LombokPost- Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mataram (Unram) dr Muthia Cenderadewi membawa nama Indonesia ke forum kepemimpinan global. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan FKIK Unram itu terpilih mengikuti Global Drowning Prevention Leadership Institute (GDPLI) 2026 di Mombasa, Kenya, pada Juli lalu.
Keikutsertaan dr Muthia dalam GDPLI 2026 menjadi catatan penting bagi Unram, khususnya dalam memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap isu kesehatan masyarakat. Program itu diselenggarakan Johns Hopkins International Injury Research Unit (JH-IIRU) dengan dukungan Bloomberg Philanthropies.
GDPLI merupakan program kepemimpinan global yang berfokus pada penguatan kapasitas profesional dalam pencegahan tenggelam. Peserta dibekali kemampuan menerjemahkan bukti ilmiah menjadi kebijakan dan program pencegahan tenggelam yang dapat diterapkan di masyarakat.
Baca Juga: Siswi SMAN 3 Mataram Raih Perunggu Voli Indoor Porprov NTB 2026
Program GDPLI 2026 berlangsung sejak Mei hingga Juli. Rangkaian kegiatan dilakukan secara daring dan dilanjutkan dengan pembelajaran tatap muka di Mombasa, Kenya. Materi yang diberikan tidak hanya membahas persoalan tenggelam, tetapi juga faktor risiko, pemanfaatan data, systems thinking, advokasi, komunikasi strategis, hingga pengembangan intervensi berbasis bukti.
Persoalan pencegahan tenggelam dipandang sebagai isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan pendekatan lintas disiplin. Upaya mengurangi risiko tenggelam tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan individu saat berada di air. Diperlukan pula edukasi masyarakat, komunikasi risiko, lingkungan perairan yang lebih aman, kesiapsiagaan, kebijakan, serta intervensi yang disusun berdasarkan data dan kondisi lokal.
Selama mengikuti GDPLI 2026, peserta mendapatkan pengalaman melalui pembelajaran berbasis kasus, diskusi, kerja kelompok, aktivitas interaktif, hingga pengalaman lapangan. Pendekatan itu dirancang agar pengetahuan mengenai pencegahan tenggelam dapat diterapkan sesuai persoalan nyata di masing-masing negara.
Baca Juga: Kasek Mataram Segera Diisi, Pengawas Sekolah Juga Dibidik
Bagi dr Muthia, pengalaman itu memiliki relevansi kuat dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan. Terlebih, FKIK Unram berada di NTB, wilayah yang memiliki masyarakat dengan kedekatan erat terhadap kawasan pesisir dan perairan.
“Karena itu, pencegahan tenggelam di Indonesia, termasuk di wilayah NTB, membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan karakter masyarakat dan lingkungan setempat,” ucapnya.
Keikutsertaan dr Muthia dalam GDPLI juga membuka peluang memperkuat jejaring internasional FKIK Unram. Pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi modal untuk mengembangkan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kolaborasi internasional. Kemampuan dalam kepemimpinan, systems thinking, advokasi kebijakan, komunikasi risiko, dan strategi berbasis bukti diharapkan dapat memperkaya kegiatan akademik di FKIK Unram.
Baca Juga: TKA 2027, MKKS SMP Kota Mataram Siapkan Strategi Baru
“Pengalaman dari GDPLI dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan program kesehatan masyarakat yang lebih responsif terhadap persoalan keselamatan di wilayah pesisir,” ujarnya.
Bukan hanya soal penanganan setelah kejadian, pencegahan tenggelam menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif. Literasi kesehatan dan keselamatan, kesiapsiagaan masyarakat, komunikasi risiko, serta kebijakan berbasis bukti menjadi bagian penting dari upaya itu.
“Kontribusi ini sejalan dengan SDG 3, Good Health and Well-Being, terutama dalam mendorong upaya promotif dan preventif untuk menekan kematian serta cedera yang sebenarnya dapat dicegah,” terangnya.
Baca Juga: Kurikulum Bahasa SMK Didorong Siapkan Siswa Kerja ke Korea
Kehadiran dr Muthia pada GDPLI 2026 di Kenya tidak hanya menjadi pengalaman personal sebagai akademisi. Momentum itu juga membawa perspektif Indonesia, khususnya dari wilayah kepulauan dan pesisir seperti NTB, ke dalam ruang pertukaran pengetahuan internasional.
Melalui pengalaman itu, FKIK Unram memiliki kesempatan memperluas jejaring dan memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan masyarakat. Partisipasi dr Muthia dalam GDPLI menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas akademisi Indonesia dalam isu pencegahan tenggelam sekaligus mendorong solusi kesehatan masyarakat yang kontekstual dan berkelanjutan.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Lombok Post