LombokPost – H Edy Sopyan yang ikut mendaftar sebagai calon ketua DPD II Golkar Kota Mataram tidak hadir dalam Musda IV Golkar Kota Mataram, Minggu (19/10).
Ia absen di arena musda yang digelar di Hotel Lombok Raya Mataram dengan memilih liburan ke Eropa.
"Selamat tinggal Musda abal-abal. Flight to Euro," tulis Edy dalam status WhatsApp-nya (WA).
Saat dihubungi Lombok Post, ia membenarkan bahwa dirinya tidak hadir dalam Musda IV DPD II Golkar Kota Mataram karena sedang liburan ke Eropa.
Pasalnya ia kecewa karena merasa telah dijegal dalam pemilihan calon ketua.
"Pineng tiang lihat Musda Golkar ini (Pusing saya lihat Musda Golkar Mataram ini, Red)," kata Edy Sopyan.
Padahal ia sudah lama melakukan konsolidasi internal. Bahkan sebulan sebelum Musda, ia mengklaim telah mengantongi dukungan dari enam pengurus kecamatan (PK) dan DPD II Kota Mataram.
Dia lantas mengirimkan bukti-bukti dukungan melalui pesan WA. Selain PK juga termasuk bukti dukungan dari ketua DPD II periode 2020-2025 TGH Mujiburrahman serta Sekretaris DPD II Usman TS.
Surat pernyataan dukungan itu diteken di atas materai pada 20 September 2025.
"Mendukung, mencalonkan, memilih dan memenangkan H Edy Sopyan sebagai ketua DPD Partai Golkar Mataram periode 2025-2030," bunyi surat dukungan itu.
Tapi setelah dilakukan verifikasi, dukungan tersebut dianulir oleh tim panitia Musda Golkar Mataram.
Edy menduga ada campur tangan pihak luar yang sangat kental. Sehingga para pemilik suara ramai-ramai mengalihkan dukungan ke Rino Rinaldi beberapa hari sebelum pelaksanaan musda.
"Saya merasa dijegal sehingga saya tidak hadir saja. Kalau DPP atau DPD I yang menentukan buat apa ada pemilik suara," cetusnya.
Seperti diketahui, Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Mataram Rino Rinaldi terpilih secara aklamasi untuk memimpin Golkar Kota Mataram periode 2025-2030.
Sekretaris DPD I Golkar NTB Firadz Pariska mengatakan aklamasi dari seluruh pemilik suara menandakan kematangan politik kader Partai Golkar.
Bahwa para kader, ujar dia, mengutamakan persatuan dan kekompakan demi kebesaran partai.
"Ini adalah tradisi Partai Golkar. Ini semata-mata bentuk kebenaran hati dari seluruh pemilik suara ingin bersatu untuk berama sama kompak dalam membesarkan partai," ujar Firadz.
Terkait Edy Sopyan yang juga mendaftar sebagai calon ketua, Firadz menjelaskan semua itu tergantung hasil verifikasi oleh panitia. Setiap pendaftar, papar dia, dilakukan verifikasi untuk mengetahui bukti dukungan minimal 30 persen pemilik suara.
Nah, jika ditemukan satu pemilik suara memberikan dukungan dobel ke lebih dari satu calon, tim panitia akan melakukan verifikasi faktual.
Caranya dengan menanyakan secara personal terkait dukungan yang benar. Mana calon sah yang didukung. Apakah calon A atau calon B.
Setelah menentukan secara pasti satu dukungan calon, maka akan diikuti dengan pencabutan berkas dukungan ke calon yang lain.
"Memang panitia kan menerima dua pendaftar (Edy Sopyan dan Rino Rinaldi, Red). Tapi yang lolos verifikasi cuma satu. Yaitu Rino Rinaldi. Artinya kalau daftar kan bisa aja banyak-banyak. Cuma kan nanti ada verifikasi bukti dukungan," papar Firadz.
Karena ada satu calon yang memenuhi persyaratan, sehingga dengan otomatis dilakukan aklamasi.
"Hasilnya seluruh pemilik suara dengan bulat mendukung Pak Rino," pungkas Firadz.
Editor : Kimda Farida