Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Klaim Gerindra, Program MBG Dinanti  Warga  

nur cahaya • Senin, 3 Maret 2025 | 17:16 WIB

 

UJI COBA: Sejumlah siswa terlihat membawa nasi kotak dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu sekolah di Kota Mataram beberapa waktu lalu. 
UJI COBA: Sejumlah siswa terlihat membawa nasi kotak dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu sekolah di Kota Mataram beberapa waktu lalu. 

LombokPost - Ketua Fraksi Gerindra DPRD NTB Sudirsah Sujanto mengemukakan pandangannya terhadap sejumlah warga yang meminta pendidikan gratis.

Permintaan tersebut ditangkap sejumlah anggota DPRD NTB saat melakukan reses akhir Februari 2025 lalu. 

Menurut Sudirsah, apa yang ia temukan di Kabupaten Lombok Utara justru berkebalikan dengan temuan tersebut.

Di mana masyarakat di sana justru menginginkan dan menyambut baik program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

“Di KLU masyarakat sangat antusias, senang atas program nasional MBG yang dicanangkan bapak Prabowo Subianto. Justru masyarakat berharap program itu segera dilaksanakan di KLU," kata Sudirsah pada Lombok Post, Minggu (2/3). 

Bersamaan dengan itu, Sudirsah juga memastikan sarana dan prasarana MBG sedang dalam proses persiapan di KLU.

Menurutnya, DPC Gerindra KLU telah melakukan uji coba pada saat melaksanakan kegiatan HUT Partai Gerindra.

Dari beberapa titik yang dikunjungi, ia menuturkan respon warga sekolah sangat positif.

“Masyarakat justru sangat menyambut positif MBG ini. Mereka menilai, program Presiden Prabowo memperhatikan masyarakat, terutama para siswa dan siswi. Selain perbaikan gizi, anak-anak tidak perlu lagi pulang ke rumah atau harus sampai telat makan," jelasnya. 

Di saat yang sama, Sudirsah juga mengutarakan tanggapan masyarakat mengenai efisiensi anggaran yang dinilai negatif oleh sejumlah pihak. 

Wakil Ketua Komisi IV DPRD NTB itu menegaskan, pandangan tersebut perlu diluruskan. Dimana untuk pendidikan, justru Presiden Prabowo menambah anggarannya.

"Jadi kata efisiensi bukan hal yang harus dikhawatirkan, bukan seperti yang kita bayangkan. Justru efisiensi ini dilakukan Bapak Prabowo untuk menyelamatkan anggaran pemerintah dari kegiatan yang tidak penting menjadi penting," tegasnya. 

Sebelumnya, Anggota DPRD NTB dari fraksi PPP Muhammad Akri menjelaskan pernyataan konstituennya yang lebih memilih sekolah gratis dari pada makan bergizi gratis.

Aspirasi warga di bidang pendidikan itu ia terima pada saat menggelar reses di salah satu desa di Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah. 

“Ini membuat saya kaget juga. Jadi warga ini mengeluhkan SPP sebesar Rp 150 ribu sebulan. Anaknya sekolah di SMA Negeri 1 Praya Tengah. Menurutnya, sekolah gratis akan lebih membantu dari pada makan gratis,” ungkap Akri. 

Ketua Fraksi PPP DPRD NTB itu menjelaskan kegelisahan tersebut diamini oleh sebagian besar warga yang menghadiri resesnya. Mereka mengeluhkan biaya pendidikan yang tinggi. 

“Bahkan ada juga yang belum mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Ini terkonfirmasi. Tempatnya di Desa Darmaji, Dusun Montong Asih,” jelasnya.

Makan Bergizi Gratis Tetap Berjalan Selama Ramadan

Sementara itu program makan bergizi gratis (MBG) akan berjalan normal selama bulan puasa. Artinya, siswa yang sekolahnya sudah masuk daftar penerima manfaat tetap mendapatkan jatah MBG sepanjang Ramadan.

Bagi siswa yang berpuasa, mereka diperbolehkan membawa pulang paket MBG dari sekolah dan menyantapnya saat waktu berbuka.

"Yang tidak puasa, ya silakan dikonsumsi," kata Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana seusai mendampingi Presiden Prabowo di Lanud Halim, Jumat (28/2) petang.

Untuk daerah dengan mayoritas siswa nonmuslim, dia menyatakan, MBG bakal dibagikan sebagaimana biasanya. Namun, tim BGN akan lebih dahulu mengecek situasi di lapangan.

"Setelah sepekan, akan kami evaluasi. Kalau ternyata seluruhnya tidak puasa, layanan berlangsung normal," tuturnya.

Dadan menyatakan, penyajian menu MBG selama bulan puasa bisa disesuaikan dengan daerah sasaran.

Misalnya, pada daerah yang mayoritas siswanya berpuasa, MBG bisa ditambah menu takjil seperti kurma.

"Untuk daerah yang mayoritas tidak puasa, mungkin tidak perlu ada takjil. Cukup menu biasa saja," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, dia juga menjelaskan kasus makanan belum matang di Nusa Tenggara Timur yang viral di media sosial.

Dadan memastikan, kasus tersebut terjadi di satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) baru.

Dari penelusuran, petugas SPPG itu belum terbiasa memasak dalam jumlah besar.

’’Memasak dalam jumlah besar memang butuh adaptasi. Bisa masak di rumah untuk 10 orang belum tentu bisa masak untuk 150 orang,’’ tuturnya. (tih/jpg/r2)

Editor : Kimda Farida
#makan #bergizi #pernyataan #warga #Pelayanan #Mbg #adaptasi #efisiensi #pemerintah #Anggaran #gratis #program