Unram Kembangkan Beras Merah Adaptif Lahan Kering di Lombok Utara

Jay • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 17:25 WIB
FOTO BERSAMA: Tim Pengabdian Unram foto bersama Kelompok Tani SP Papak dan perwakilan KWT di Dusun Papak, Desa Segara Katon, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, belum lama ini.
FOTO BERSAMA: Tim Pengabdian Unram foto bersama Kelompok Tani SP Papak dan perwakilan KWT di Dusun Papak, Desa Segara Katon, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, belum lama ini.

 

LombokPost- Riset Universitas Mataram (Unram) mulai menunjukkan hasil di lahan kering Lombok Utara. Pengembangan beras merah adaptif lahan kering melalui program pengabdian kepada masyarakat mampu menghasilkan rata-rata 4,76 ton per hektare.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tanaman kontrol yang menghasilkan 3,91 ton per hektare. Hasil itu menjadi salah satu capaian dalam program Pelatihan dan Diseminasi Teknologi Beras Merah Adaptif Lahan Kering: Dari Benih hingga Produk Olahan di Dusun Papak, Desa Segara Katon, Kecamatan Gangga, Lombok Utara.

Program yang berlangsung selama enam bulan, April hingga September 2026, tersebut menyasar Kelompok Tani SP Papak dan perwakilan Kelompok Wanita Tani (KWT). Sebanyak 30 peserta terlibat, terdiri atas 24 anggota aktif kelompok tani dan enam perwakilan KWT.

Baca Juga: Poltekkes Mataram Edukasi Songgak untuk Penderita Diabetes

Program beras merah adaptif lahan kering tersebut diketuai Dr. A. A. Ketut Sudharmawan. Tim juga melibatkan dosen Fakultas Pertanian Unram, yakni Prof. Dr. Ir. I Gusti Putu Muliarta Aryana, Ir. I Ketut Ngawit, Dr. Ir. Lestari Ujianto, dan Dr. Ni Wayan Sri Suliartini. Dua mahasiswa, Husnitalia Mayantika dan Putri Yunita Wahyuti, turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

Ketua Tim Pengabdian Dr. A. A. Ketut Sudharmawan mengatakan, program tersebut menjadi bagian dari upaya mentransfer hasil riset Unram kepada masyarakat. Fokusnya mengoptimalkan potensi lahan kering Lombok Utara melalui pengembangan padi beras merah mutan gamma yang memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lahan kering.

Pendekatan yang digunakan yakni Participatory Action Research (PAR). Petani tidak hanya menerima materi, tetapi ikut terlibat langsung dalam proses pengembangan teknologi. Mulai dari sosialisasi gizi, seleksi fisiologis benih menggunakan indikator lapang, budidaya hemat air, hingga pengolahan hasil panen dilakukan secara partisipatif.

Baca Juga: Rakorpim Unram Perkuat Riset dan Publikasi Internasional

Salah satu penerapannya dilakukan melalui demplot seluas 0,5 hektare. Dari demplot tersebut, beras merah adaptif mampu menghasilkan rata-rata 4,76 ton per hektare. Produktivitas itu lebih tinggi dibandingkan tanaman kontrol yang hanya mencapai 3,91 ton per hektare. Namun, program Unram tidak berhenti pada peningkatan produktivitas. Petani dan KWT juga diarahkan masuk ke tahap hilirisasi agar beras merah lahan kering memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

“Peserta dilatih mengolah beras merah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti tepung beras merah, cookies, hingga beras instan,” ujar Dr Ketut.

Penguatan kapasitas usaha turut diberikan. Petani dan KWT mendapatkan pelatihan penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), pembukuan keuangan sederhana, branding, hingga pemasaran digital. Langkah tersebut diharapkan membuat pengembangan beras merah adaptif Lombok Utara tidak hanya menghasilkan gabah dan beras. Produk olahan juga dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi kelompok tani.

Baca Juga: Analisis TKA Jadi Bekal SMPN 8 Mataram Hadapi TKA 2026/2027

“Produk yang dihasilkan diharapkan mampu memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan membuka peluang usaha baru bagi kelompok tani,” harapnya.

Dari sisi peningkatan kapasitas, program tersebut juga menunjukkan hasil positif. Berdasarkan evaluasi pre-test dan post-test, rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 55,5 menjadi 84,7 atau naik 52,6 persen. Tingkat kepuasan peserta juga tergolong tinggi. Sebanyak 93,3 persen peserta menyatakan kepuasan dalam kategori baik hingga sangat baik terhadap metode pelatihan langsung yang dinilai aplikatif.

Sejumlah luaran turut dihasilkan dalam program tersebut. Diantaranya laporan akhir, artikel populer, video edukasi, leaflet, prototipe produk olahan, serta dokumen tata kelola kelembagaan kelompok.

Baca Juga: Disdik Mataram Minta Sekolah Perketat Pengawasan Siswa

Kedepan, Dr Ketut berharap pengembangan beras merah adaptif lahan kering di Dusun Papak dapat terus berlanjut. Salah satu targetnya membangun bank benih mandiri sekaligus memperluas jaringan pemasaran produk olahan.

Pengembangan dari benih, budidaya hemat air hingga hilirisasi menjadi produk olahan menjadi rangkaian penting dalam program tersebut. Beras merah adaptif Lombok Utara diharapkan tidak hanya menjadi solusi mengoptimalkan lahan kering, tetapi juga membuka jalan bagi peningkatan nilai tambah dan kesejahteraan keluarga petani.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
4. Universitas Mataram 1. beras merah adaptif 2. beras merah adaptif lahan kering 3. Unram 5. Lombok Utara