LombokPost- Pembentukan kualitas siswa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik. Inovasi kepala sekolah dinilai menjadi salah satu kunci untuk memperkuat pendidikan karakter siswa di lingkungan sekolah.
Kepala sekolah dituntut mampu menciptakan berbagai program kreatif yang melibatkan guru, orang tua, hingga masyarakat. Kolaborasi itu diperlukan agar pembentukan karakter anak berjalan secara konsisten, baik di sekolah maupun di luar lingkungan pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram Yusuf mengatakan, pendidikan karakter siswa dapat dibangun melalui berbagai kebiasaan positif yang dilakukan secara rutin. Menurutnya, pembentukan karakter tidak selalu harus melalui program besar. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat menjadi fondasi penting dalam membentuk perilaku siswa.
Baca Juga: Rehabilitasi Ruang Kelas SMAN 4 Mataram Capai 70 Persen, Tahap II Masih Menunggu Dana
Salah satunya melalui budaya menyambut siswa pada pagi hari dengan membiasakan sapa, salam, dan senyum. Selain itu, sekolah dapat menguatkan kegiatan Jumat Imtaq, kegiatan keagamaan, mengaji, hingga berbagai ekstrakurikuler.
“Pembiasaan positif harus terus dilakukan di sekolah,” kata Yusuf.
Menurutnya, pembiasaan itu dapat diperluas melalui hal-hal sederhana dalam keseharian siswa. Misalnya membuang sampah pada tempatnya, menjaga tutur kata, menghormati guru dan teman, serta membiasakan perilaku disiplin.
Baca Juga: 80 Siswa Bentuk Forum OSIS SMP Kota Mataram, Jadi Penggerak Pendidikan Karakter
Karena itu, inovasi kepala sekolah menjadi penting dalam memastikan program pendidikan karakter tidak berjalan monoton. Kepala sekolah harus mampu membaca kebutuhan siswa dan lingkungan sekolah untuk melahirkan kegiatan yang menarik sekaligus memiliki nilai pendidikan.
Dalam forum kepala sekolah negeri dan swasta, penguatan karakter siswa juga menjadi perhatian. Kepala sekolah diharapkan tidak hanya membuat program, tetapi mampu memastikan program itu benar-benar diterapkan dalam kehidupan sekolah. Peran guru juga tidak kalah penting. Program pendidikan karakter yang dirancang kepala sekolah akan sulit berjalan maksimal tanpa keteladanan dari para pendidik.
“Guru menjadi contoh langsung bagi siswa dalam menerapkan kedisiplinan, sopan santun, tanggung jawab, serta berbagai nilai positif lainnya. Karena itu, inovasi kepala sekolah harus berjalan beriringan dengan keteladanan guru,” jelasnya.
Baca Juga: Dies Natalis ke-42, Universitas Terbuka Dorong Inovasi Pendidikan yang Berdampak
Yusuf menilai, kepemimpinan kepala sekolah yang kreatif dapat memberikan dorongan kepada guru untuk terus mencari cara baru dalam membimbing peserta didik. Penguatan pendidikan karakter siswa juga tidak hanya bertujuan membentuk perilaku yang baik. Lebih jauh, pembiasaan positif di sekolah diharapkan mampu membangun kecerdasan spiritual dan karakter anak secara seimbang.
Dengan inovasi yang berkelanjutan, Yusuf berharap lingkungan sekolah bisa menjadi ruang yang tidak hanya mencetak siswa berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kecerdasan spiritual, disiplin, dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Pendidikan karakter siswa membutuhkan komitmen bersama. Inovasi kepala sekolah, keteladanan guru, dukungan orang tua, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter,” pungkasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post