Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pemilu 2024 Pemilih Milenial dan Gen Z NTB Tembus 2,1 Juta

Administrator • Sabtu, 3 Juni 2023 | 01:44 WIB
DOKUMENTASI PEMILU 2019: Petugas memeriksa kotak suara Pemilu 2019 hasil pemungutan suara yang dikumpulkan di PPK. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
DOKUMENTASI PEMILU 2019: Petugas memeriksa kotak suara Pemilu 2019 hasil pemungutan suara yang dikumpulkan di PPK. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
MATARAM-Data KPU NTB menunjukkan segmen pemilih Milenial dan Gen Z mencapai angka 2,1 juta atau sekitar 54,04 persen se NTB . Ini berarti, pemilih Milenial dan Gen Z bakal memegang peranan utama dalam arus keterpilihan peserta pemilu 2024.

Ketua KPU NTB Suhardi Soud mengungkapkan bahwa data pemilih Milenial dan Gen Z di NTB dari sisi persentase mendekati jumlah secara nasional. “Di bawah 40 tahun, pemilih Milenial dan Gen Z secara nasional 116 juta atau sekitar 56 persen, kalau di NTB cuman 54 persen atau 2,1 juta,” ungkapnya, kemarin (1/6).

Mantan ketua KPU Sumbawa itu menilai segmen pemilih Milenial dan Gen Z dipastikan menguasai porsi terbesar pemilih di Pemilu 2024. “Merekalah porsi terbesar pemilih kita, dari generasi mereka,” tekannya.

Sebagai informasi, generasi Milenial atau generasi Y adalah mereka yang lahir antara tahun 1980-1996. Sedangkan Gen Z mengarah pada mereka yang lahir antara tahun 1997-2000-an. Saat ini dua generasi ini telah tumbuh besar dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk memilih.

“Maka kalau sosialisasi, salah satu strategi (untuk menyampaikan informasi tentang kepemiluan) adalah dengan menyasar anak-anak SMA dan mahasiswa,” paparnya

Data ini menurut Suhardi perlu diketahui parpol yang akan berlaga di Pemilu 2024. Para peserta pemilu tersebut perlu menyesuaikan diri dalam arti menyiapkan strategi yang sesuai dengan segmen pemilih dominan ini. “Dan (partisipasi mereka) ini, menentukan betul yang akan menjadi pemimpin besok,” tekannya.

Perlu ada strategi sosialisasi yang dilakukan parpol. Begitu juga KPU agar partisipasi pemilih tetap di angka yang tinggi. Sehingga dapat menjadi legitimasi yang baik bagi demokrasi bangsa.

“(Antara lain) lebih banyak menggunakan media sosial elektronik dan (dikombinasikan pula dengan) manual,” sarannya.

Mengingat Generasi Milenial dan Gen Z memberikan porsi yang besar pada dunia digital dalam kesehariannya. Sehingga ruang itu pula yang dapat dimaksimalkan untuk menyampaikan tentang pesan-pesan demokrasi yang ingin dicapai pada Pemilu 2024.

“Saya kira mungkin peraturan kampanye juga akan dilakukan perbaikan-perbaikan (sesuai dengan kondisi mayoritas pemilih),” ulasnya.

KPU NTB berharap Pemilu 2024 dapat mengulang kesuksesan Pemilu 2019 dalam hal partisipasi pemilih. Di mana tahun 2019 silam, partisipasi pemilih di NTB mencapai 82 persen.

“Ya kita berharap minimal di angka itu, sehingga kita akan gencarkan sosialisasi terhadap mereka (Milenial dan Gen Z),” paparnya.

Di samping itu, terkait partisipasi KPU berharap hal ini tidak hanya dibebankan sebagai tugas penyelenggara pemilu saja. Tetapi sebagai kerja kolaborasi seluruh stakeholder pemilu.

“Kalau kita tidak bekerja sama bisa turun, tapi kalau melihat pengalaman 2019 dengan dinamika politik yang sangat tinggi itu ternyata (berdampak) meningkatkan partisipasi pemilih,” pungkasnya.

Pengamat Politik Dr Ihsan Hamid pun sepakat bahwa para figur politik, baik itu Caleg ataupun Capres mesti mengubah strategi agar dapat diterima segmen pemilih Milenial dan Gen Z. Cara-cara kampanye konvensional yang banyak mengandalkan tatap muka dan baliho mesti diperluas dengan merambah dunia digital yang saat ini begitu akrab dengan dua generasi saat ini.

“Saya pikir di sinilah kecerdasan setiap Bappilu parpol meramu strategi, sebab kecermatan dalam membaca peta pemilih merupakan kunci memenangkan kontestasi,” tekannya.  (zad) Editor : Administrator
#Pemilu 2024 #Gen Z #Milenial #dct