Di media sosial misalnya, polarisasi anak bangsa sangat terasa dengan munculnya cap kelompok sebagai “Cebong” dan “Kadrun”. Merambat ke dunia nyata dan merusak tatanan sosial dan politik.
Situasi ini sangat meresahkan. Terlebih semakin dekatnya momentum politik 2024.
Bila tidak segera direlaksasi, ketegangan akibat polarisasi itu dapat semakin besar mengancam keutuhan bangsa.
“Menuju konstelasi Pemilu Serentak tahun 2024 mendatang, salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk memberikan relaksasi sosial adalah dengan memperbanyak perjumpaan,” kata Ketua Umum PB NWDI TGB HM Zainul Majdi.
Keprihatinan mendalam ditunjukkan mantan Gubernur NTB dua periode itu. Para tokoh bangsa hingga elite politik sudah saatnya bahu-membahu mengakhiri polarisasi ini.
Perjumpaan fisik akan membuat bahasa yang tidak tersampaikan melalui media sosial dapat terkomunikasikan dengan baik. Upaya tokoh bangsa untuk memperbanyak perjumpaan dengan seluruh rakyat akan mempersempit prasangka dan membuka lebih banyak harapan.
“Mari para tokoh bangsa, tokoh politik perbanyak perjumpaan. Dengan itu terasa teduh semua. Friksi, agitasi antar kelompok, labeling, akan dapat terkikis,” ajak TGB.
Rajutan kebersamaan melalui perjumpaan harus dipupuk kembali seperti sebelum media sosial menguasai kehidupan anak bangsa. Di tengah banyaknya manfaat media sosial, terbuka juga peluang hal negatif seperti informasi yang tidak utuh, diputarbalikkan, dan hal negatif lainnya membuat perpecahan semakin buruk terjadi.
Menurut TGB, agama Islam telah memberi tuntutan yang sangat baik dalam memelihara keutuhan sosial bermasyarakat. Seperti jangan mudah percaya pada isu dan mengutamakan tabayun melalui perjumpaan langsung.
“Agama akan memberi ilham. Mari para tokoh agama, bangsa, dan budaya kita ambil nilai yang terbaik demi merukunkan bangsa,” serunya.
Dalam kesempatan itu, cucu Pahlawan Nasional TGKH Zainuddin Abdul Madjid itu berharap Pemilu 2024 nanti tidak membawa kebencian lebih banyak lagi. Pemilu 2014 dan 2019 cukup dijadikan sebagai pelajaran berharga bahwa politik tanpa kontrol dapat merusak keutuhan bangsa.
Namun sejauh ini, belum terlihat ada upaya serius melebur polarisasi. Sehingga sisa kebencian akibat permainan politik di pemilu terdahulu berpeluang meledak kembali pada 2024.
“Ini kan seperti dejavu saja, ini seperti pra-2019, persis,” ujarnya.
Sebelum pemilu 2019 misalnya, tidak ada yang menduga perpecahan anak bangsa akan setajam ini. Setelah pemilu usai banyak yang menganggap perpecahan akan membaik kembali dengan sendirinya.
“Itulah potret kita, seperti tidak beranjak titik di mana kita berada pada titik yang sangat kritis pada 2019, kita menuju lubang yang sama,” ungkapnya khawatir.
Oleh karenanya, TGB kembali mendorong untuk siapa saja yang peduli pada masa depan bangsa berhati-hati. Terutama dalam memainkan isu dan sentimen politik.
“Kalau kita tidak segera bekerja berikhtiar bersama, maka kita akan sampai pada titik di mana kita sudah tidak tahu cara membenahi negara,” katanya mewanti-wanti. (zad/r2)
Editor : Administrator