LombokPost – Bawaslu NTB menggelar rapat penguatan kelembagaan dengan mitra kerja pada Selasa-Kamis (19-21/8).
Momen ini menjadi ruang evaluasi penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada Serentak 2024 dengan menghadirkan sejumlah pembicara. Salah satunya Anggota Komisi II DPR RI Fauzan Khalid.
Ketua Bawaslu NTB Itratip mengatakan kegiatan penguatan kelembagaan Bawaslu bertujuan untuk menghimpun dan menyerap aspirasi demi memperkuat peran Bawaslu.
Khususnya mewujudkan demokrasi yang substansial dan berkualitas.
Pesertanya dihadiri anak-anak muda dari organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) serta aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Lembaga pengawas pemilu itu berharap pada semangat dan energi anak-anak muda untuk memperkuat demokrasi yang berkualitas.
"Anak muda yang tergabung dalam OKP dan BEM adalah generasi yang belum terkontaminasi oleh politik praktis. Sehingga kami ingin menggandeng mereka untuk memperjuangkan terwujudnya demokrasi yang substansial dan demokrasi yang berkualitas," papar Itratip.
Dia berharap forum tersebut dapat menjadi sarana menampung aspirasi dari tokoh pemuda, mahasiswa dan OKP sebagai mitra kerja Bawaslu NTB.
Khususnya dalam memperkuat fungsi pengawasan untuk mencegah berbagai pelanggaran.
Dengan demikian, Bawaslu dapat semakin siap melaksanakan fungsi pengawasan, pencegahan, serta pendidikan politik kepada masyarakat.
"Tanpa keterlibatan anak-anak muda maka kecil kemungkinan demokrasi yang sehat yang substansial itu dapat kita bangun," ujarnya.
Itratip juga menyinggung soal praktek politik uang yang masih marak terjadi pada setiap event politik.
Praktek kotor yang bisa menghancurkan mimpi generasi muda masa depan.
"Politik uang itu merupakan tantangan yang bisa menghancurkan mimpi generasi-generasi muda yang berkualitas," cetusnya.
Oleh karena itu, dirinya mengajak semua pihak terutama para pemuda dan mahasiswa untuk ikut terlibat aktif di ruang-ruang publik dan lingkungan sekitar untuk bersama-sama memberikan pendidikan politik berkualitas kepada masyarakat.
Jangan sampai mahasiswa yang telah belajar ilmu politik secara sistematis tetapi tidak bisa menularkan hal itu ke masyarakat.
"Anak-anak muda ini menjadi mitra strategis Bawaslu. Selain punya idealisme, mahasiswa juga sangat akrab dengan dunia media sosial dan digital. Ini bisa mempercepat penyebaran informasi dalam membangun nilai demokrasi yang lebih baik ke depan," pungkas Itratip.
Editor : Kimda Farida