LombokPost- Daun sukun yang selama ini mudah ditemui di Desa Gontar, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, kini mulai dilirik sebagai bahan pengembangan sabun herbal. Inovasi tersebut dikembangkan Universitas Mataram (Unram) melalui program Profesor Berdampak.
Bukan sekadar penelitian, sabun herbal antibakteri itu mulai diperkenalkan dan dipraktikkan langsung bersama masyarakat. Sebanyak 55 peserta mengikuti kegiatan yang mengusung tema hilirisasi inovasi tersebut.
Program Profesor Berdampak Unram menjadi salah satu upaya kampus membawa hasil riset lebih dekat dengan masyarakat. Potensi alam yang tersedia di desa diarahkan menjadi produk bernilai tambah dan memiliki peluang untuk dikembangkan secara ekonomi.
Baca Juga: Belajar Kenali Kuman Lewat Mikroskop, Siswa SDN 2 Ampenan Ikuti Misi Pahlawan Kebersihan
Ketua Tim Profesor Berdampak Prof Aliefman Hakim mengatakan, pembuatan sabun herbal memanfaatkan tanaman yang tersedia di lingkungan masyarakat.
“Kegiatan ini sangat memberikan dampak positif dan membuat sabun herbal dengan memanfaatkan tanaman,” ujar Prof Alief.
Salah satu bahan yang dimanfaatkan adalah daun sukun. Tanaman tersebut cukup mudah ditemukan di Desa Gontar sehingga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari produk inovasi.
Baca Juga: Siswa MAN 2 Mataram Juara III OBA NTB, Fakhri Diasah Manda Arabic Club
Pemanfaatan bahan baku lokal juga memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi desanya. Bahan yang sebelumnya hanya tersedia di sekitar lingkungan warga dapat diolah menjadi produk unggulan desa dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Antusiasme masyarakat terlihat saat praktik pembuatan sabun herbal premium berlangsung. Para peserta, terutama ibu-ibu, tidak hanya menyimak materi yang diberikan tim Unram, tetapi ikut mencoba proses pembuatannya.
Farhiah, salah seorang peserta, mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman sekaligus pengetahuan baru bagi warga.
Baca Juga: SMKN 1 Jonggat Gandeng Unesa, Perkuat Kompetensi Guru dan Pendidikan Vokasi
“Ibu-ibu sangat antusias dengan kegiatan ini dan sangat bermanfaat,” ucapnya.
Keterampilan tersebut diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Masyarakat dapat mengembangkan kemampuan membuat sabun herbal antibakteri sebagai salah satu alternatif usaha mandiri.
Kepala Desa Gontar Muhammad Taufik juga menyambut baik kehadiran program Profesor Berdampak Unram. Dia berharap warga yang mengikuti kegiatan dapat meneruskan pengembangan produk setelah pendampingan dari kampus.
Baca Juga: Unram Dampingi UMKM Kelapa Lombok Utara Benahi Rantai Pasok, Perkuat Daya Saing
“Programnya sangat bagus dan hasilnya berdampak nyata. Semoga warga Desa Gontar yang ikut pelatihan tertarik dan mengembangkan produk sabun lanjutan,” ujarnya.
Pengembangan sabun herbal dari daun sukun tersebut menjadi bagian dari agenda hilirisasi inovasi Unram. Artinya, riset tidak berhenti sebagai pengetahuan akademik, tetapi diarahkan agar dapat menghasilkan produk yang memiliki manfaat bagi masyarakat.
Dalam kerangka Pusat Unggulan Ilmu (PUI) 1 bidang Pangan dan Kesehatan, inovasi sabun herbal premium antibakteri dikembangkan dengan menghubungkan potensi sumber daya lokal dengan hasil riset perguruan tinggi.
Baca Juga: Undikma dan La Laguna University Rancang Riset Ketangguhan Masyarakat Hadapi Bencana
Program Profesor Berdampak juga menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu bagian penting. Rantai kegiatan mencakup riset, inovasi, pengembangan talenta, keterlibatan mahasiswa hingga dampak langsung bagi komunitas.
Selain pemberdayaan masyarakat, pengembangan sabun herbal tersebut juga diarahkan menghasilkan sejumlah luaran. Mulai dari inovasi produk, publikasi ilmiah, hingga peluang pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Inovasi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan target pembangunan berkelanjutan. Di antaranya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Nelayan Pare Mas Kini Punya ‘Mata’ di Bawah Laut, Fishfinder Bantu Cari Ikan Lebih Efisien
Namun, perjalanan sabun herbal Desa Gontar tidak berhenti pada pembuatan prototipe. Tahap berikutnya adalah validasi pasar dan pengembangan produk agar dapat masuk ke tahap hilirisasi yang lebih luas.
Kerja sama dengan industri, alih teknologi hingga peluang investasi menjadi tahapan yang dapat dikembangkan. Dengan pendampingan berkelanjutan, produk sabun herbal berbahan daun sukun diharapkan memiliki peluang untuk diproduksi secara lebih luas.
Bagi Desa Gontar, pengembangan sabun herbal ini membuka peluang baru. Desa tidak hanya menjadi tempat penelitian, tetapi juga berpotensi menjadi lokasi percontohan hilirisasi inovasi yang mempertemukan riset Unram dengan potensi ekonomi masyarakat.
Baca Juga: MBG Mataram Dievaluasi, Waktu Pembagian Diubah agar Tak Ganggu KBM
Melalui Profesor Berdampak, Unram mendorong agar inovasi perguruan tinggi benar-benar sampai ke masyarakat. Dari daun sukun menjadi sabun herbal, inovasi di Desa Gontar diharapkan berkembang menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga.
Editor : Pujo NugrohoSumber : Lombok Post