Unram Dorong Guru IPS Hidupkan Kearifan Lokal Sasak di Ruang Kelas

Jelo J • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 13:05 WIB
Aksi memukau dari para pepadu Peresean di Colosseum Loang Baloq yang mempertemukan dua paguyuban dari Kota Mataram yakni Sekarwangi Punia dan Macan Kawangan dari Lombok Barat. (DOK. DISPAR)
Aksi memukau dari para pepadu Peresean di Colosseum Loang Baloq yang mempertemukan dua paguyuban dari Kota Mataram yakni Sekarwangi Punia dan Macan Kawangan dari Lombok Barat. (DOK. DISPAR)

LombokPost-Arus digitalisasi pendidikan membawa perubahan besar dalam proses belajar mengajar. Namun, modernisasi pembelajaran juga menyisakan tantangan: bagaimana teknologi dan metode pembelajaran baru berjalan tanpa membuat generasi muda semakin jauh dari budaya lokal.

Universitas Mataram (Unram) mencoba menjawab tantangan tersebut melalui program pengabdian kepada masyarakat dengan mendampingi guru IPS SMP di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Program bertajuk “Pendampingan Penyusunan Perangkat Pembelajaran IPS Integrasi Kearifan Lokal Sasak Pola Lesson Study” itu diarahkan untuk memperkuat kapasitas guru dalam menyusun perangkat pembelajaran IPS yang mengintegrasikan kearifan lokal Sasak.

Dalam program tersebut, budaya lokal tidak ditempatkan sekadar sebagai warisan yang harus dilestarikan. Kearifan Sasak justru didorong menjadi sumber belajar yang dapat membuat materi IPS lebih dekat dengan kehidupan siswa.

Baca Juga: Merawat Sastra, Menguatkan Literasi: Unram Dorong Generasi Muda Mengapresiasi Karya Sastra Lokal dan

Masyarakat Sasak memiliki kekayaan budaya yang dapat menjadi bahan pembelajaran. Mulai dari nilai kehidupan, norma sosial, seni, tradisi hingga berbagai praktik budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

Potensi tersebut selama ini belum sepenuhnya terintegrasi dalam perangkat pembelajaran IPS. Salah satu tantangan yang dihadapi guru adalah bagaimana menerjemahkan kekayaan budaya tersebut menjadi materi dan aktivitas pembelajaran yang relevan dengan kurikulum.

Melalui pendampingan UNRAM, guru didorong menyusun pembelajaran yang menghubungkan konsep IPS dengan realitas sosial di lingkungan sekitar.

Dengan cara itu, siswa tidak hanya mempelajari konsep secara teoritis. Mereka juga dapat memahami kehidupan sosial masyarakat sekaligus mengenali identitas budaya yang tumbuh di daerahnya sendiri.

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam program tersebut adalah Lesson Study. Model ini menekankan kolaborasi dan refleksi antarguru melalui tahapan Plan–Do–See. Guru bersama-sama merancang pembelajaran, melaksanakan sekaligus mengamati proses pembelajaran, kemudian melakukan refleksi untuk mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.

Pendekatan tersebut membuat proses peningkatan kualitas pembelajaran tidak berhenti pada pelatihan satu kali. Guru didorong menjadi bagian dari komunitas profesional yang secara berkelanjutan belajar, mengamati praktik pembelajaran, bertukar pengalaman, dan memperbaiki strategi mengajar.

Dalam konteks tersebut, guru tidak lagi hanya diposisikan sebagai pelaksana kurikulum. Guru menjadi pembelajar profesional sekaligus penggerak perubahan di sekolah.

Integrasi kearifan lokal Sasak juga memberikan dimensi lain dalam pembelajaran IPS. Materi tentang kehidupan sosial, norma, interaksi masyarakat, ekonomi, kebudayaan, hingga perubahan sosial dapat dikaitkan dengan kondisi nyata yang ada di lingkungan siswa.

Pendekatan kontekstual semacam ini membuka kesempatan bagi siswa untuk melihat bahwa materi yang dipelajari di kelas memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, pembelajaran berbasis budaya dapat menjadi ruang transfer nilai antargenerasi. Nilai dan pengetahuan lokal yang sebelumnya hanya hidup dalam praktik masyarakat dapat diperkenalkan kembali kepada generasi muda melalui proses pendidikan formal.

Baca Juga: Dari Lereng Rinjani, Unram Perkuat Guru SD dengan Asesmen Digital

Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi salah satu ruang untuk menjaga keberlanjutan identitas budaya.

Dalam perspektif dampak sosial perguruan tinggi, program ini menunjukkan bagaimana keahlian akademik Unram diterapkan untuk menjawab kebutuhan pendidikan di tingkat lokal.

Dosen membawa pengetahuan dan pendampingan akademik. Guru menerjemahkannya dalam praktik pembelajaran di sekolah. Sementara siswa menjadi penerima manfaat dari pembelajaran yang lebih kontekstual dan dekat dengan lingkungan mereka.

Model hubungan seperti ini juga memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai bagian dari ekosistem masyarakat, bukan hanya sebagai institusi pendidikan dan penelitian.

Pengabdian tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi UNRAM dalam memperluas dampak keilmuan ke sekolah dan komunitas.

Kemajuan pendidikan tidak selalu harus berhadapan dengan identitas budaya lokal. Justru, kearifan lokal dapat menjadi fondasi untuk membangun pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.

Melalui peningkatan kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal Sasak, Unram mendorong hadirnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan.

Lebih dari itu, pembelajaran diarahkan untuk membangun karakter, kepedulian terhadap budaya, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran sosial siswa.

Pada akhirnya, pendidikan berbasis budaya diharapkan mampu melahirkan generasi yang tetap berakar pada identitas lokal, tetapi memiliki wawasan untuk menghadapi perubahan dan perkembangan dunia.

Editor : Jelo J
Sumber : Lombok Post
kearifan lokal Unram Universitas Mataram