LombokPost- Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra 2026 menjadi momentum bagi MAN 2 Mataram memperkuat literasi bahasa dan budaya. Madrasah tersebut menggandeng Balai Bahasa NTB untuk mendorong siswa lebih aktif menggali potensi kebahasaan, sastra, dan budaya lokal.
Kolaborasi MAN 2 Mataram dan Balai Bahasa NTB itu diarahkan untuk memantik minat siswa kelas X, XI hingga XII terhadap dunia literasi. Tidak hanya membaca dan menulis, siswa juga didorong mengenal bahasa daerah serta melihat kekayaan budaya NTB sebagai sumber pengetahuan dan penelitian.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang berbagi pengalaman dari siswa berprestasi. Salah satunya Kautsar Ratu Bilqis. Siswi MAN 2 Mataram itu sebelumnya menulis esai tentang rimpu dan berhasil meraih empat penghargaan dalam Global Youth Conference (GYC) di Kairo, Mesir.Pengalaman tersebut diharapkan menjadi pemantik bagi siswa lainnya untuk berani mengembangkan karya berbasis bahasa, sastra, dan budaya.
Baca Juga: Kimiliya, Siswi MAN 1 Mataram Bawa Pulang Emas Lombok Arisaka Championship
Dalam kolaborasi Bulan Bahasa dan Sastra 2026, Balai Bahasa NTB turut mengenalkan berbagai program kebahasaan kepada siswa. Salah satunya Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Program BIPA tidak hanya berkaitan dengan pengajaran bahasa Indonesia kepada warga negara asing. Lebih jauh, program tersebut dapat membuka perspektif siswa mengenai peluang pengembangan bahasa Indonesia di tingkat internasional.
Staf Balai Bahasa NTB Hartanto mengatakan, penguatan bahasa juga harus berjalan beriringan dengan pelestarian bahasa daerah. Menurutnya, NTB memiliki kekayaan bahasa daerah yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda. Balai Bahasa NTB saat ini memiliki tiga kamus bahasa daerah utama, yakni Kamus Sasak, Kamus Samawa, dan Kamus Mbojo.Kamus tersebut dapat dimanfaatkan siswa untuk mengenali, mempelajari, sekaligus memperkaya kosakata bahasa daerah.
"Kami berharap siswa bisa menjadi penutur jati yang aktif menyumbang kosakata lokal serta memiliki kepedulian tinggi terhadap bahasa daerah NTB," ujar Hartanto.
Baca Juga: Mahasiswa Unram Bawa TuChips dan Tekembung, Pangan Lokal Lombok Tembus KMI Expo
Kolaborasi MAN 2 Mataram dan Balai Bahasa NTB juga membuka perspektif baru bagi siswa dalam melihat dunia penelitian. Selama ini, penelitian siswa lebih banyak diarahkan pada bidang sains. Melalui penguatan literasi budaya, siswa diperkenalkan dengan penelitian sosial humaniora (sosum) dan kebudayaan.
Hartanto mengatakan, kekayaan budaya NTB dapat menjadi sumber penelitian yang menarik. Berbagai tradisi, bahasa daerah, kesenian hingga kearifan lokal memiliki nilai akademik yang dapat dikembangkan menjadi karya ilmiah maupun tulisan kreatif.
"Melalui integrasi program BIPA dan literasi budaya, para siswa diajak menangkap peluang riset sosum yang kaya akan nilai kearifan lokal," katanya.
Baca Juga: MAN 2 Mataram Perkuat Literasi Bersama Balai Bahasa NTB
Penguatan literasi budaya tersebut juga diharapkan tidak berhenti pada pelestarian budaya lokal. Kemampuan bahasa dan pemahaman budaya dapat menjadi bekal siswa untuk melanjutkan studi maupun mengembangkan karir di tingkat internasional.
Kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra 2026 di MAN 2 Mataram sejalan dengan visi madrasah untuk terus membawa prestasi siswa ke level global.
Kepala MAN 2 Mataram Sumber Hadi mengatakan, penguatan bahasa dan budaya menjadi bagian penting dalam membentuk siswa yang memiliki wawasan luas. Kolaborasi dengan Balai Bahasa NTB diharapkan memberikan ruang lebih besar bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berbahasa sekaligus mengenali identitas budaya daerah.
Baca Juga: LPKN Training Center Mataram Uji Kompetensi 30 Peserta PKK Platinum, 18 Siap ke Bulgaria
Dengan demikian, literasi budaya tidak hanya menjadi kegiatan pendukung pembelajaran. Namun, dapat menjadi pintu bagi siswa untuk melahirkan karya, melakukan penelitian, serta memperkenalkan kekayaan budaya NTB ke tingkat nasional hingga internasional.
“Sinergi madrasah dan Balai Bahasa NTB pada Bulan Bahasa dan Sastra 2026 diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang kuat dalam bahasa, literasi budaya, serta memiliki keberanian membawa potensi lokal menuju panggung global,” pungkasnya.
Editor : Pujo Nugroho
Sumber : Lombok Post