Tari Kontemporer Lombok “Cracked” Tembus Panggung Internasional di Malaysia

Jay • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 14:26 WIB
TARI KONTEMPORER: Tiga penari kontemporer “Cracked” Rahmad Oscar Ridho, Muhammad Amir Aldzano, dan Alvin Reiko Gunawan tampil pada ajang MAP-The Melaka Art and Performance Festival 2026 di Melaka, Malaysia.
TARI KONTEMPORER: Tiga penari kontemporer “Cracked” Rahmad Oscar Ridho, Muhammad Amir Aldzano, dan Alvin Reiko Gunawan tampil pada ajang MAP-The Melaka Art and Performance Festival 2026 di Melaka, Malaysia.

 

LombokPost- Kisah ketangguhan masyarakat menghadapi bencana dari Lombok menembus panggung internasional. Sanggar Adeva Devayoni membawa karya tari kontemporer “Cracked” dalam ajang MAP-The Melaka Art and Performance Festival 2026 di Melaka, Malaysia.

Karya yang dipimpin Ni Putu Ari Handayani itu mengangkat pengalaman pascabencana melalui bahasa tubuh. Tiga penari, Rahmad Oscar Ridho, Muhammad Amir Aldzano, dan Alvin Reiko Gunawan, menerjemahkan kisah kerentanan, kehilangan, hingga perjuangan manusia untuk kembali bangkit.

“Cracked” terinspirasi dari gempa bumi Padang dan berakar dari pengalaman nyata masyarakat Lombok. Karya tari kontemporer Lombok ini tidak hanya menggambarkan bencana, tetapi juga mengajak penonton melihat sisi manusia ketika berhadapan dengan kehancuran.

Baca Juga: Wisuda Unram 2026, 2.323 Lulusan Diingatkan Terus Beradaptasi

Gerakan tubuh menjadi medium utama dalam pertunjukan. Tubuh yang gemetar, gerakan yang terfragmentasi, hingga keheningan dirangkai menjadi satu kesatuan untuk menggambarkan memori kolektif setelah bencana.

Di balik gerakan itu, “Cracked” menyimpan cerita tentang manusia yang berada dalam kondisi rapuh. Namun, kerentanan itu justru menjadi titik awal untuk kembali membangun kepercayaan, hubungan antarmanusia, serta kekuatan untuk bertahan.

Pimpinan Sanggar Adeva Devayoni Ni Putu Ari Handayani mengatakan, karya itu tidak berhenti pada penggambaran sebuah bencana. Tari kontemporer Lombok itu menjadi refleksi atas pengalaman kebencanaan yang pernah dirasakan masyarakat Indonesia, terutama Lombok.

Baca Juga: Lima Mahasiswa Sudan Bergabung, Mahasiswa Internasional UMMAT Jadi 21 Orang

Kehadiran “Cracked” di Melaka Art and Performance Festival 2026 sekaligus menjadi kesempatan bagi seni pertunjukan Indonesia untuk tampil di hadapan penonton internasional. Festival itu berlangsung pada 24-31 Agustus 2026 di Melaka, Malaysia.

Bagi Ari, panggung internasional itu menjadi ruang untuk memperkenalkan karya seni dari Lombok.

Sekaligus menyampaikan pesan tentang ketangguhan manusia atau resilience melalui gerak tari.

FOTO BERSAMA: Tiga penari kontemporer “Cracked” Rahmad Oscar Ridho, Muhammad Amir Aldzano, dan Alvin Reiko Gunawan foto bersama usai tampil pada ajang MAP-The Melaka Art and Performance Festival 2026 di Melaka, Malaysia.
FOTO BERSAMA: Tiga penari kontemporer “Cracked” Rahmad Oscar Ridho, Muhammad Amir Aldzano, dan Alvin Reiko Gunawan foto bersama usai tampil pada ajang MAP-The Melaka Art and Performance Festival 2026 di Melaka, Malaysia.

 

“Cracked tidak berhenti sebagai cerita tentang bencana. Tari kontemporer Lombok ini membawa pesan bahwa dari setiap keretakan selalu ada kesempatan untuk kembali terhubung, bertahan, dan menjemput harapan,” kata Ari. 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Tari kontemporer Lombok Cracked Sanggar Adeva Devayoni Melaka Art and Performance Festival 2026 Tari kontemporer Indonesia