Batang Pisang Diolah Jadi Keripik Ares, Ibu-Ibu Rembiga Didorong Kembangkan Usaha

Kimda Farida • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 14:42 WIB
INOVASI PANGAN: Ibu-ibu Kelurahan Rembiga, Mataram, mengikuti praktik pengolahan batang pisang menjadi keripik ares bersama tim dosen Unram. Inovasi ini diharapkan membuka peluang usaha berbasis potensi lokal.
INOVASI PANGAN: Ibu-ibu Kelurahan Rembiga, Mataram, mengikuti praktik pengolahan batang pisang menjadi keripik ares bersama tim dosen Unram. Inovasi ini diharapkan membuka peluang usaha berbasis potensi lokal.

 

LombokPost--Batang pisang yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah dimanfaatkan menjadi keripik ares bernilai ekonomi.

Inovasi tersebut dikembangkan tim dosen Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mataram (Unram) bersama kelompok ibu-ibu di Kelurahan Rembiga, Kota Mataram.

Kegiatan bertajuk Inovasi Pangan Halal Berbasis Batang Pisang untuk Meningkatkan Daya Saing Usaha Kelompok Ibu-Ibu di Kelurahan Rembiga, Kota Mataram tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru dengan memanfaatkan potensi lokal.

Ketua tim kegiatan, Diah Miftahul Aini, mengatakan batang pisang memiliki kandungan serat pangan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pangan.

Pengolahan yang tepat juga dapat mengurangi limbah organik sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.

“Batang pisang selama ini lebih banyak dianggap sebagai limbah setelah buahnya dipanen. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, bagian tanaman ini dapat dikembangkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai jual,” ujar Diah.

Baca Juga: Gubernur NTB: Birokrasi Baru Membutuhkan Cara Belajar Baru

Dalam kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya mendapat materi, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik.

Pembekalan meliputi pemilihan bahan baku, teknik pengolahan, sanitasi dan higiene, keamanan pangan, pengemasan hingga aspek kehalalan produk.

Salah satu hasil inovasi yang dikembangkan adalah keripik ares berbahan batang pisang.

Produk tersebut diolah dengan teknik tertentu untuk menghasilkan tekstur dan cita rasa yang lebih menarik, kemudian dikemas menggunakan pouch agar lebih praktis dan memiliki daya tarik untuk dipasarkan.

Pendampingan juga mencakup pemahaman mengenai jaminan produk halal. Aspek tersebut dinilai penting karena keamanan dan kehalalan menjadi bagian yang semakin diperhatikan konsumen dalam memilih produk pangan.

Dari kegiatan tersebut, kelompok mitra menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah batang pisang menjadi produk pangan bernilai tambah.

Peserta juga mulai memahami pentingnya menjaga mutu, keamanan pangan, kemasan, serta aspek halal dalam pengembangan usaha.

Tim Unram berharap keripik ares tidak berhenti sebagai produk hasil pelatihan.

Baca Juga: Pelayanan Perizinan Lobar Hadirkan Terobosan Digital Anyar, Tiga Aplikasi Diluncurkan

Penguatan kualitas, desain kemasan, sertifikasi halal dan strategi pemasaran dinilai menjadi tahapan penting agar produk tersebut dapat dikembangkan sebagai usaha berkelanjutan.

Pemanfaatan batang pisang juga dinilai sejalan dengan upaya mengembangkan ekonomi masyarakat berbasis sumber daya lokal.

Bahan baku yang relatif mudah diperoleh di lingkungan sekitar membuka peluang bagi kelompok ibu-ibu Rembiga untuk mengembangkan produk khas yang memiliki nilai ekonomi.

Kegiatan tersebut turut dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Inovasi tersebut menunjukkan bahwa bahan yang selama ini dipandang sebagai limbah dapat dikembangkan menjadi produk pangan.

Bagi kelompok ibu-ibu di Rembiga, keripik ares diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun usaha yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Editor : Kimda Farida
Sumber : siaran pers
Keripik Ares Batang Pisang Kelurahan rembiga Universitas Mataram Mataram