LombokPost- Perguruan tinggi negeri (PTN) di Kawasan Timur Indonesia (KTI) didorong mengambil peran lebih besar dalam mempercepat pembangunan dan meningkatkan daya saing Indonesia Timur. Potensi sumber daya alam yang melimpah harus diimbangi dengan penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM), riset, inovasi, hingga hilirisasi.
Hal tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam Rapat Kerja (Raker) Konsorsium Perguruan Tinggi Negeri Kawasan Indonesia Timur (KPTN-KTI) yang dihadiri Rektor Universitas Mataram (Unram) Prof Sukardi di Makassar, Rabu (19/8).
Dalam forum tersebut, KTI dinilai memiliki modal besar untuk berkembang. Beragam sumber daya alam, termasuk mineral rare earth yang strategis bagi industri masa depan, menjadi peluang yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia Timur.
Baca Juga: Siswi SMAN 1 Labuapi Raih Juara II FLS3N Cipta Puisi, Benda Mati Jadi Inspirasi Puisi
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu dioptimalkan. Sejumlah tantangan masih harus diselesaikan, mulai produktivitas, kualitas SDM, konektivitas, penguasaan teknologi dan inovasi, hingga percepatan hilirisasi sumber daya alam dan hasil riset.
Karena itu, PTN KTI diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai pencetak lulusan. Perguruan tinggi dituntut menjadi salah satu mesin utama transformasi Indonesia Timur melalui tiga peran, yakni Knowledge Producer, Problem Solver, dan Economic Enabler.
Sebagai Knowledge Producer, perguruan tinggi di KTI diarahkan menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Sementara sebagai Problem Solver, kampus diharapkan mampu menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap berbagai persoalan pembangunan.
Baca Juga: Kepala SD-SMP Mataram Segera Diisi, Nama Calon Kasek Sudah Disiapkan
Adapun sebagai Economic Enabler, perguruan tinggi didorong membawa hasil riset dan inovasi hingga menjadi produk bernilai ekonomi. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri sekaligus membuka peluang baru bagi perekonomian di kawasan Indonesia Timur.
Penguatan peran PTN KTI juga membutuhkan dukungan pemerintah. Kebijakan afirmatif, terutama dalam pembiayaan pendidikan dan pengembangan SDM dinilai penting untuk memperkuat kapasitas perguruan tinggi sekaligus memperkecil kesenjangan antara kawasan timur dan barat Indonesia.
Rektor Unram Prof Sukardi mengatakan, dalam raker KPTN-KTI, terdapat empat sektor strategis yang dinilai penting untuk menjadi fokus pengembangan KTI. Pertama, sektor mineral dan hilirisasi. Potensi mineral yang dimiliki berbagai daerah di Indonesia Timur perlu diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Kedua, sektor maritim dan perikanan. Kekayaan laut KTI menjadi peluang besar yang perlu dikelola dengan dukungan teknologi, riset, serta inovasi perguruan tinggi.
Baca Juga: AMMAN Bawa AI Ready ASEAN ke Unram, Literasi AI NTB Naik Kelas
Ketiga, pangan dan pertanian. Sektor ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian di daerah. Keempat, energi terbarukan. Potensi energi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia Timur perlu dikembangkan untuk mendukung kebutuhan energi sekaligus pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Optimalisasi empat sektor tersebut membutuhkan kolaborasi erat antara perguruan tinggi, pemerintah dan industri. PTN KTI berperan dalam riset dan inovasi, pemerintah melalui kebijakan pendukung, sedangkan industri mendorong investasi, produksi, pasar dan komersialisasi.
KPTN-KTI juga menyusun sejumlah agenda strategis yang menjadi arah kerja pada 2026. Salah satunya membangun pusat unggulan yang berfokus pada riset, inovasi dan pengembangan teknologi unggulan daerah.
Baca Juga: Unram Bantu Peternak Kerta Bangkit Atasi Kekurangan Pakan Lewat Teknologi Fermentasi
Agenda berikutnya memperkuat kolaborasi riset antarperguruan tinggi di KTI. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan sumber daya dan kompetensi masing-masing kampus. KPTN-KTI juga mendorong hubungan yang lebih kuat antara industri dan perguruan tinggi melalui program magang, joint research, serta transfer teknologi.
Selain itu, penyiapan talenta unggul di bidang STEM menjadi perhatian. Penguatan talenta tersebut sekaligus diarahkan untuk mendorong tumbuhnya kewirausahaan di kawasan Indonesia Timur.
Agenda terakhir adalah mempercepat hilirisasi dan komersialisasi hasil riset. Dengan demikian, inovasi yang lahir dari perguruan tinggi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian daerah.
Baca Juga: Peternak Kambing Perah Lombok Utara Didorong Optimalkan Pakan Lokal dan Pemasaran Digital
Prof Sukardi menuturkan, PTN di KTI memiliki komitmen untuk bersama-sama meningkatkan prestasi dan daya saing agar mampu mengejar ketertinggalan dari PTN di Kawasan Barat Indonesia.
“PTN-KTI sepakat untuk melaksanakan program afirmasi dalam rangka mengejar prestasi seperti di PTN Kawasan Barat Indonesia. Oleh karena itu, besar harapan kami agar pemerintah pusat memberikan bantuan UKT bagi mahasiswa desil 1 sampai dengan desil 6,” ujar Rektor Unram.
Menurutnya, kebijakan afirmatif diperlukan untuk memastikan pendidikan tinggi tetap terjangkau sekaligus memperkuat kualitas SDM Indonesia Timur. Penguatan PTN KTI tersebut dinilai tidak hanya penting bagi perguruan tinggi, tetapi juga bagi masa depan pembangunan kawasan. Ketika akses pendidikan tinggi semakin kuat, kualitas SDM meningkat, riset berkembang dan hilirisasi berjalan, potensi ekonomi KTI dapat diolah menjadi kekuatan baru.
Baca Juga: 6.665 Mahasiswa Baru Unram Turun ke Masyarakat, Bawa Bibit hingga Edukasi Sampah
Rektor ke-11 Unram itu juga berharap KPTN-KTI semakin kuat sebagai wadah strategis kolaborasi antarperguruan tinggi. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) sekaligus mendorong PTN di Indonesia Timur semakin kompetitif menuju World Class University (WCU).
“Dengan penguatan kolaborasi, kebijakan afirmatif dan fokus pada riset serta hilirisasi, PTN KTI diharapkan menjadi penggerak penting untuk mempercepat transformasi dan meningkatkan daya saing Indonesia Timur,” tandasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post