LombokPost-Fakultas Teknik (FATEK) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) melalui Program Studi Teknik Sipil menggelar Seminar Nasional Teknik Sipil II (SNTS II) 2026, Rabu (2/9). Forum itu mempertemukan akademisi, praktisi, peneliti, mahasiswa, serta pemangku kepentingan untuk membahas arah dan tantangan pembangunan infrastruktur Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium H. Anwar Ikraman UMMAT itu mengangkat tema “Sinergi Infrastruktur Hijau melalui Regulasi Adaptif dan Inovasi Teknik Sipil Menuju Indonesia Emas”. Tema tersebut menempatkan keberlanjutan lingkungan, regulasi adaptif, inovasi teknologi, dan kualitas sumber daya manusia sebagai elemen penting pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Ketua Panitia SNTS II 2026 M. Khalis Ilmi, S.T., M.Eng., mengatakan seminar dirancang sebagai ruang untuk mempertemukan perkembangan keilmuan, hasil penelitian, dan pengalaman praktis di bidang teknik sipil.
Baca Juga: Wamen PKP Fahri Hamzah hingga Pakar World Bank Bahas Infrastruktur Hijau di UMMAT
Menurutnya, tantangan pembangunan infrastruktur semakin kompleks sehingga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam melahirkan kajian akademik, inovasi, dan sumber daya manusia yang mampu menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan pembangunan.
SNTS II 2026 menghadirkan Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman RI H. Fahri Hamzah, S.E., sebagai keynote speaker dalam sesi pleno. Forum itu juga menghadirkan akademisi dan pakar Teknik Sipil Universitas Mataram Prof. Jauhar Fajrin, S.T., M.Sc.(Eng.), Ph.D., serta Transport Specialist World Bank Ing. Hafida Fahmiasari, S.T., M.Sc., IPM., APEC Eng., sebagai invited speakers.
Kehadiran para pembicara memberikan beragam perspektif mengenai hubungan pembangunan infrastruktur dengan kebijakan publik, transportasi, inovasi teknologi, dan keberlanjutan lingkungan. Forum itu sekaligus menegaskan kebutuhan pendekatan multidisipliner dalam menjawab tantangan pembangunan infrastruktur masa depan.
Dekan Fakultas Teknik UMMAT Dr. Ir. H. Aji Syailendra Ubaidillah, S.T., M.Sc., menilai forum ilmiah penting untuk memperkuat budaya akademik sekaligus meningkatkan kompetensi mahasiswa.
Baca Juga: UMMAT Pastikan Mahasiswa Asal NTT Terdampak Bencana Tetap Bisa Kuliah
Perkembangan dunia keteknikan, menurutnya, menuntut calon insinyur tidak hanya memiliki kemampuan teknis. Mereka juga perlu memahami persoalan lingkungan, regulasi, perkembangan teknologi, keselamatan, serta kebutuhan masyarakat.
Melalui SNTS II, Fakultas Teknik UMMAT berupaya memberikan ruang pembelajaran yang lebih luas kepada mahasiswa. Pembangunan infrastruktur dinilai tidak cukup hanya menggunakan pendekatan teknis, tetapi juga perlu mempertimbangkan keberlanjutan, efisiensi sumber daya, dampak lingkungan, ketahanan bencana, dan manfaat bagi masyarakat.
Rektor UMMAT Dr. Drs. H. Abdul Wahab, M.A., dalam rangkaian pembukaan menekankan pentingnya perguruan tinggi memperkuat tradisi akademik, penelitian, dan inovasi. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi ruang lahirnya gagasan dan solusi terhadap kebutuhan pembangunan bangsa.
Interaksi antara mahasiswa, dosen, akademisi, pemerintah, praktisi, dan dunia profesional juga dinilai penting untuk memperkuat inovasi yang aplikatif. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu menghasilkan gagasan yang memberikan dampak bagi masyarakat.
Setelah sesi pleno dan diskusi bersama narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan sesi paralel. Para pemakalah mendapat kesempatan mempresentasikan hasil penelitian dan kajian sekaligus memperoleh masukan dari forum akademik.
Baca Juga: Mahasiswa UMMAT Ikuti I-LISS 2026, Perkuat Wawasan Perpustakaan Digital
Pada akhir kegiatan, panitia memberikan penghargaan best paper dan best presenter, serta menyerahkan sertifikat kepada perwakilan peserta. Penghargaan itu diharapkan menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas penelitian, presentasi ilmiah, dan produktivitas akademik.
Bagi mahasiswa Teknik Sipil UMMAT, SNTS II 2026 menjadi kesempatan memperoleh perspektif langsung dari pakar dan praktisi mengenai tantangan pembangunan. Kompetensi insinyur masa depan tidak hanya ditentukan kemampuan melakukan perhitungan dan perancangan konstruksi, tetapi juga kapasitas berpikir kritis, berkolaborasi lintas disiplin, memahami regulasi, memanfaatkan teknologi, dan memiliki orientasi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Melalui SNTS II 2026, Fakultas Teknik UMMAT menegaskan komitmennya memperkuat ekosistem akademik berbasis riset, inovasi, dan kolaborasi. Sinergi perguruan tinggi, pemerintah, praktisi, dunia profesional, serta masyarakat diharapkan melahirkan solusi ketekniksipilan yang mendukung pembangunan Indonesia yang tangguh, adaptif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Editor : Akbar Sirinawa