LombokPost – Dukungan terbuka TGH Mujiburrahman kepada Edy Sofyan tidak sekadar soal Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Kota Mataram. Sikap itu dibaca pengamat politik sebagai bagian dari gaya khas sang tuan guru karismatik: tidak ambisius, namun tetap berpengaruh.
“Seolah menegaskan hadir untuk merawat aspirasi, bukan memburu jabatan,” kata pengamat politik UIN Mataram, Dr. Ihsan Hamid, Minggu (21/9).
Menurutnya, langkah ini memperlihatkan gaya kepemimpinan berbeda. Tidak frontal berebut kursi, tetapi tetap menjadi poros penentu arah partai.
Tradisi Golkar biasanya menempatkan figur elite—kepala daerah, wakil kepala daerah, atau pimpinan DPRD—sebagai ketua DPD. Namun kali ini, dukungan justru mengerucut pada Edy Sofyan, kader senior yang lama malang-melintang di internal partai.
Bagi Ihsan, keterbukaan TGH Mujib juga memberi sinyal kuat ke DPD I Golkar NTB. Posisi Mohan Roliskana sebagai ketua DPD I tentu punya peran penting dalam mengarahkan dinamika di Kota Mataram.
“TGH Mujib dengan sikap tanpa ambisi dinilai selaras dengan gaya kepemimpinan yang diinginkan Mohan,” ucap Ihsan. Loyal, dekat dengan masyarakat, dan tidak disibukkan ambisi pribadi.
Langkah ini bukan yang pertama. Saat Pilkada lalu, TGH Mujib awalnya enggan maju, namun akhirnya menjadi pasangan resmi yang diusung partai. Pola serupa kini kembali muncul jelang Musda Golkar.
Dengan sikap itu, TGH Mujib menjaga ruang kompromi dan memperkuat citra sebagai figur yang merawat aspirasi. “Tentu ini adalah seni pendekatan yang berbeda,” ujar Ihsan.
Kini, semua mata tertuju pada Musda. Forum itulah yang akan menguji seberapa besar pengaruh gaya politik tanpa ambisi ini menentukan arah Golkar Kota Mataram.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin