LombokPost - Guna memperkaya keterampilan mahasiswa baru di luar bidang medis, panitia Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) STIKES Mataram menggelar Pelatihan Jurnalistik pada Selasa (2/9) pagi di Aula STIKES Mataram.
PKKMB tahun ini mengangkat tema “Mewujudkan Mahasiswa: Unggul, Humanis, dan Berwawasan Kesehatan”, kegiatan ini menghadirkan Harian Lombok Post sebagai narasumber utama.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Rektor III STIKES Mataram, Endy Bebasari, S.KM., M.Kes., serta ratusan mahasiswa baru yang tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian materi.
Baca Juga: Undikma Sambut Hangat Delegasi UNTL Timor Leste, Perkuat Kerjasama Internasional Lewat Olahraga
Direktur Lombok Post, Alfian Yusni, hadir menyampaikan materi selama kurang lebih dua jam dengan gaya bahasa yang sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami. Suasana makin interaktif ketika wartawan senior tersebut membagikan kuis spontan berhadiah uang tunai bagi mahasiswa yang aktif menjawab.
Pihak kampus menilai ilmu jurnalistik sangat krusial bagi mahasiswa keperawatan dan tenaga kesehatan. Kemampuan menulis berita dan artikel kesehatan dinilai efektif untuk melatih ketajaman analisis medis, sehingga mahasiswa mampu menyampaikan data kesehatan secara akurat kepada masyarakat.
Dalam pemaparannya, Alfian tidak hanya membekali peserta dengan teknik dasar jurnalistik, tetapi juga menarik benang merah antara prinsip kewartawanan dan penulisan laporan medis.
Baca Juga: UMMAT Perkuat Internasionalisasi Kampus, Empat Mahasiswa Sudan Bergabung
Setidaknya terdapat tiga poin utama yang wajib dipegang teguh oleh calon tenaga kesehatan. Pertama akurasi data dan objektivitas, dimana penulis harus mencatat fakta berdasarkan apa yang dilihat, didengar, dan dilakukan secara langsung. Opini pribadi atau asumsi tanpa dasar ilmiah harus dihindari.
Kedua jelengkapan komponen, dimana laporan atau artikel kesehatan harus disajikan secara rinci agar tidak menimbulkan salah penafsiran.
Ketiga kerahasiaan dan aspek hukum, yang mana informasi medis pasien bersifat rahasia dan dilindungi hukum. Penggunaan data medis di luar kepentingan pengobatan, seperti untuk riset atau publikasi, wajib mengantongi izin tertulis (Informed Consent) dari pasien atau keluarga.
Secara umum, ilmu jurnalistik yang diajarkan Alfian Yusni mencakup fondasi utama pembuatan karya tulis ilmiah maupun populer
"Harus menerapkan unsur 5W+1H (What, Who, Where, When, Why, How), sehingga setiap laporan atau artikel memuat informasi yang utuh," ucap Alfian.
Ia juga menegaskan soal penempatan informasi paling krusial di bagian awal tulisan agar pembaca langsung memahami inti masalah. Lalu bahasa yang digunakan harus mudah dicerna pembaca, misalnya mengubah istilah-istilah medis yang rumit menjadi bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat awam tanpa mengurangi bobot keakuratannya.
Pelatihan ini memberikan dampak positif jangka panjang bagi para peserta.
Diantaranya, peningkatkan keahlian menulis (skill penulisan). Dengan menguasai ilmu ini, setidaknya bisa membantu mahasiswa menyusun karya ilmiah, laporan rekam medis, dan artikel edukasi kesehatan secara sistematis.
Ilmu yang disampaikan LombokPost juga bisa melatih mahasiswa untuk selalu memverifikasi data sebelum menyimpulkan diagnosis atau mempublikasikan informasi. Serta menjadikan mahasiswa sebagai agen literasi yang mampu menangkal hoaks atau mitos kesehatan di tengah masyarakat.
Kegiatan diakhiri dengan apresiasi positif dari para peserta. Yanti, salah satu mahasiswa baru, mengaku sangat terkesan dengan materi yang dibawakan. Menurutnya, pendekatan narasumber yang supel dan ramah membuat materi jurnalistik yang terkesan rumit menjadi sangat menyenangkan dan mudah diserap.
Editor : Siti Aeny MaryamSumber : Liputan