“Jadi kalau kita lihat dari petanya penduduk kita yang terbanyak itu petani kemudian yang kedua UMKM,” katanya, kemarin (19/7).
Dua sektor ini menjadi lokus utama yang menyerap tenaga kerja di NTB. “Kalau UMKM dan petani digabung maka totalnya mencapai 50 persen dari angkatan kerja di NTB,” imbuhnya.
Intervensi yang dapat dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku UMKM dapat dilakukan dengan menambah nilai jual produk mereka.
“Artinya kalau petani pendapatan meningkat, misalnya pada harga bawang saja, karena ini murni produk petani, maka perputaran uang akan meningkat di NTB, begitu juga kita harapkan pada produk misanya jagung,” jelasnya.
Upaya pemerintah provinsi melalui Gubernur NTB meningkatkan nilai jual produk dianggap sudah tepat. Keberhasilan melobi itu pada akhirnya dapat membuat pertumbuhan ekonomi yang signifikan di NTB.
“(Pertumbuhan ekonomi) itu bisa lebih dari 2 persen,” ujarnya.
Dibanding dampak dari intervensi pada pendapatan di sektor formal. “Misalnya yang bekerja di sektor jasa atau pelayanan seperti pegawai, PNS, anggota dewan, itu nggak sampai 10 persen,” katanya.
Angka yang bekerja di sektor formal yang kecil persentasenya, membuat kenaikan pendapatan tidak signifikan mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kalau padi, jagung, atau produk UMKM yang naik, maka dampaknya akan terlihat bagi pertumbuhan ekonomi daerah, tapi kalau sektor formal yang naik sekalipun kenaikannya sampai 20 persen, itu dampaknya tidak terlalu terlihat bagi pertumbuhan ekonomi daerah karena bukan mayoritas,” jelasnya.
Upaya pemerintah provinsi meningkatkan nilai jual produk pertanian dan UMKM diapresiasi dan akan lebih mempercepat pertumbuhan ekonomi di NTB.
Sebelumnya, Gubernur NTB Dr H Zulkieflimansyah, bersyukur atas naiknya harga komoditi pertanian seperti bawang.
“Senang dan bersyukur mendengar harga bawang merah kita cukup tinggi saat ini, sehingga petani-petani bawang kita bisa tersenyum bahagia, Alhamdulillah,” katanya melalui salah satu akun media sosialnya.
Menurut Doktor Zul, sapaan akrabnya, selama belum masif Industrialisasi maka harga komoditas tradisional dan komoditas pertanian rentan fluktuatif.
“Jadi pas harga naik syukuri dan siap-siap juga mengantisipasi harga yang akan turun nanti. Pas harga turun ya sabar karena satu saat harga akan naik lagi, begitu seterusnya,” katanya memperingatkan.
Ia pun menekankan pentingnya Industrialisasi untuk menjaga harga produk agar lebih stabil. “Industrialisasi itu nggak harus identik dengan pabrik-pabrik besar yang mengepulkan asap penyebab polusi. Industrialisasi itu adalah kesadaran untuk mulai mengolah produk-produk tradisional kita di daerah kita sendiri,” katanya. (zad/r2)
Editor : Administrator