27 Tahun Jadi Guru, Kepala MTsN 2 Lobar Tuangkan Pengalaman dalam Buku

Jay • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 19:30 WIB
HASIL KARYA: Inilah karya buku milik Kepala MTsN 2 Lobar Abdul Azis Faradi. Buku ini menceritakan pengalamannya mengajar selama 27 tahun.
HASIL KARYA: Inilah karya buku milik Kepala MTsN 2 Lobar Abdul Azis Faradi. Buku ini menceritakan pengalamannya mengajar selama 27 tahun.

 

LombokPost- Puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan tidak hanya meninggalkan pengalaman. Bagi Abdul Azis Faradi, kepala MTsN 2 Lobar perjalanan 27 tahun sebagai guru madrasah justru menjadi bahan untuk melahirkan karya literasi.

Pengalaman tersebut dituangkannya dalam buku berjudul Seni Menjadi Guru Madrasah. Antara Panggilan Hati dan Profesi. Buku yang terbit September 2026 itu menjadi karya perdana Azis sekaligus refleksi atas perjalanan panjangnya mendampingi siswa di lingkungan madrasah.

Bagi Azis, menjadi guru madrasah bukan sekadar menjalankan rutinitas mengajar. Ada tanggung jawab moral yang melekat, mulai dari mendidik, membina, mengevaluasi hingga merefleksikan proses pembelajaran.

Baca Juga: Bantuan Smartboard Sekolah di Mataram Belum Jelas, Masih Tunggu Pusat

“Menjadi guru bagi saya bukan hanya sebuah profesi, tetapi juga panggilan jiwa dan hati untuk terus mengajar, mendidik, membina, mengevaluasi serta merefleksikan berbagai proses kegiatan belajar mengajar,” ujarnya, Minggu (4/10).

Buku Seni Menjadi Guru Madrasah mencoba melihat dunia pendidikan dari pengalamannya selama lebih dari dua dekade berada di lingkungan madrasah. Pengalaman tersebut tidak hanya dituangkan sebagai kisah perjalanan pribadi. Azis juga mengajak guru madrasah melihat kembali pentingnya pengembangan kompetensi dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

Empat aspek kompetensi guru menjadi perhatian. Yakni profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian.

Baca Juga: Bulan Bahasa dan Sastra 2026, MAN 2 Mataram Gandeng Balai Bahasa NTB

“Pengalaman selama sekitar 27 tahun menjadi guru saya rangkum sebagai bahan refleksi sekaligus inspirasi agar guru madrasah terus mengembangkan kompetensinya secara komprehensif,” katanya.

Menurut Azis, pengalaman di ruang kelas seharusnya tidak berhenti menjadi rutinitas. Pengalaman tersebut dapat diolah menjadi gagasan, tulisan, maupun pengetahuan yang bermanfaat bagi sesama pendidik.

Dari sisi penerbitan, buku guru madrasah tersebut telah mengantongi ISBN 978-634-316-391-5 yang dikeluarkan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Buku diterbitkan PT Media Penerbit Indonesia, Kota Medan, yang disebut merupakan anggota IKAPI.

Baca Juga: Kimiliya, Siswi MAN 1 Mataram Bawa Pulang Emas Lombok Arisaka Championship

Azis berharap karya perdananya ikut mendorong tumbuhnya budaya literasi guru madrasah, khususnya di NTB. Menurutnya, dunia pendidikan membutuhkan lebih banyak guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menghasilkan gagasan melalui tulisan.

“Guru harus mampu menjadi agent of change dalam membangun peradaban literasi. Kita masih membutuhkan lebih banyak penulis baru dengan gagasan-gagasan baru yang mampu melihat pendidikan dari berbagai perspektif,” terangnya.

Penguatan literasi guru dinilai penting karena pendidik tidak cukup hanya menguasai praktik pembelajaran. Guru juga perlu memiliki kemampuan membaca berbagai persoalan pendidikan secara lebih mendalam. Pendekatan ontologis, aksiologis dan epistemologis, kata dia, dapat membantu guru melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas.

Baca Juga: Mahasiswa Unram Bawa TuChips dan Tekembung, Pangan Lokal Lombok Tembus KMI Expo

Dengan demikian, guru madrasah tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan belajar mengajar. Guru juga dapat berperan sebagai penghasil gagasan yang ikut memengaruhi perkembangan pendidikan.

Karya  Azis mendapat sambutan melalui kata pengantar dari Guru Besar UIN Mataram Prof. Dr. Hj. Lubna.

Dukungan tersebut menjadi tambahan motivasi bagi Azis untuk terus menghasilkan karya yang dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, khususnya bagi para guru madrasah.

Baca Juga: CKS Kota Mataram Tinggal Tunggu Pertek BKN

Azis berharap buku tersebut dapat menjadi jendela pengetahuan sekaligus ruang refleksi. Pengalaman yang dituangkan di dalamnya diharapkan memberikan nilai tambah bagi guru maupun masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pendidikan.

“Karya dan nama yang kita tinggalkan semoga dapat menjadi bagian dari warisan pemikiran bagi generasi muda dalam menyongsong Generasi Emas 2045,” ucapnya.

Bagi Azis, membangun budaya literasi harus dimulai dari lingkungan pendidikan. Guru memiliki posisi strategis dalam membentuk pola pikir generasi mendatang.

Baca Juga: LPKN Training Center Mataram Uji Kompetensi 30 Peserta PKK Platinum, 18 Siap ke Bulgaria

Karena itu, perjalanan 27 tahun sebagai guru madrasah tidak ingin berhenti sebagai catatan pribadi. Melalui buku Seni Menjadi Guru Madrasah, pengalaman tersebut diharapkan berubah menjadi pengetahuan yang bisa dibaca, direnungkan dan dikembangkan oleh guru lainnya.

“Semoga buku ini dapat menjadi motivasi dan membuka jendela pemahaman bagi pembaca sehingga setiap pengalaman yang ada di dalamnya dapat menjadi pembelajaran berharga,” katanya.

Editor : Pujo Nugroho
Sumber : Lombok Post
1. Abdul Azis Faradi 2. guru madrasah 3. buku guru madrasah 4. Seni Menjadi Guru Madrasah 5. 27 tahun menjadi guru