SMPN 16 Mataram Biasakan Siswa Baca Buku Fiksi Tiap Rabu

Jay • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 18:41 WIB
GERAKAN LITERASI: Siswa SMPN 16 Mataram membaca buju fiksi di perpustakaan sekolah setempat, belum lama ini.
GERAKAN LITERASI: Siswa SMPN 16 Mataram membaca buju fiksi di perpustakaan sekolah setempat, belum lama ini.

 

LombokPost- Budaya membaca tak cukup dibangun lewat ajakan. Konsistensi menjadi kunci. Prinsip itu diterapkan SMPN 16 Mataram melalui program Gerakan Literasi Sekolah yang dikemas sederhana, tetapi dilakukan rutin setiap pekan.

Setiap Rabu pagi, siswa di sekolah itu meluangkan waktu 40 menit untuk membaca buku fiksi sebelum pembelajaran dimulai. Kegiatan literasi siswa itu dimulai pukul 07.15 Wita. Para ketua kelas bertugas mengambil koleksi buku fiksi dari perpustakaan. Buku-buku itu kemudian dibawa ke ruang kelas masing-masing untuk dibaca bersama.

Rutinitas itu menjadi cara sekolah menumbuhkan budaya membaca sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa menikmati bacaan di luar buku pelajaran.

Baca Juga: Rakorpim Unram Perkuat Riset dan Publikasi Internasional

Kepala SMPN 16 Mataram Burhanuddin mengatakan, kegiatan membaca berlangsung cukup kondusif. Kondisi itu didukung jumlah siswa dalam setiap kelas yang relatif ideal.

“Dengan jumlah murid yang relatif ideal, sekitar 26 hingga 30 siswa per kelas, aktivitas membaca berlangsung kondusif, baik di dalam ruang kelas maupun di area sekitarnya,” kata Burhanuddin, Selasa (6/10).

Menurutnya, pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah di SMPN 16 Mataram sebelumnya memiliki pola berbeda. Ketika sekolah masih menerapkan sistem enam hari sekolah, kegiatan literasi dipusatkan setiap Sabtu. Kala itu, sekolah mengalokasikan waktu untuk kegiatan literasi bersama komunitas. Kegiatan dimulai pukul 08.00 hingga 10.00 Wita.

Baca Juga: Analisis TKA Jadi Bekal SMPN 8 Mataram Hadapi TKA 2026/2027

Namun, penerapan kebijakan lima hari sekolah membuat pola itu harus disesuaikan. SMPN 16 Mataram kemudian mengubah kegiatan menjadi pembiasaan membaca rutin setiap Rabu pagi. Tak hanya mengandalkan kegiatan mingguan, sekolah juga sesekali menghadirkan tim perpustakaan daerah maupun kelompok penggiat literasi. Kehadiran pihak eksternal itu menjadi bagian dari upaya memperkaya pengalaman literasi siswa.

Kolaborasi itu memang belum dituangkan dalam kerja sama formal atau memorandum of understanding (MoU). Meski demikian, kegiatan tentatif yang berlangsung sekitar empat jam hingga waktu istirahat dinilai cukup efektif membangkitkan semangat siswa membaca.

Burhanuddin mengatakan, penguatan budaya membaca tidak bisa hanya mengandalkan penyediaan waktu. Sekolah juga perlu memastikan siswa memiliki akses terhadap bahan bacaan yang menarik dan beragam. Karena itu, buku fiksi menjadi salah satu pilihan utama. Variasi bacaan diharapkan membuat kegiatan literasi lebih menyenangkan dan tidak terasa sebagai beban bagi siswa.

Baca Juga: Disdik Mataram Minta Sekolah Perketat Pengawasan Siswa

“Melalui penyediaan buku fiksi yang beragam, kami optimis gerakan literasi mampu membentuk budaya membaca yang berkelanjutan serta memperluas wawasan para siswa,” pungkasnya.

Editor : Pujo Nugroho
Sumber : Lombok Post
1. SMPN 16 Mataram 2. Gerakan Literasi Sekolah 3. literasi siswa 4. budaya membaca 5. membaca buku fiksi