LombokPost- SMPN 15 Mataram menerapkan Pembelajaran Prima untuk membuat proses belajar lebih menyenangkan dan meningkatkan pemahaman siswa. Model ini memadukan pembelajaran mendalam, kerja kelompok, tutor sebaya, hingga proyek presentasi berbasis teknologi.
Kepala SMPN 15 Mataram Sri Wahyu Indriani mengatakan, sebelumnya sekolah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Kemampuan siswa terlebih dahulu dipetakan melalui tes kompetensi awal. Hasil pemetaan itu kemudian menjadi dasar pembagian kelompok belajar. Siswa dengan kemampuan berbeda ditempatkan secara merata sehingga proses diskusi di dalam kelas dapat berlangsung lebih aktif.
Kini, pendekatan itu dikembangkan melalui Pembelajaran Prima. Guru dituntut menggunakan model, metode, dan media pembelajaran yang lebih bervariasi agar materi tidak hanya tersampaikan, tetapi juga benar-benar dipahami siswa.
Baca Juga: Siswa SRMP 18 Lobar Raih Juara II OSN IPA
Saat melakukan supervisi, Sri menjelaskan, penerapan Pembelajaran Prima merupakan hasil kesepakatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Konsep itu juga berasal dari karya tulis ilmiah salah satu Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) di SMPN 15 Mataram.
“Pembelajaran Prima ini menjadi salah satu inovasi yang kami dorong agar pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna bagi siswa,” kata Sri, Selasa (8/9).
Dalam Pembelajaran Prima, siswa tidak hanya duduk menerima materi dari guru. Mereka didorong untuk bekerja sama menyelesaikan proyek kelompok. Siswa yang memiliki kemampuan lebih baik berperan membantu teman-temannya yang masih membutuhkan pendampingan. Pola itu membuat proses belajar berlangsung secara kolaboratif.
Baca Juga: SMAN 1 Gunungsari Rehabilitasi 16 Ruang, Siswa Belajar di Kelas Darurat
Waka Kesiswaan SMPN 15 Mataram Dewi Tutini Yulianti mengatakan, Pembelajaran Prima diterapkan secara sistematis melalui empat tahapan, yakni pemahaman, aplikasi, presentasi, dan evaluasi. Penerapan metode itu salah satunya terlihat dalam pembelajaran Bahasa Inggris kelas IX semester ganjil. Siswa sedang mempelajari materi report text.
Pada tahap awal, siswa mempelajari struktur teks, seperti general classification dan description. Setelah memahami konsep, siswa berdiskusi dalam kelompok kecil. Sistem tutor sebaya kemudian diterapkan. Satu siswa yang memiliki kemampuan lebih mendampingi tiga rekannya ketika mengerjakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD).
Sementara itu, guru berperan sebagai fasilitator. Guru berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain untuk memberikan pendampingan kepada siswa yang masih mengalami kesulitan.
Baca Juga: Unram Targetkan 34 Profesor Baru dalam Dua Tahun
“Jadi, siswa tidak hanya mengandalkan penjelasan guru. Mereka juga belajar dari teman dalam kelompoknya,” jelas Dewi.
Setelah tahap pemahaman selesai, siswa masuk ke tahap aplikasi. Mereka diminta menyusun draf tulisan sederhana mengenai hewan langka di Indonesia. Draf itu kemudian dikembangkan menjadi proyek presentasi kreatif. Siswa memanfaatkan aplikasi Canva atau PowerPoint untuk menyusun materi presentasi yang dikerjakan selama satu pekan.
Pada tahap ini, kata Dewi, Pembelajaran Prima tidak hanya menekankan kemampuan akademik. Siswa juga dilatih bekerja sama, menyampaikan gagasan, menggunakan teknologi, dan tampil percaya diri di depan kelas. Tahap selanjutnya adalah presentasi. Setiap kelompok secara bergantian menyampaikan hasil proyek menggunakan fasilitas proyektor LCD, pointer, dan pengeras suara.
Baca Juga: SMKN 1 Jonggat Buka Jurusan Teknik Kimia Industri, Siswa Didorong Jadi Wirausaha
Untuk meningkatkan motivasi, siswa juga diberikan kesempatan memilih kelompok terbaik. Kelompok yang dinilai paling baik kemudian mendapatkan apresiasi atau penghargaan. Proses pembelajaran ditutup dengan evaluasi. Siswa mengisi lembar ceklis untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi, termasuk kendala yang ditemui selama mengerjakan proyek.
“Penerapan Pembelajaran Prima memberikan ruang lebih luas bagi siswa berkemampuan rendah maupun sedang untuk terlibat dalam proses belajar,” ucapnya.
Dewi mengatakan, kepercayaan diri siswa terlihat semakin berkembang ketika mereka mendapatkan kesempatan mempresentasikan hasil kerja kelompok. Meski kemampuan pelafalan atau pronunciation sebagian siswa masih dalam tahap berkembang, mereka mulai berani menggunakan Bahasa Inggris ketika tampil di depan kelas.
Baca Juga: Siswi MAN 2 Mataram Borong Empat Penghargaan di GYC Kairo
Bagi SMPN 15 Mataram, kata Dewi, Pembelajaran Prima tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan nilai akademik. Model pembelajaran itu juga diarahkan untuk membangun keterampilan yang dibutuhkan siswa menghadapi perkembangan zaman. Kemampuan menggunakan teknologi, berkolaborasi, berkomunikasi, serta memahami Bahasa Inggris menjadi bagian dari kompetensi yang terus dikembangkan.
“Pembelajaran Prima diharapkan dapat menjadi pola pembelajaran yang semakin kuat dalam mendukung penerapan deep learning. Siswa tidak hanya ditargetkan mampu memahami materi, tetapi juga mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam berbagai situasi,” pungkasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post