhatian bersama.

Karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi masa depan. Kampus tidak cukup hanya melahirkan lulusan dengan gelar akademik.

Perguruan tinggi juga harus membentuk problem solver, inovator, peneliti, pengusaha, dan pemimpin. Para lulusan diharapkan menjadi manusia yang memberikan manfaat kepada masyarakat.

Abdul Wahab menegaskan universitas tidak boleh menjadi “menara gading” yang jauh dari persoalan masyarakat. Perguruan tinggi harus hadir ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan.

Persoalan itu dapat berkaitan dengan pertanian, kesehatan, pendidikan, hukum, lingkungan, ekonomi, teknologi, maupun kehidupan sosial.

“Universitas harus menjadi bagian dari jawaban, bukan sekadar penonton dari persoalan,” ujarnya.

Menurut Abdul Wahab, semangat itu menjadi esensi Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta Al Islam Kemuhammadiyahan harus berjalan secara terintegrasi.

Apa yang diajarkan di ruang kelas harus memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat. Penelitian harus mampu menjawab persoalan, sementara pengabdian perlu menghasilkan perubahan nyata.

Sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah, UMMAT juga memiliki tanggung jawab menjaga spirit bahwa ilmu harus melahirkan amal. Keimanan harus menghadirkan kebermanfaatan dan pendidikan menjadi instrumen perubahan sosial.

UMMAT diharapkan tidak hanya mencetak sarjana. Kampus juga harus melahirkan lulusan berintegritas, kompeten, profesional, berani, dan peduli.

Lulusan UMMAT juga diharapkan memiliki akhlak serta orientasi terhadap kemaslahatan masyarakat.

Kepada mahasiswa, Abdul Wahab mengingatkan besarnya peluang sekaligus distraksi yang dihadapi generasi muda saat ini. Kemajuan teknologi membuat akses terhadap pengetahuan semakin terbuka.

Mahasiswa dapat mengakses buku, jaringan profesional, pembelajaran global, hingga kecerdasan buatan dengan lebih mudah. Namun, media sosial dan banjir informasi juga berpotensi menyita banyak waktu tanpa menghasilkan karya.

Karena itu, mahasiswa UMMAT diajak memaknai kemerdekaan secara personal. Mereka didorong merdeka dari kemalasan, kebiasaan menunda, dan ketergantungan terhadap validasi orang lain.

Mahasiswa juga diajak membebaskan diri dari informasi palsu, mental instan, serta rasa takut gagal.

“Jangan hanya bercita-cita lulus. Bercita-citalah menjadi berguna. Jangan hanya bertanya, ‘Nanti saya dapat pekerjaan apa?’ Mulailah bertanya, ‘Masalah apa yang bisa saya selesaikan?’” pesannya.

Mahasiswa juga didorong tidak berhenti pada pencapaian akademik. Kemampuan komunikasi, kepemimpinan, literasi digital, kreativitas, serta kolaborasi perlu terus dikembangkan.

Bekal lainnya berupa kemampuan berbahasa, pengalaman organisasi, penelitian, kewirausahaan, hingga pengalaman internasional.

Abdul Wahab menegaskan Indonesia Emas 2045 sesungguhnya sedang dibentuk melalui ruang pendidikan hari ini. Mahasiswa yang sekarang menempuh pendidikan akan berada pada usia produktif ketika Indonesia memasuki satu abad kemerdekaan.

Karena itu, kualitas Indonesia pada 2045 akan sangat ditentukan kualitas karakter generasi muda hari ini. Ilmu pengetahuan, integritas, dan keberanian berinovasi juga menjadi faktor penting.

Momentum kemerdekaan turut menjadi pengingat bagi UMMAT untuk memperkuat kontribusi terhadap pembangunan Nusa Tenggara Barat.

NTB memiliki potensi besar pada sektor pertanian, peternakan, kelautan, pariwisata, kebudayaan, dan sumber daya manusia. Namun, pengembangannya membutuhkan ilmu pengetahuan, inovasi, teknologi, tata kelola, serta keberanian.

UMMAT diharapkan semakin kuat mengambil posisi sebagai perguruan tinggi yang ikut menyelesaikan persoalan daerah. Kontribusi itu dapat dilakukan melalui penelitian yang membumi dan pengabdian yang berdampak.

Penelitian tidak boleh berhenti sebagai laporan akademik. Hasil penelitian harus berkembang menjadi inovasi.

Selanjutnya, inovasi diharapkan berkembang menjadi produk maupun solusi. Manfaatnya juga harus dapat dirasakan langsung masyarakat.

Semangat kemerdekaan di lingkungan UMMAT turut diwujudkan melalui pemberian penghargaan. Apresiasi diberikan kepada insan yang telah mengabdi puluhan tahun di Universitas Muhammadiyah Mataram.

Penghargaan pengabdian diberikan kepada insan UMMAT dengan masa kerja lebih dari 30 tahun hingga lebih dari 40 tahun. Penghargaan menjadi bentuk penghormatan terhadap dedikasi, loyalitas, tenaga, pikiran, dan kontribusi mereka dalam membangun institusi.

Pada kesempatan yang sama, UMMAT memberikan reward kepada mahasiswa berprestasi. Penghargaan diberikan kepada mahasiswa yang mencatat pencapaian tingkat Provinsi NTB maupun nasional.

Prestasi tingkat daerah antara lain diraih melalui Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) NTB 2026. Mahasiswa UMMAT berprestasi pada berbagai cabang.

Cabang itu meliputi monolog, fotografi, baca puisi, desain poster, penulisan lakon, seni suara, penulisan puisi, dan penulisan cerpen.

Mahasiswa UMMAT juga mencatat prestasi nasional. Di antaranya perolehan Gold Medal pada Kompetisi IEC Yogyakarta 2026 serta Juara II Kompetisi Kreatif Mahasiswa IKAPROBSI 2026.

Pemberian penghargaan menjadi simbol dua bentuk perjuangan dalam mengisi kemerdekaan. Keteladanan diwujudkan melalui pengabdian, sementara kebanggaan dibangun melalui prestasi.

Menutup amanatnya, Abdul Wahab mengajak seluruh sivitas akademika melanjutkan perjuangan para pahlawan melalui medan berbeda.

Jika para pejuang dahulu mempertahankan tanah air melalui medan pertempuran, generasi sekarang memiliki tanggung jawab menjaga masa depan bangsa. Perjuangan dilakukan melalui pendidikan, penelitian, inovasi, integritas, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Para pahlawan telah menyelesaikan bagian perjuangan mereka. Sekarang giliran kita menyelesaikan bagian perjuangan kita,” pesannya.

UMMAT berkomitmen terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang unggul dalam ilmu dan kokoh dalam nilai. Kampus juga diarahkan semakin kuat dalam inovasi, luas dalam jejaring, serta nyata dalam pengabdian.

UMMAT tidak hanya diharapkan menghasilkan lulusan. Kampus juga ingin melahirkan penggerak perubahan yang mampu membawa nama UMMAT, Muhammadiyah, NTB, dan Indonesia ke tingkat lebih luas.

Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Kemerdekaan perlu diisi dengan kerja sungguh-sungguh, pendidikan berkualitas, serta penelitian yang menghasilkan solusi.

Prestasi, integritas, dan pengabdian nyata kepada masyarakat juga menjadi bagian dari upaya mengisi kemerdekaan.

Editor : Akbar Sirinawa
Prestasi Mahasiswa HUT ke-81 RI Kemerdekaan Indonesia ummat pengabdian masyarakat