Buku Beda Iman Satu Tradisi, Angkat Harmoni Muslim-Hindu di Lombok

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 21:49 WIB
KOMPAK: Rektor UIN Mataram Prof Masnun bersama narasumber dan peserta berfoto bersama usai diseminasi dan peluncuran buku Beda Iman, Satu Tradisi: Harmoni Kultural Muslim dan Hindu di Lombok, di Lantai 2 Teater Perpustakaan UIN Mataram, Kamis (24/9). (DOK.UIN MATARAM)
KOMPAK: Rektor UIN Mataram Prof Masnun bersama narasumber dan peserta berfoto bersama usai diseminasi dan peluncuran buku Beda Iman, Satu Tradisi: Harmoni Kultural Muslim dan Hindu di Lombok, di Lantai 2 Teater Perpustakaan UIN Mataram, Kamis (24/9). (DOK.UIN MATARAM)

LombokPost-UIN Mataram meluncurkan buku Beda Iman, Satu Tradisi: Harmoni Kultural Muslim dan Hindu di Lombok yang mengangkat praktik kerukunan lintas iman di Lingsar. Buku karya Suparman Jayadi itu lahir dari riset kebudayaan yang menelaah harmoni Muslim Sasak dan Hindu Bali melalui tradisi, ruang sakral, dan pengelolaan kehidupan bersama.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Mataram Prof Masnun berlangsung di Lantai 2 Teater Perpustakaan UIN Mataram, Kamis (24/9). "Melalui kegiatan launching buku ini menjadikan sebagai momentum, bahwa penulis adalah dosen muda yang sangat produktif dan perlu diapresiasi sebagai contoh bagi dosen muda lainnya," jelasnya.

Baca Juga: Bantu SID, Desa Berdaya hingga Pilkades, Loteng Terima 955 Mahasiswa KKP UIN Mataram

Suparman Jayadi merupakan peneliti sekaligus dosen Sosiologi Agama di UIN Mataram. Karya ini merupakan wujud nyata hasil penelitian kebudayaan Program Dana Indonesiaraya klaster Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya (OPK-CB) dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2025. Penelitian ini didanai penuh oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI.

Guna membedah tuntas substansi sosiologis dari karya ini, acara menghadirkan tiga narasumber pembedah dari lintas disiplin ilmu, yakni Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram Prof Suprapto, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Erni Budiwanti, serta Arief Rahman M.Sos dari Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi NTB. Sesi diskusi bedah buku ini dipandu langsung oleh Kepala Program Studi (Kaprodi) Sosiologi Agama UIN Mataram Purnami Safitri selaku moderator.

Melalui dukungan riset kebudayaan yang kuat, buku ini menyajikan analisis etnografis mendalam mengenai ketahanan sosial dan kerukunan lintas iman di Gumi Sasak.

“Lewat pendekatan antropologis, saya menelaah bagaimana umat Muslim Sasak dan Hindu Bali, khususnya di Taman Pura Lingsar, memelihara harmoni melalui pembagian ruang sakral yang terstruktur,” terang Jayadi.

Baca Juga: Tiga Srikandi NTB Bawa Kekayaan Budaya Mendunia, Hadir di Art Gallery of South Australia

Toleransi di Lingsar tidak sebatas wacana, tapi juga diwujudkan nyata melalui praktik berbagai tradisi dan interaksi sosial, seperti tradisi Perang Topat, ritual Pujawali, kebiasaan berbagi hidangan (ngejot), hingga pembagian kelola air irigasi lintas iman.

Kehadiran lintas elemen masyarakat ini semakin mempertegas gagasan utama buku itu, yakni mengedepankan embodied tolerance.

“Konsep ini diposisikan sebagai fondasi utama yang memungkinkan kerukunan sosial berakar kuat secara berkelanjutan di masyarakat,” terangnya. 

Editor : Jelo J
Sumber : Liputan
Bali tradisi uin mataram Bedah Buku Sasak