LombokPost- Mendidik lebih dulu sebelum mengajar. Prinsip itu menjadi pegangan SMPN 14 Mataram dalam menjalankan proses pendidikan. Di tengah derasnya akses informasi digital, sekolah menilai pembentukan karakter siswa tetap membutuhkan pendampingan langsung dari guru.
Plt Kepala SMPN 14 Mataram Tohirin mengatakan, pengetahuan semakin mudah diperoleh siswa melalui berbagai media digital. Namun, pembentukan sikap, kedisiplinan, dan kebiasaan positif tidak cukup hanya dipelajari secara mandiri.
Karena itu, pembentukan karakter siswa di SMPN 14 Mataram menjadi salah satu prioritas utama sekolah. Terlebih, sekolah memiliki peserta didik dengan kemampuan akademik yang beragam.
Baca Juga: Pembelajaran Prima SMPN 15 Mataram, Bikin Siswa Makin Aktif dan Percaya Diri
“Prinsipnya, sebelum mengajar harus mendidik. Pengetahuan bisa dicari sendiri oleh anak. Tetapi karakter tetap harus dibentuk dan dikawal,” ujar Tohirin, Senin (14/9).
Pembiasaan dilakukan setiap hari, mulai dari menjaga kerapian, disiplin, membuang sampah pada tempatnya, hingga menjalankan ibadah tepat waktu. Sebelum pembelajaran dimulai, siswa juga dibiasakan berdoa. Guru memastikan lingkungan kelas dalam kondisi bersih dan nyaman sebelum kegiatan belajar berlangsung.
Tohirin menuturkan, tantangan pembentukan karakter siswa tidak hanya datang dari lingkungan sekolah. Pengaruh media sosial dan lingkungan tempat tinggal menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Kebiasaan positif yang dibangun di sekolah terkadang kembali berubah ketika siswa berada di lingkungan luar sekolah. Karena itu, pendampingan tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas.
Baca Juga: Kuliah Sambil Kerja? UT Mataram Tawarkan Sistem Pendidikan Fleksibel
Guru terus didorong memberikan penguatan karakter sekaligus membangun budaya literasi dan numerasi. Targetnya bukan hanya siswa mampu membaca dan berhitung, tetapi juga mampu memahami informasi serta menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Penguatan itu dilakukan melalui workshop bagi guru. Pembelajaran berbasis literasi dan numerasi diarahkan masuk ke seluruh mata pelajaran.
Misalnya, pembelajaran Bahasa Indonesia tidak sekadar menggunakan bacaan berbasis teks. Guru dapat menghadirkan bacaan yang dilengkapi data untuk melatih kemampuan siswa memahami informasi. Sementara pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), unsur numerasi dapat diterapkan melalui penghitungan jarak lari maupun ukuran lapangan.
Baca Juga: Buka PKKMB UNDIKMA 2026, Ketua KONI Pusat Ajak Mahasiswa Jadi Aktor Sukses PON XXII/2028
“Selain pembentukan karakter siswa, kami juga mulai memperkuat layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus,” ucapnya.
Tohirin mengatakan, jumlah siswa inklusi yang datang ke sekolah menunjukkan tren peningkatan. Bahkan, terdapat siswa yang berasal dari luar zonasi.
Kondisi itu membuat sekolah perlu melakukan penataan ulang terhadap sistem pelayanan pendidikan inklusi. Evaluasi program sekaligus penguatan kapasitas guru terus dilakukan agar kebutuhan setiap siswa dapat terlayani.
Baca Juga: Enam Guru Besar Unram Dikukuhkan, Diminta Perkuat Peran untuk Masyarakat
“Ke depan, kami menyiapkan ruang sumber belajar khusus demi memaksimalkan pembentukan karakter siswa dan pelayanan bagi anak-anak inklusi secara optimal,” tandasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post