LombokPost- Sebanyak 97 peserta Plantation Worker di SMKPPN Mataram dinyatakan kompeten. Mereka menuntaskan pelatihan dan uji sertifikasi teknis selama 18 hari sebagai bekal untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja sektor perkebunan kelapa sawit di Malaysia.
Pelatihan Plantation Worker itu menjadi bagian dari program SMK Go Global. Program ini dijalankan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTB bersama SMKPPN Mataram untuk menyiapkan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar kerja luar negeri.
Kepala BP3MI NTB Kadir mengatakan, keterampilan teknis menjadi hal penting bagi calon pekerja yang akan masuk sektor perkebunan sawit. Peserta perlu memahami pekerjaan sebelum diberangkatkan ke Malaysia.\
Baca Juga: MBG Mataram Dievaluasi, Waktu Pembagian Diubah agar Tak Ganggu KBM
“Peserta ini kami latih dan siapkan agar memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan di sektor plantation, khususnya sawit. Karena pekerjaan ini cukup berat, mereka harus dibekali ilmu dan keterampilan agar siap bekerja di Malaysia," ujarnya.
Selama pelatihan Plantation Worker, peserta mendapatkan materi yang berkaitan langsung dengan pekerjaan perkebunan kelapa sawit. Materinya meliputi perawatan tanaman, pembibitan, pemupukan, maintenance, pruning hingga teknik pemanenan.
Peserta juga dikenalkan dengan berbagai peralatan pertanian yang digunakan di perkebunan sawit. Pembekalan ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan tenaga kerja NTB agar memahami kondisi pekerjaan sebelum masuk ke lingkungan kerja sebenarnya.
Baca Juga: SMAN 3 Mataram Genjot Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan
Setelah mendapatkan sertifikasi, peserta akan memasuki tahapan pemberkasan dan penyiapan dokumen. Mereka selanjutnya mengikuti proses yang diperlukan untuk penempatan sebagai pekerja migran di Malaysia.
Kadir mengatakan, kebutuhan pekerjaan telah dipastikan sebelum pelatihan dimulai. Langkah itu dilakukan agar keterampilan yang diberikan kepada peserta memiliki tujuan penempatan yang jelas.
“Jobnya sudah ada. Sebelum melatih, kami memastikan dulu kebutuhan pekerjaannya, sehingga setelah mengikuti pelatihan mereka memiliki peluang untuk melanjutkan ke proses penempatan,” jelasnya.
Baca Juga: Cegah Kenakalan Siswa, SMPN 4 Mataram Perketat Disiplin hingga Awasi Media Sosial
Para peserta juga telah dibantu membuat akun pada sistem yang digunakan untuk mengakses lowongan pekerjaan. Dari sana, peserta dapat mengikuti proses pendaftaran, seleksi hingga tahapan penempatan kerja ke Malaysia.
Kadir menjelaskan, proses menuju keberangkatan biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Pemberangkatan dilakukan secara bertahap oleh perusahaan yang menangani proses penempatan, sambil menunggu seluruh administrasi dan sertifikat kompetensi selesai.
NTB memperoleh alokasi sekitar seribu peserta untuk berbagai jenis pelatihan dari target nasional sekitar 40 ribu tenaga kerja. Kebutuhan itu menjadi salah satu dasar pengembangan pelatihan sesuai jenis pekerjaan yang tersedia.
Baca Juga: Ombudsman Temukan Sarana Dapur MBG Batukliang Belum Memadai
Namun, lembaga pendidikan atau pelatihan yang terlibat tidak bisa langsung menjalankan program. BP3MI terlebih dahulu melakukan asesmen untuk memastikan kurikulum, fasilitas dan tenaga pengajar sesuai dengan kebutuhan pelatihan.
“Setelah asesmen dan lembaga itu dinilai mampu melaksanakan pelatihan, baru kami melakukan perjanjian kerja sama. Jadi tidak semua sekolah bisa langsung melaksanakan pelatihan," katanya.
Kepala SMKPPN Mataram Sugiarta mengatakan, pelatihan Plantation Worker menjadi kerja sama perdana antara SMKPPN Mataram dan BP3MI NTB. Dia berharap program itu dapat kembali digelar pada angkatan berikutnya.
Baca Juga: Hasil Tes IQ SMPN 17 Mataram Ungkap Potensi Siswa, Guru Siapkan Pendampingan
Sugiarta mengatakan, pelatihan dapat dikembangkan mengikuti kebutuhan tenaga kerja luar negeri, terutama pada bidang pertanian dan agribisnis yang memiliki keterkaitan dengan kompetensi yang dikembangkan di sekolah.
Menurut Sugiarta, SMK Go Global membuka ruang bagi lulusan sekolah kejuruan untuk memperluas peluang kerja. Kompetensi lulusan harus terus disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja, baik di dalam maupun luar negeri.
Pelatihan dan sertifikasi yang berakhir Jumat (18/9) lalu menjadi tahap awal bagi 97 peserta sebelum memasuki dunia kerja. Mereka kini bersiap menyelesaikan administrasi, mengikuti seleksi dan menunggu proses penempatan.
Editor : Pujo NugrohoSumber : Lombok Post