LombokPost-Universitas Mataram (Unram) memperkuat kolaborasi riset internasional dan hilirisasi penelitian untuk membangun budaya ilmiah atau scientific culture di lingkungan kampus. Langkah ini diarahkan agar hasil riset dosen tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi industri dan masyarakat.
Penguatan kolaborasi riset internasional tersebut mengemuka dalam Workshop Penguatan Kerja Sama Internasional untuk Membangun Scientific Culture. Kegiatan ini menghadirkan Rektor Unram Prof. Dr. Sukardi dan Staf Khusus Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Bidang Industri dan Kerja Sama Luar Negeri Oki Earlivan Sampurno.
Dalam forum tersebut, Unram menegaskan komitmennya membangun ekosistem riset yang lebih kolaboratif, produktif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Hilirisasi riset juga menjadi perhatian agar pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Baca Juga: Simulasi TKA di KCD Dikpora Wilayah I Tembus 90 Persen, Sekolah Diminta Siapkan Komputer Cadangan
Rektor Unram Prof. Dr. Sukardi menyampaikan, arah penelitian Unram pada 2027 akan difokuskan pada riset kolaboratif. Untuk mendukung kebijakan tersebut, kampus menyiapkan dua program utama yang diharapkan mampu memperkuat budaya ilmiah sekaligus memperluas jejaring akademik internasional.
Program pertama berupa hibah guest lecture yang diarahkan untuk membuka ruang pertukaran pengetahuan dan membangun kolaborasi akademik internasional bagi dosen. Melalui program ini, dosen diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk berinteraksi dengan akademisi dari berbagai negara dan mengembangkan penelitian bersama.
Program kedua adalah celebrate, berupa pemberian remunerasi 100 persen bagi dosen yang memiliki scientific culture. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong lingkungan akademik yang mendukung produktivitas ilmiah dan pengembangan riset.
Baca Juga: Toprak Razgatlioglu Sambangi SMAN 3 Mataram, Bakat Balap Siswa Didorong
Prof Sukardi juga menyinggung kemungkinan penataan dan penggabungan program studi kedepan sesuai arahan kementerian. Langkah tersebut menjadi bagian dari penyesuaian arah pengembangan perguruan tinggi terhadap kebutuhan pendidikan tinggi dan dinamika keilmuan.
Sementara itu, Oki Earlivan Sampurno menekankan, bahwa penguatan budaya ilmiah harus berjalan beriringan dengan hilirisasi riset. Menurutnya, perguruan tinggi perlu membangun pola pikir yang mampu menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan industri melalui penelitian yang menghasilkan solusi nyata.
Dia menegaskan, produk utama universitas adalah pengetahuan. Karena itu, pengetahuan yang dihasilkan melalui riset perlu dikembangkan agar memberikan manfaat lebih luas, termasuk menciptakan nilai ekonomi.
Baca Juga: TKA Berpeluang Masuk Jalur Prestasi SPMB SMA/SMK NTB, Nilai Rapor Tetap Diperhitungkan
“Bukan hanya mengandalkan pendapatan mahasiswa maupun penyewaan fasilitas kampus,” ucap Oki.
Menurutnya, komersialisasi hasil penelitian dan pemanfaatan paten menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem hilirisasi riset. Perguruan tinggi perlu memastikan hasil penelitian dapat dimanfaatkan perusahaan dan menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Salah satu langkah yang dapat ditempuh ialah memperkuat lembaga alih teknologi atau Technology Transfer Office (TTO). Lembaga ini berperan menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan industri, mulai dari pengembangan inovasi hingga peluang pemanfaatan dan komersialisasi teknologi.
Baca Juga: Disdik Mataram Minta Sekolah Perketat Pengawasan Siswa
Dengan pendekatan tersebut, riset perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah atau pencapaian paten. Hasil penelitian juga diharapkan berkembang menjadi produk, teknologi, dan inovasi yang memiliki dampak nyata.
Oki turut mendorong Unram mengoptimalkan potensi kawasan Mandalika sebagai pusat kolaborasi riset antara perguruan tinggi dan dunia industri. Kawasan tersebut dinilai memiliki peluang untuk menjadi ruang pengembangan penelitian lintas sektor, mulai dari perikanan, pariwisata, hingga industri.
Salah satu gagasan yang disampaikan ialah pembentukan Research Center Unram Mandalika. Pusat riset tersebut diharapkan mengintegrasikan berbagai bidang keilmuan untuk menghasilkan solusi berbasis penelitian sesuai kebutuhan kawasan Mandalika.
Baca Juga: Formasi Guru NTB Dipetakan, Guru Produktif SMK Jadi Prioritas
Keberadaan pusat riset itu juga berpotensi memperluas kolaborasi Unram dengan mitra internasional dan kementerian terkait. Dengan demikian, pengembangan kawasan Mandalika tidak hanya bertumpu pada aktivitas ekonomi, tetapi juga didukung inovasi dan hasil penelitian perguruan tinggi.
Oki menilai Unram memiliki peluang menjadi penghubung sekaligus penggerak pengembangan hasil riset di kawasan tersebut. Gagasan pembentukan Research Center Unram Mandalika akan disampaikan kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk memperoleh arahan lebih lanjut.
“Dukungan kebijakan dan penganggaran yang berorientasi pada komersialisasi menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem hilirisasi riset yang berkelanjutan,” ujarnya.
Baca Juga: Latihan Dua Bulan Berbuah Emas, Siswi MAN 1 Mataram Juara Pencak Silat
Melalui penguatan kolaborasi riset internasional, pengembangan budaya ilmiah, dan hilirisasi penelitian, Unram diharapkan mampu meningkatkan kualitas serta dampak penelitian. Upaya ini sekaligus membuka peluang agar inovasi kampus semakin terhubung dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Dengan arah riset kolaboratif pada 2027 dan gagasan pusat riset di Mandalika, Unram mendorong budaya ilmiah yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga menciptakan inovasi bernilai guna dan bernilai ekonomi.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post