Lindungi Generasi Muda Mataram, Cara Dikpora NTB dan Densus 88 Tekan Radikalisme di Sekolah

Pujo Nugroho • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 18:07 WIB
Dikpora NTB bersama Densus 88 dan siswa SMAN 1 Mataram usai sosialisasi.
Dikpora NTB bersama Densus 88 dan siswa SMAN 1 Mataram usai sosialisasi.

 

 

LombokPost - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikpora) NTB bersama Densus 88 Anti Teror wilayah NTB memperkuat benteng perlindungan generasi muda di sekolah. Langkah ini dilakukan melalui sosialisasi khusus untuk cegah radikalisme serta berbagai ancaman sosial yang membayangi para pelajar di SMAN 1 Mataram, Sabtu (17/10).

”Ini penting agar kita dapat menjaga kreativitas generasi muda,” tegas Briptu Panji Ramadhan Abdilah, perwakilan Densus 88 Anti Teror NTB, saat memberikan pemaparan di hadapan ratusan siswa dan guru SMAN 1 Mataram.

Adi, sapaan akrab Briptu Panji, menilai sekolah dan lingkungan keluarga memiliki peran sentral dalam membentengi anak muda. Upaya cegah radikalisme tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus dimulai dari ruang kelas dan rumah. Dampingan Briptu Lalu Naufal turut memperkuat penyampaian pesan edukatif tersebut agar mudah dicerna oleh para siswa SMA/SMK sederajat.

Baca Juga: Dikpora NTB Siapkan Rangkaian Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan, dan Hari Guru 2026

Selain isu terorisme, kegiatan ini membedah ancaman lain yang kerap merusak masa depan remaja. Pengent Paguyuban Putri Remaja Indonesia NTB menghadirkan tiga finalisnya, yakni Devika, Brigitta, dan Putri. Ketiganya secara lugas memaparkan materi penting terkait bahaya pernikahan dini, kampanye stop narkoba, hingga tindakan stop bullying yang masih sering terjadi di lingkungan sekolah.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kepemudaan Dikpora NTB H. Tarmidzi menegaskan, perlindungan pelajar merupakan fondasi utama untuk mencetak SDM unggul. Pemprov NTB berkomitmen memastikan proses belajar siswa berjalan lancar tanpa hambatan sosial maupun ancaman paham radikal.

”Sosialisasi ini adalah upaya pencegahan guna mengasah minat belajar dan berorganisasi,” ujar Tarmidzi.

Baca Juga: Dikpora NTB Mulai Seleksi Pemuda Pelopor Desa NTB dari Kabupaten Sumbawa Barat

Pria yang akrab disapa Ajik ini menambahkan, sekolah harus bertransformasi menjadi zona nyaman dan tempat paling aman dalam membentuk karakter anak. Langkah cegah radikalisme dan edukasi bahaya pernikahan anak menjadi kunci penting agar siswa bisa meraih prestasi maksimal demi mendukung misi NTB Makmur Mendunia.

Ia pun mendorong agar seluruh siswa SMAN 1 Mataram berani keluar dari zona nyaman selama menuntut ilmu. Pembentukan mental yang kuat tidak hanya bertumpu pada pencapaian akademik di dalam kelas, tetapi juga lewat keterlibatan aktif dalam kegiatan organisasi.

”Pelajar harus berani keluar dari zona nyaman, harus berani berorganisasi agar mentalnya kuat,” pungkasnya.

Antusiasme siswa terlihat tinggi sepanjang acara berlangsung. Setelah sesi materi selesai, tiga finalis Putri Remaja Indonesia NTB langsung memandu dialog interaktif melalui kuis dan tanya jawab. Pertanyaan yang diajukan berfokus pada langkah nyata cegah radikalisme, bahaya penyalahgunaan narkoba, serta cara menghentikan aksi bullying di lingkungan sekolah.

Editor : Pujo Nugroho
Sumber : Dikpora NTB
Dikpora NTB Cegah Radikalisme pendidikan sman 1 mataram Densus